Menciptakan Kepemimpinan yang Melayani

Redaksi 27 Desember 2019

Saat berbicara dalam ajang Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah pada 25 November 2019 di Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengungkapkan konsep kepemimpinan yang melayani (servant leadership) yang diharapkan bisa diterapkan di dunia pendidikan.

Konsep servant leadership sebenarnya bukan hal yang baru dalam teori dan praktik kepemimpinan. Namun terbukti, konsep ini sangat relevan diterapkan di berbagai bidang.

Konsep servant leadership pertama kali dicetuskan oleh Robert K Greenleaf, vice president of American Telephone and Telegraph Company (AT&T), dalam buku The Servant as Leader. Dia menyebutkan di buku tersebut, seorang pemimpin harus menjadi pelayan terlebih dahulu. Menurut Sendjaya dan Sarros (2002), pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mengutamakan kebutuhan dan aspirasi orang lain ketimbang kepentingan mereka sendiri. Sedangkan menurut Spears (2002), pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mengutamakan pelayanan. Kemudian, menurut Trompenaars dan Voerman (2010), seorang pemimpin yang melayani adalah seseorang dengan keinginan kuat untuk melayani dan memimpin serta mampu menggabungkan keduanya sebagai hal yang saling memperkuat.

Konsep kepemimpinan yang melayani ini perlu untuk diwujudkan dalam dunia pendidikan. Implementasinya, semua rencana harus diawali dengan pertanyaan refleksi: “Apakah keputusan dan rencana ini akan berdampak positif terhadap para siswa?” Apabila jawabannya meragukan atau tidak ada sama sekali, maka tak perlu buang-buang waktu untuk membahasnya lebih jauh. Namun apabila pertanyaan itu bisa dijawab tanpa ragu-ragu, itu pertanda bahwa rencana tersebut layak untuk dibahas lebih jauh.

Kedua. Setiap pimpinan, baik di dinas maupun kementerian, pengawas hingga kepala sekolah, perlu bertanya-tanya kepada setiap orang yang dipimpinnya: “Apakah saya telah membantu mereka dalam mengerjakan tugasnya? Bagaimana saya bisa membantu mereka?”

Ketiga, seorang pemimpin harus dapat menciptakan suatu lingkungan yang aman bagi para bawahan untuk mencetuskan gagasan, termasuk melontarkan kritik terhadap pimpinan. Setiap pimpinan mesti memberi kesempatan kepada bawahan untuk berinovasi, menciptakan sesuatu yang baru yang dianggap perlu dan bermanfaat. Bila upaya itu gagal, pemimpin yang baik tidak akan menegurnya. Sebaliknya, memberikan apresiasi karena telah berani mencoba melakukan sesuatu yang baru, kemudian memberi masukan dan mendorongnya untuk mencoba lagi.  Seorang pemimpin harus tahu bahwa kegagalan adalah guru yang palin konsisten dalam mengajar.

Keempat. Seorang pemimpin yang melayani, harus berani bertanya kepada bawahan: “Bagaimana saya bisa menjadi pemimpin yang lebih baik untuk mereka?”

Pertanyaan reflektif di atas sangat penting karena akan memberi sinyal kepada mereka yang ditanya bahwa tugas seorang pemimpin adalah melayani. Dengan demikian, mereka pun dapat menginternalisasikan nilai-nilai tersebut ke lingkungan yang mereka pimpin.

Kelima. Seorang pemimpin yang melayani harus tak segan-segan turun langsung ke bawah untuk melihat bagaimana sesuatu dikerjakan.  Dalam dunia pendidikan, model ini mendorong setiap guru, kepala sekolah, bahkan pengawas sekolah, untuk turun ke kelas-kelas dan melihat bagaimana proses mengajar dan belajar berlangsung. Karena bagaimanapun, di kelas-kelas itulah semua ikhtiar untuk mencerdaskan anak bangsa dilaksanakan. Bukan di ruang-ruang rapat ataupun di kantor-kantor dinas.

Maka, penting bagi para guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk lebih banyak meluangkan waktu masuk ke dalam kelas dan mempelajari praktik-praktik baik yang bisa diadopsi dan mengevaluasi praktik-praktik yang dirasa perlu diperbaiki lagi.

Pertanyaan reflektif berikutnya: “Sudahkah kita semua melakukan itu?” (Bagus Priambodo/Sumbernarasi “You Tube Channel" Kemendikbud RI: https://www.youtube.com/channel/UCH9AFSwY4WqgHoCLG2XIveg/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google image)

Tags: