Memerdekakan Gaya Belajar & Bakat Minat Siswa

Redaksi 20 Februari 2020

Sebagai orang tua, guru, maupun pelaku pendidikan, harus mampu mewujudkan merdeka belajar ini di tempat-tempat belajar untuk anak-anak atau para siswanya. Merdeka belajar bermakna memberikan kesempatan belajar secara bebas dan nyaman kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai dan gembira tanpa stres dan tekanan dengan memperhatikan bakat alami yang mereka punyai, tanpa memaksa mereka mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan di luar hobi dan kemampuan mereka.

Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus, yakni menerapkan merdeka belajar berdasar gaya belajar dan menerapkan merdeka belajar sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki anak atau siswa.

Merdeka belajar berdasar gaya belajar

Ada beberapa definisi tentang gaya belajar. Sebagaimana dikutip oleh Burhanudin (2014), menurut Fleming dan Mills, gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran. Drummond mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar. 

Perlu kita ketahui ada 3 tipe atau gaya belajar siswa, yakni visual, auditori, dan kinestetik. Gaya belajar visual menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Siswa dengan gaya belajar seperti ini akan mudah faham dan mengerti yang dipelajarinya dengan cara melihat atau membaca. Selain itu, tipe visual juga lebih nyaman belajar dengan penggunaan warna-warna, garis, maupun bentuk. Itulah mengapa, orang yang memiliki tipe visual biasanya memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai artistic, salah satunya paduan warna

Gaya belajar auditori mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Orang tipe auditori tidak mempermasalahkan tampilan visual saat belajar, yang penting adalah mendengarkan pembicaraan guru dengan baik dan jelas. Tipe auditori biasanya paling peka dan hafal setiap ucapan yang pernah didengar.

Gaya belajar kinestetik ini menyenangi belajar yang melibatkan gerakan. Biasanya orang tipe ini merasa lebih mudah mempelajari sesuatu tidak hanya sekadar membaca buku tetapi juga mempraktikkanya. Dengan melakukan atau menyentuh objek yang dipelajari akan memberikan pengalaman tersendiri baginya. Biasanya, orang yang memiliki gaya belajar tipe kinestetik biasanya tidak betah berdiam lama-lama di kelas.

Penerapan merdeka belajar akan terjadi bila siswa difasilitasi untuk belajar sesuai dengan cara/tipe mereka. Kita tidak bisa memaksa seorang anak harus belajar dengan cara yang kita inginkan karena masing-masing anak memiliki tipe atau gaya belajarnya sendiri. Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya. Proses belajar yang mereferensi kesesuaian gaya belajar anak/siswa akan mewujudkan kesenangan atau kenyamanan belajar (joyfull learning) dan kemudahan anak menguasai materi pelajaran Harus dihindari anak menurun prestasi belajarnya disekolah karena dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya.

Seorang guru yang menerapkan prinsip merdeka belajar harus mempunyai pemahaman secara utuh ciri-ciri semua siswa, dan mampu mengajar dengan menerapkan variasi metode mengajar yang memenuhi kebutuhan gaya belajar siswa. Guru harus terampil menerapkan ragam metode atau model pembelajaran yang menyenangkan, membuat siswa aktif, dan kreatif. Merdeka belajar mengharuskan guru untuk terus belajar meningkatkan kompetensi porfesional dan pedagogiknya sehingga bisa meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajarannya.

Merdeka belajar berdasar bakat, minat, dan kebutuhan

Bakat merupakan potensi bawaan yang dimiliki manusia sedangkan minat tercipta karena adanya ketertarikan kuat atas sesuatu. Oleh karena itu sebagai orang tua maupun guru, perlu mengenali dan memahami bakat dan minat anak-anaknya untuk menumbuhkannya.

Setiap individu itu unik, dalam arti setiap anak mempunyai bakat dan minat berbeda. Dalam kerangka merdeka belajar berimplikasi bahwa setiap bakat perlu memperoleh perhatian khusus. Sistem pendidikan yang menggunakan pola penyeragaman dalam memberikan layanan bakat dan minat anak kurang baik untuk digunakan.

Merdeka belajar bermakna setiap anak mampu mengenali potensi bakat dan minat masing-masing kemudian mendapat fasilitasi sesuai kebutuhannya. Anak perlu diberikan kesempatan untuk memilih jalur pengembangan bakat, minat, hobi, termasuk juga pendidikan. Setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi yang terbaik. Tak jarang pula orangtua memaksakan kehendaknya pada anak untuk menjadi ini dan itu. Alasannya demi kebaikan anak agar sukses kemudian hari. Namun, kadang kala mereka terlalu menekan meski tahu batas kemampuan si anak. Akibatnya anak mengalami stres. Ketika anak mengikuti pilihan orang tua yang tidak sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya bisa jadi hasilnya tidak optimal.

Anita Chandra (seorang psikolog) menyatakan jika orang tua melarang cita-cita anak dan memaksakan kehendaknya, dampaknya tidak akan baik ke anak, anak akan kehilangan motivasinya (Nadia, 2013). Di sini anak tidak merasakan merdeka belajar. Rhenald Kasali Guru Besar Universitas Indonesia berpesan, ”Jangan memaksa anak untuk belajar sesuatu atas keinginan orangtua, karena potensi anak tidak akan berkembang secara maksimal.”

Dalam mewujudkan merdeka belajar, konsekwensinya sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana pendukung serta pembimbingnya, Olahraga, seni budaya, pecinta alam, keagamaan, atau akademik merupakan beberapa aspek yang diminati atau adanya bakat pada siswa. Sekolah melalui guru pembimbing memberikan latihan, bimbingan,dan pendampingan secara berkelanjutan untuk mengembangkan bakat minat anak agar anak lebih matang. Alangkah baiknya bila bakat minat anak diwadahi dengan ekstra kurikuler, dan diberi kegiatan penyalurannya agar anak bisa terus mengembangkannya. Bakat atau minat yang ditekuni secara sungguh-sungguh akan berguna untuk kehidupan mereka maupun kelanjutan pendidikan berikutnya. Idealnya sekolah berfungsi laksana supermarket yang menyediakan ragam kebutuhan untuk pengembangan bakat minat para siswa, ini adalah wujud merdeka belajar.

Kata kunci dalam merdeka belajar adalah terwujudnya perasaan aman, nyaman, gembira dan jauh dari tekanan yang berlebihan. Kunci-kunci itulah yang menjadi landasan menuju kesuksesan belajar dan merupakan esensi merdeka belajar. Oleh karena itu setiap anak atau siswa perlu mengupayakan penciptaan perasaan tersebut dalam dirinya. Sedangkan pihak lain memberikan dukungan sesuai dengan fungsi dan perannya.

Referensi

Burhanudin, Afid. 2014. Gaya Belajar. Online. Tersedia pada: https://afidburha-nuddin.wordpress.com/2014/07/19/gaya-belajar-4/

Kompasiana.com.2019. Merdeka Belajar, Begini Penjelasan Nadiem. Online. Tersedia: https://www.kompasiana.com/humanioraaesthetic/ 5ddd2e98d541df5d6f3eae52/merdeka-belajar-begini-penjelasan-nadiem

Nadia, Putri. 2013. Cita-citaku atau Ambisi Orang Tuaku?.Online. tersedia pada: https://www.kompasiana.com/putrinadia/552a3d93f17e61466fd62424/citacitaku-atau-ambisi-orang-tuaku?page=all

Wikipedia. 2019. Merdeka. Online. Tersedia pada: https://id.wikipedia.org/wiki/ Merdeka

(Dr. Kusnohadi, Widyaiswara LPMP Jawa Timur/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari file dokumentasi sekolah-sekolah yang keunggulan/keunikannya pernah dimuat di rubrik inside school LPMP Jatim)

Tags: