Memperkenalkan & Menerapkan Konsep Berpikir Seorang Pemula

Redaksi 21 Desember 2021

Global Knowledge - Dalam agama Buddha, terdapat suatu ungkapan yang berbunyi ‘beginner’s mind (konsep berpikir seorang pemula)’. “Menyenangkan rasanya melihat sesuatu dari sudut pandang seorang pemula,” cetus Steve Jobs ketika ia bercerita tentang landasan kreavitasnya selama ini kepada para peserta konferensi. Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan konsep berpikir seorang pemula itu sendiri? Dan apa perannya dalam dunia pendidikan?
 
Di antara banyaknya komentar Einstein tentang pendidikan, salah satu yang paling dikenal adalah:
 
“Pendidikan yang sesungguhnya adalah sesuatu yang tersisa dan tetap kita ingat ketika kita telah melupakan semua hal yang pernah kita pelajari di sekolah.”
 
Menurut beliau, pendidikan bukan tentang subjek yang dipelajari melainkan tentang manusia itu sendiri sebagai subjeknya. Hal ini merupakan puncak momen formatif dalam kehidupan anak sekolah; saat-saat ketika tidak hanya pikiran saja yang diasah tetapi juga menyangkut seluruh diri manusia diasah dan distimulasi. Saat itulah otak kiri bertopang pada otak kanan; ketika rasa ingin tahu dan pemikiran inovatif lebih ditekankan daripada kepatuhan dan kesesuaian.
 
Walaupun sebenarnya kita sangat ingin menerapkan pandangan Einstein tersebut kepada masing-masing siswa, namun sepertinya sekolah memiliki tujuan institusionalnya sendiri. Tes pengetahuan akademik juga sering menghambat kegiatan yang dapat memerlihatkan potensi setiap anak. Pelajaran-pelajaran yang bertujuan memberikan informasi kepada para siswa malah semakin kurang merangsang imajinasi mereka. Oleh karena itu muncul pertanyaan:
 
Pendidikan apa yang dimaksud Einstein dalam ungkapannya itu?
 
Jawaban untuk pertanyaan ini tidak hanya ditujukan untuk diri saya sendiri tetapi juga untuk rekan-rekan saya. Saya mulai menulis esai beberapa tahun silam tentang momen-momen proses pembelajaran yang saya pelajari sebagai mahasiswa dan yang “tetap” saya ingat selama bertahun-tahun.  Saya didorong oleh seorang teman, seorang guru yang relatif baru saat itu, untuk terus menulis esai-esai ini sehingga dia “tahu apa yang harus dia lakukan dalam proses belajar mengajarnya dan bagaimana cara mengimplementasikannya”.  Saya akhirnya menyusun kumpulan esai-esai ini menjadi sebuah buku berjudul Beginner’s Mind yang berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini:
 
Bagaimana kita ingin guru mengajar, menginspirasi, dan membimbing anak-anak kita?
 
Jelasnya, kompilasi proses belajar megajar dalam ruang kelas yang ada dalam buku Beginner’s Mind tidak berasal langsung dari pengalaman saya sendiri melainkan dari proses belajar mengajar yang terjadi di ruang kelas 4, tepatnya Ruang 20 di SDN Johnson. Ruang kelas ini merupakan contoh yang tepat dari ungkapan Einstein bahwa proses pendidikan terjadi secara mendalam di bawah pengawasan tepat dari seorang guru kelas 4 yang luar biasa. Teknik pengajaran yang telah diasah selama 30 tahun saya mengajar berawal di Ruang 20.
 
Gelar pascasarjana sastra dan pendidikan dari Harvard dan Brown University memang benar memberikan saya kesempatan untuk berkembang dan mengajar, namun guru kelas 4 hebat bernama Catherine Arthur Dunning (siswa-siswanya memanggilnya Bu D) lah yang bisa membuat saya dan siswa-siswa berusia 10 tahunnya menjadi seorang pelajar sejati, bahkan guru. Dan ajaibnya, dia selalu bisa mempertahankan ruang kelas agar terus menerapkan konsep berpikir seorang pemula.
 
Apa itu beginner’s mind (konsep berpikir seorang pemula) dan mengapa kita membutuhkannya di kelas?
 
Berapapun usia seseorang atau apakah seseorang adalah seorang siswa di sekolah dasar atau seorang ilmuwan–melihat sesuatu dari sudut pandang seorang pemula dapat membuat kita menghadapi sesuatu dengan lebih terbuka, tanpa prasangka dan juga segala ekspektasi; pikiran yang tidak terpengaruh oleh penilaian atau prasangka yang telah ada sebelumnya. Hal ini adalah pangkal dari setiap inovasi.
 
Seorang astronom cerdas dan rekan-rekan saya menekankan pentingnya melihat sesuatu dengan pikiran terbuka, tanpa prasangka dan ekspektasi. Sains juga memiliki contoh: Pasteur (ilmuwan kimia Prancis yang menemukan mikrobiologi modern) terus-menerus memberikan peringatan tentang “kejamnya gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya”. T. H. Huxley (pendukung Darwin) menganjurkan para pembacanya untuk:
 
“Hadapilah sesuatu layaknya kamu adalah seorang anak kecil, bersiaplah untuk menghilangkan setiap prasangka yang kamu miliki tentang sesuatu, ikutilah dengan rendah hati dalam situasi sesulit apapun, jika tidak maka tidak ada hikmahyang bisa kamu petik.”
 
Steve Jobs, salah satu pendiri Apple Computer, pernah berkata, “Ada ungkapan dalam agama Buddha yang disebut beginner’s mind (konsep berpikir seorang pemula). Sangat menyenangkan rasanya berpikir seperti seorang pemula.” Jobs secara rutin menekankan konsep beginner’s mind sebagai pangkal dari rintisan teknologi luar biasanya yang dikenal dengan merek Apple. Marc Benioff, Ketua dan CEO Salesforce, pelopor terkemuka dalam cloud computing atau komputasi awan (proses pengolahan sistem daya komputasi, melalui jaringan internet yang menghubungkan antara satu perangkat komputer dengan komputer lain) juga setuju dengan manfaat penerapan konsep berpikir seorang pemula. Kedua sosok penting dalam dunia teknologi tersebut mengaplikasikan praktik Zen buddism ini dalam segala tindakan mereka, di mana imajinasi mereka tidak terpengaruh oleh para pengkritik dan opini dari “pakar-pakar” yang sudah terlebih dahulu ada. Ringkasnya, biksu Buddha Shunry Suzuki mengatakan:
 
“Dalam pikiran seorang pemula ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, namun dalam pikiran seorang ahli hanya ada sedikit.”
 
Bu D, guru yang merupakan sumber inspirasi utama buku Beginner’s Mind ini, mendorong siswa-siswanya dan bahkan mendesak mereka untuk menghilangkan dan mengubah pandangan mereka tentang takdir yang mereka percayai sebelumnya.  Hampir setiap anak di kelas 4 memiliki ayah dan kakek yang bekerja di perusahaan pembuat kapal besar yang ada di kota mereka.  Hampir sebagian dari mereka secara otomatis beranggapan bahwa masa depan mereka tidak akan jauh berbeda dari keluarga mereka–atau jika tidak secara langsung bekerja di perusahaan pembuat kapal, tetap saja mereka tidak akan terlepas dari bayang-bayang itu semua.
 
Dalam menciptakan budaya kelas yang mendorong siswanya memiliki konsep berpikir seorang pemula, Miss D membebaskan siswa-siswanya untuk menghilangkan masa depan yang katanya sudah terlihat jelas di depan mata dan tidak memerlihatkan keunikan setiap siswanya. Hasilnya langsung terlihat, proses belajar mengajarnya kini menjadi proses pembelajaran dengan penuh rasa ingin tahu–dipenuhi rasa penasaran dan ingin tahu 32 siswa berusia 10 tahun.
 
Mendorong para siswa agar memiliki konsep berpikir seorang pemula di dalam kelas sama artinya dengan mewujudkan pengalaman belajar untuk mendorong jenis pengalaman formatif yang Einstein anggap sebagai Pendidikan yang sebenarnya.  Penerapan konsep ini di ruang kelas diwujudkan dengan cara yang halus dan mendalam seperti yang tertera dalam buku Beginner’s Mind. Di bawah ini merupakan beberapa contoh dampak penerapan konsep berpikir seorang pemula terhadap guru dan siswa.
 
Contoh 1: Guru sebagai stimulator
 
Robert Frost mengaku, “Saya bukan seorang guru tetapi seorang stimulator.”  Ruang kelas yang menerapkan konsep berpikir seorang pemula memiliki guru yang menstimulasi harapan dan potensi dalam diri setiap anak, yang setelah bertahun-tahun disosialisasikan dan bertahun-tahun mengembangkan diri, mungkin merupakan potensi yang sempat terlupakan atau hilang dalam diri para siswanya—bakat terpendam atau mimpi yang terlupakan—yang Miss D sebut sebagai “benih yang tidak disiram.”
 
Contoh 2: Terlibat kembali dengan siswa hiperkinetik (siswa dengan gangguan perkembangan)
 
Ruang kelas yang menerapkan konsep berpikir seorang pemula adalah kelas di mana siswa hiperkinetik tidak diberi pengobatan secara rutin tetapi dibimbing untuk menyalurkan energi mereka. Bu D menyebut siswa hiperkinetik ini sebagai “orang sibuk” dan memberikan kebebasan bergerak bagi mereka. Ruang kelas yang mengedepankan konsep berpikir seorang pemula lebih menekankan kerja keras dan usaha daripada ketertiban serta realisasi diri daripada pengendalian diri yang berlebihan.
 
Contoh 3: Menghilangkan identitas institusional
 
Ruang kelas yang menerapkan konsep berpikir seorang pemula adalah kelas di mana para siswa membentuk identitas mereka sendiri.  Sayangnya, para siswa terbiasa dengan identitas “institusional” mereka seperti: Saya adalah salah satu dari “siswa yang baik” atau salah satu dari “siswa yang buruk”.  Di Ruang 20, hari Senin pertama setiap bulan adalah “Hari Bergerak”, hari di mana para siswa diberi kesempatan untuk mengidentifikasi kembali diri mereka secara fisik dan spiritual.  Ruang kelas yang menerapkan konsep berpikir seorang pemula ini mengajak para guru untuk mengevaluasi kembali hambatan-hambatan belajar sebagai usaha untuk menjadi lebih baik.
 
Kesimpulan
 
Saya akan menutup artikel ini dengan mengatakan bahwa sulit, bahkan tidak mungkin, untuk mendefinisikan beginner’s mind (konsep berpikir seorang pemula) secara pedagogis. Maksud dan tujuan dari kumpulan cerita di buku Beginner’s Mind ini adalah untuk menunjukkan konsep beginner’s mind itu sendiri dan gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran dalam ruang kelas berlangsung sehari-hari sehingga mereka dapat merasakan sendiri hasilnya nanti.
 
Pelukis Chagall mengatakan: “Jika saya menciptakan sesuatu dari hati, hampir semuanya berhasil; namun jika dari kepala, hampir tidak ada.” Hati dan kepala bekerja sama, otak kiri dan otak kanan bekerja sama, para anak dan guru pemberani merupakan sumber inspirasi dalam menulis buku Beginner’s Mind ini.
 
Artikel di atas ditulis oleh M.B. McLatchey dalam bahasa Inggris
 
(Bagus Priambodo/Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: