Membumikan Lagi Teladan Ki Hadjar Dewantara lewat Implementasi Kurikulum Merdeka

Redaksi 16 September 2022

Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Sujarno M.Pd meminta para pendidik untuk kembali membumikan teladan bapak Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara.
 
Hal ini dia sampaikan ketika membuka Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka yang digelar BBPMP Jawa Timur dengan Komunitas Belajar Angonponik beberapa waktu lalu (Jumat, 9/9/2022).
 
Sujarno yang baru dilantik sebagai kepala BBPMP Jatim (dilantik pada 8 September lalu di Jakarta) mengatakan, Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara terkenal dengan slogan Ing Ngarso sung Tuladha, ing madyo Mbangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.
 
Artinya, yang di depan memberi contoh, yang di tengah membangkitkan semangat, dan yang di belakang, di tengah memberikan dorongan.
 
 
Menurut Sujarno, semboyan itu relate dengan cita-cita di balik Implementasi Kurikulum Merdeka.
 
Dia menyebutkan, selama pandemi Covid-19, para pendidik dituntut makin kreatif dan aktif demi menemukan solusi atau cara untuk keluar dari berbagai kesulitan belajar.
 
“Nah, semboyan dari Bapak Pendidikan itu harus kita terapkan agar kita makin kreatif. Di Workshop ini, yang sudah tahu atau yang sudah beberapa langkah di depan, harus memberikan contoh. Kemudian, bersama-sama membangun kolaborasi ini relevan dengan ing madyo mangun karso. Sedangkan yang di belakang, harus bisa memberikan dorongan atau motivasi,” tutur Sujarno.
 
Dia menegaskan, dalam implementasi kurikulum merdeka, hal yang paling penting adalah bagaimana mengarahkan anak untuk optimal di bidang-bidang yang dia kuasai.
 
“Anak-anak itu ibarat kertas kosong. Tetapi sejak lahir sudah punya kodratnya masing-masing. Itu akan lebih optimal bila didukung oleh lingkungan yang kondusif, baik oleh guru, orangtua, teman bermain, maupun lingkungan alamnya,” kata dia.
 
“Sedangkan tugas guru adalah ‘menebalkan’ garis-garis tipis kodrat anak supaya berkembang secara optimal, dan terwujudlah keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Jadi menurut saya, tugas berat para guru adalah mengidentifikasi bakat anak. Makanya dalam kurikulum merdeka ada asesmen diagnostik. Jadi jangan sampai salah mengidentifikasi, karena bisa berujung pada salah perlakuan,” imbuhnya.
 
Karena itu, untuk semakin memahami perannya, para guru diharapkan agar memahami implementasi kurikulum merdeka, seperti tujuan dari workshop tersebut.
 
“Selain memahami IKM, diharapkan para guru bisa memanfaatkan platform merdeka mengajar serta melakukan praktik implementasi kurikulum merdeka. Saya berharap, karena ini namanya workshop, nanti di akhir ada output atau produk yang dihasilkan, misalnya modul belajar,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: