Memoles Ulang Wajah Pendidikan Kita

Redaksi 16 April 2020

Selama beberapa tahun terakhir, Kementerian pendidikan dan Kebudayaan RI seakan hendak melakukan perubahan paradigma pendidikan secara besar-besaran. Salah satunya melalui kebijakan sistem zonasi yang tampaknya membuat sekolah-sekolah favorit kehilangan daya magisnya.

Kemudian, di era Mendikbud Nadiem Makarim, dimunculkanlah konsep ataupun kebijakan merdeka belajar yang mendorong anak-anak untuk lebih kreatif. Dalam konsep Merdeka Belajar, cara mengukur kompetensi anak didik bukan dengan cara menerapkan standar yang sama terhadap semua siswa (murid). Sebab, ada kesadaran bahwa setiap anak lahir dengan bakat, kemampuan, serta minat yang berbeda. Tentu tidak fair (adil) apabila sesuatu yang berbeda-beda diukur menggunakan 'penggaris' yang sama.

Pada prinsipnya, apa yang dilakukan Kemendikbud melalui gebrakan-gebrakan seperti tersebut di atas adalah sebuah ikhtiar untuk mewujudkan manusia Indonesia yang seutuhnya. Lantas apa hakikat manusia itu? Lebih spesifik lagi, apa yang menjadi hakikat manusia Indonesia?

Mengenai manusia, menurut para filsuf, manusia memiliki dua elemen di dalam dirinya yang terdiri- dari jiwa dan raga. Menurut Plato (428-348 SM), jiwa berada di dalam tubuh. Setiap tubuh lahir dengan kondisi yang berbeda-beda. Demikian pula jiwa, mengalami dinamika yang berbeda-beda tergantung dari pengalaman-pengalaman yang dialaminya.

Bagi Plato, jiwa manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu nous atau akal, thumos atau semangat, dan ephitumia atau nafsu. Karena memiliki akal, manusia selalu memiliki hasrat untuk mempertanyakan dan mengetahui segala sesuatu.

Pendidikan sendiri adalah bagian dari pengalaman-pengalaman yang dirasakan oleh akal manusia. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak melalui pendidikan, harus diakui tidak muncul dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil dari konstruksi sosial yang dibangun lewat sistem pendidikan yang terus menerus dibangun sampai saat ini. Karena itu, dengan memahami bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang kreatif, sistem pendidikan seharusnya memberi ruang untuk terwujudnya bangunan kreativitas pada anak-anak.

Tujuan untuk menciptakan generasi yang kreatif sebenarnya secara tersirat sudah termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003. Dijelaskan di sana bahwa pendidikan adalah usaha yang dilandasi kesadaran dan terencana untuk menciptakan proses pembelajaran dan suasana belajar supaya murid dapat mengembangkan potensi diri secara aktif untuk mendapatkan keterampilan, akhlak yang mulia, kecerdasan, kepribadian, pengendalian diri, dan kekuatan spiritual keagamaan yang diperlukan oleh dirinya sendiri dan masyarakat.

Menciptakan kreativitas pada anak semestinya bukanlah sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah. Terlebih di momen darurat atau terdesak seperti saat ini ketika anak-anak mau tidak mau harus ‘dirumahkan’ karena wabah Covid-19.  ‘Seribu satu’ strategi belajar yang bisa diterapkan untuk mencapai tujuan mencerdaskan anak, seharusnya makin bermunculan khususnya dari para guru dan orangtua penggerak.

Karena biasanya semakin terdesak (kepepet), seseorang justru akan mengeluarkan berbagai kemampuan terpendam dan terbaiknya 

David Morley dalam bukunya: "Creative Writing" mendorong para guru bersemangat membuat tulisan kreatif dengan cara menekankan bahwa menulis adalah sebuah usaha penemuan atau penciptaan dunia baru yang belum ada sebelumnya

Strategi Morley tersebut sebenarnya dapat diadopsi oleh guru dan orangtua untuk memotivasi anak-anak agar lebih senang membaca buku, cerpen, komik, novel atau bacaan favorit positif lainnya, kemudian tergerak menuliskan kembali secara kreatif apa yang mereka pahami dari bacaan tersebut lewat tantangan ‘serunya menciptakan dunia baru’ pada halaman kosong lembar kertas atau page di file Word yang seolah-olah adalah ruang terbuka tak berpenghuni, namun sesuatu yang baru bisa saja muncul, ditemukan oleh anak-anak, dan tumbuh di sana bila mereka mau mencoba mengisinya dan berusaha kreatif dan imajinatif melalui pena atau ketikan tangan.

Ketika kita bisa melakukan lompatan-lompatan baru yang turut menumbuhkan kreativitas anak-anak kita tadi, barangkali itu salah satu hikmah yang dapat diambil dari pandemi ini. 

Sebab, dengan adanya Covid-19 di tengah kebijakan Merdeka Belajar saat ini, seolah semesta mendukung kebijakan tersebut, dan tanpa sadar kita telah melakukan transformasi pada budaya pendidikan. Kita yang dulu tak terbiasa mengajar melalui medium tele-conference, kini sudah mulai mahir, bahkan mungkin akan tergoda untuk menerapkan belajar darimana saja (tidak hanya dari sekolah atau rumah) di masa-masa mendatang ketika pandemi berakhir. Kita yang dulu terbiasa membanjiri anak-anak dengan tes-tes pilihan ganda yang lebih mempermudah penilaian, akan lebih menyukai memberikan tugas-tugas menyenangkan yang lebih mendorong dan memerdekakan kreativitas anak dibantu teknologi.

Semoga kita semua punya kesadaran yang sama bahwa situasi pahit yang terjadi pada bangsa ini sekarang, tidak dapat menjadi penghalang bagi upaya-upaya kita mencerdaskan generasi. Justru dengan ujian ini, mudah-mudahan makin banyak muncul sosok-sosok (pribadi-pribadi) kreatif dan inovatif di dunia pendidikan kita, yang tetap mampu memberikan yang terbaik dalam situasi yang buruk sekalipun

Hingga pada akhirnya, begitu semua badai ini reda, kita akan sama-sama tersenyum melihat anak-anak kita menjadi lebih bersemangat mengejar mimpi-mimpinya.(Bagus Priambodo/Judul asli catatan: Memoles Ulang Wajah Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

 

Tags: