Mencermati Karakter Masyarakat Negeri Ginseng

Redaksi 09 Februari 2020

Motivasi - Setelah perjalanan di tengah udara dingin selama kurang lebih 12 hari di Seoul, Korea Selatan (Korsel) tahun lalu (19/11/2019 sampai 28/11/2019) bersama Kepala sekolah, para guru dan murid (siswa) total 17 orang dari SMA Lab Universitas Negeri Malang di rangkaian event: ASEAN and KOREA Celebrating 30 years of Friendship , ada beberapa pelajaran/pengalaman karakter yang sangat berharga bagi kami, yang bisa menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Furqon (2010:13) karakter adalah kualitas, kekuatan mental atau moral, akhak atau budi pekerti yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong, penggerak, serta membedakan individu satu dengan lainnya.

Beberapa karakter positif bangsa Korea Selatan yang tertangkap pandangan mata penulis selama di Seoul adalah sebagai berikut:

Nasionalisme: Ketika memutari kota Seoul hampir semua kendaraan yang terlihat adalah produk-produk dari Korea Selatan sendiri yaitu  KIA dan HYUNDAI.  Mereka sangat bangga akan hasil produksi kendaraan nasional, serta tidak mau menggunakan/memakai kendaraan di luar merk tersebut. 

-  Kerja keras: Bangsa Korea Selatan percaya bahwa kerja keras adalah kunci keberhasilan dalam meraih kesuksesan, apalagi jika ditunjang dengan bakat yang dimiliki. Dalam bidang Pendidikan murid-murid (siswa) sekolah, misal : murid SMA, mereka bahkan rela belajar hingga pulang larut malam untuk dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), sehingga banyak ditemui para pelajar di jalan menggunakan baju seragam sekolah hingga larut malam.

-  Cepat bergerak/pali-pali: Sudah menjadi kebiasaan setiap masyarakat Korea Selatan selalu cepat dalam berjalan kaki. Mereka ingin segera sampai di tempat tujuan dan menyelesaikan setiap tugas/pekerjaan. Dengan kata lain menjauhi sikap ‘malas‘.

Hanna seorang wanita pendamping tim waktu di Korea, sangat cepat dalam berjalan kaki, sering kami ketinggalan dalam berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan.

-  Tidak merasa tua: Para orang tua di Korea Selatan tetap bekerja keras, mereka tidak mau menjadi pengangguran.

Tidak pernah terlintas kata-kata, “Aku sudah Tua”.  Seperti sopir kami yang setiap hari mengantar di Korea Selatan sudah berusia di atas 60 tahun.

-  Hormat ke orang tua: Budaya di Korea Selatan diatur dengan hirarki, seseorang harus selalu menunjukkan rasa hormat kepada orang tertua. Pada hari-hari tertentu setiap anak akan memberikan sesuatu untuk orang tuanya.

Ketika murid-murid kami diberi kesempatan untuk tinggal di keluarga Korea Selatan tentunya mendapatkan pembelajaran tersebut.

-  Kesederhanaan/kesehatan: Yang menarik di Korea Selatan tentang makanan sederhana khas Korea Selatan.  Dulu ketika bangsa Korea masih hidup dalam kemiskinan, untuk mempertahankan diri dari kelaparan di musim dingin mereka makan ‘kimchi’, yaitu sejenis makanan tradisional Korea yang berasal dari Tiongkok salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi bertabur bumbu pedas. Setelah digarami dan dicuci, sayuran dicampur dengan bumbu yang dibuat dari udang krill, kecap ikan, bawang putih, jahe dan bubuk cabai merah.

Hingga kini ‘kimchi’ menjadi makanan utama yang selalu ada di meja makan, konon kabarnya dengan makan kimchi, tubuh akan semakin sehat serta kulit menjadi halus.

Karakter memang menjadi sangat penting bagi siapapun melakoni berbagai bidang/segi kehidupan di kesehariannya, termasuk untuk para insan edukasi yang telah berkomitmen/berbidang tugas memperbaiki, melakukan penjaminan dan memajukan/meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di tanah air, seperti penulis dan teman-teman di LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan), TPMPD (Tim Penjaminan Mutu Daerah), dan TPMPS (Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekokah)

Bila dihubungkan ke beberapa karakter masyarakat Korsel di atas, kami seharusnya 'tidak merasa tua' alias 'pembelajar sepanjang hayat', kami seharusnya 'cepat bergerak' alias 'produktif dan inovatif', kami seharusnya 'kerja keras' alias 'pantang menyerah serta tidak takut gagal', kami seharusnya sejak awal yakin akan rasa 'nasionalisme' alias 'tidak meremehkan kemampuan putra negeri sendiri' diantaranya 'talenta mendidik para guru penggerak', dan kami seharusnya memahami ‘kesederhanaan’ sebagai sebuah ‘tindakan-tindakan kecil yang simpel tapi bermakna dan mengena’

Apakah artinya tanpa karakter-karakter di atas, kegiatan penjaminan mutu pendidikan  di daerah tidak akan pernah visioner?

Ya atau tidak, pastinya tugas penjaminan mutu pendidikan seperti yang dilakukan LPMP akan semakin berat, selain diarahkan ke level “mengintervensi” kebijakan daerah di bidang pendidikan, LPMP sendiri rencananya akan menjelma menjadi Center of Excellent, tentunya ini makin “rumit” dan membutuhkan pribadi-pribadi yang militan

Sesuai arahan Plt. Dirjen Paud Dikdasmen Kemdikbud, Haris Iskandar PhD di acara audensi bersama Paguyuban Kepala LPMP di Kantor Kemdikbud akhir Januari lalu di Jakarta, ke depan Lembaga tempat penulis berkegiatan diminta aktif mendampingi, mengawal, serta memonitor pengembangan berbagai kebijakan pendidikan di daerah. Termasuk terlibat mengawasi penyusunan berbagai regulasi terkait pendidikan, baik Peraturan Gubernur, Peraturan Wali Kota mapun Peraturan Bupati.

Selain itu, diminta juga lebih tajam melihat berbagai permasalahan pendidikan di daerah yang tampaknya "hanyalah mimpi" bila SDM (Sumber Daya Manusia) pelaksananya jauh dan berlawanan arah dari nilai- nilai karakter di atas

Terkait pentingnya penanaman nilai-nilai karakter positif khususnya pada diri siswa, di acara yang sama, Plt. Sesditjen Paud Dikdasmen Kemdikbud, Dr.Sutanto turut menegaskan agar Kepala LPMP di tiap daerah/provinsi segera melakukan terobosan-terobosan pendampingan penjaminan mutu sekolah yang kreatif, inovatif, efektif serta berdampak, tidak hanya sebatas teori-teori yang mudah dilupakan berdasarkan panduan semata di lapangan tanpa improvisasi-improvisasi sederhana dan bermakna yang inspiratif (mengena) dan mampu memotivasi target pendampingan “berkehidupan” lebih baik, dan sejak 2019 lalu 'Pendidikan Karakter' memang telah menjadi salah satu muatan utama di pendampingan/supervisi mutu pendidikan di sekolah

Mengapa Pendidikan Karakter sangat penting?  Menurut Rutland (2009:1), karakter berasal dari akar kata bahasa latin yang berarti ”dipahat”. Sebuah kehidupan layaknya balok granit yang dengan hati-hati dipahat, ataupun dipukul secara sembarangan yang akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya, atau puing-puing yang rusak.

Karakter sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia, apakah generasi penerus akan menghasilkan ‘beragam mahakarya yang indah dan membanggakan’ atau justru memperbanyak dan memperparah ‘puing-puing yang rusak’.

Maka, dengan mengusung karakter-karakter di atas, kinilah saatnya kita mulai lembaran baru penjaminan mutu pendidikan di tanah air dengan lompatan-lompatan sederhana tapi penuh makna, ibarat kita sedang kasmaran ke dia, mohon maaf, seperti “saran” Ari Lasso di lagunya: “sentuhlah dia tepat di hatinya”

Semoga ini dapat menjadi “tetes inspirasi dan koreksi” bagi kita semua, khususnya para penggiat penjaminan mutu pendidikan di daerah, terlebih kebijakan baru Mendikbud Nadiem Makarim, ‘Merdeka Belajar’ dengan keseriusan disertai berbagai tujuan revolusionernya tidak akan mampu berjalan dengan baik tanpa kesungguhan dan karakter positif dari para pelakunya. (Dr. Wahyu Nugroho, Penyusun Program Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan  LPMP Jawa Timur & Bagus Priambodo, Pengelola Website LPMP Jawa Timur/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari foto dokumentasi Dr. Wahyu Nugroho selama berkegiatan di Korea Selatan)

Tags: