Mempermudah Sekolah Mengisi EDS

22 September 2020

Dari tahun ke tahun, aplikasi PMP (EDS (Evaluasi Diri Sekolah)) semakin berkembang dan memudahkan sekolah untuk mengisinya.

Mulai dari sumber data, metode kirim, hingga hitung rapor mutu, semua berubah menjadi lebih mudah.

Hal tersebut diungkapkan Hendri Gunawan Ardy dari Satgas Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) Sesditjen PAUD Dikdasmen Kemdikbud dalam acara Bimtek Percepatan Pengumpulan Rapor Mutu Sekolah Daring Tahun 2019 Angkatan 5, beberapa saat lalu (Kamis, 6/8/2020).

Perubahan pertama dari sumber data, pada 2016-2018, data menggunakan sumber dari dapodik lokal sekolah (guru dan siswa).

Sedangkan, pada 2019 data menggunakan sumber dari server pusat (guru dan siswa).

"Artinya sekolah harus sinkronisasi dulu ke pusat, karena dipandang lebih stabil, ini hasil diskusi dari kawan-kawan dispodik," jelasnya.

"Kenapa tidak pakai data dari lokal saja? Ini bukan PMP yang memutuskan, jadi dari dapodik juga memberikan masukan, data yang lebih valid yang sudah disinkron."

Perubahan kedua dari metode kirim data, pada 2016-2018 tidak bisa mengirim data sebelum proses pengisian selesai 100 persen di sekolah.

Sedangkan, pada 2019 metode sinkronisasi memungkinkan sekolah mengirim data tanpa menunggu proses selesai di sekolah.

"(Untuk metode lama) ada plus minusnya, yang pertama plusnya yang dikirim pasti 100 persen, minusnya ketika akhir masa pendataan, biasanya bikin macet karena ukuran filenya sekitar waktu itu masih 2-10 MB," katanya.

"Jadi ketika dikirim, server maupun infrastrukturnya nggak mampu, banyak kasus tidak terkirim karena kesalip sama yang jaringannya bagus, di statusnya selesai dikirim tapi ternyata nggak terkirim sehingga rapor mutunya nggak terproses."

Ketiga, perubahan penyimpanan data, di 2016-2018 back up data berbasis file, disimpan di lokal.

Sedangkan di 2019, back up data berbasis sinkronisasi dan disimpan di server pusat.

"Kalau ada sekolah yang susah sinkron, dulu itu sampai ada pelayanan kirim email, sehingga email penuh dengan kiriman data se-Indonesia sampai sempat dibanned akunnya," ungkapnya.

"Sekarang diganti dengan metode sinkronisasi, ini tanpa batas, batasnya hanya bandwith dan sinyal di daerah, kalau kapasitas server di pusat Insya Allah sudah mumpuni."

Keempat perubahan tampilan (antarmuka aplikasi), dulu tampilannya hanya desktop, tidak responsif di ponsel maupun tablet.

Kini, tampilannya bisa responsif di ponsel, tablet, gadget sejenisnya.

Kelima, ada perubahan peran pengawas.

Jika dulu mengisi instrumen di aplikasi sekolah, kini sebagai verifikator dan validator rapor mutu sekolah.

"Dulu relatif pengawas ngisinya harus di sekolah, karena aplikasi dan laptopnya dipegang oleh kepala sekolah atau operatornya di sekolah, jadi pengawas mau nggak mau harus datang," katanya.

"Sekarang, karena fungsinya sebagai verifikator dan validator yang mengecek rapor mutu sekolah, bisa dilakukan online."

Keenam, integrasi data dapodik juga mengalami perubahan, dulu database lokal sekolah, sekarang server dapodik dan PMP.

"Jadi kita mengambil data-data yang sudah dikirim atau disinkron," ujarnya.

Terakhir, perubahan hitung rapor mutu, dari 8 standar di server pusat menjadi 6 standar di aplikasi sekolah (lokal) dan 2 standar di server pusat. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Perkembangan Aplikasi PMP (EDS) dari Tahun ke Tahun Makin Mempermudah Sekolah untuk Mengisi)

Tags: