Membuka Kunci Menuju Minat Baca Anak

Redaksi 20 Oktober 2020

Liputan Khusus - Untuk meningkatkan minat membaca yang berujung pada peningkatan kemampuan literasi, maka perlu untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan atau reading for pleasure.
 
Menurut Tati D Wardi, peneliti literasi yang juga anggota Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (Satgas GLS), terdapat dua kunci untuk mewujudkan minat baca anak.
 
“Dua kunci itu adalah rutinitas literasi dan akses buku,” ujar Tati saat menjadi narasumber dalam workshop membaca untuk kesenangan. Workshop tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam webinar bertajuk Sarasehan Literasi #8 yang digelar secara virtual beberapa waktu lalu.
 
Terkait rutinitas literasi, Tati mengatakan bahwa pada prinsipnya setiap hari anak-anak harus memiliki kesempatan untuk membaca, menulis, serta membicarakan apa yang dibaca.
 
“Ini berlalu tiap hari, baik ada tugas sekolah atau tidak. Rutinitas kegiatan literasi ini harus dilakukan setiap hari,” sambungnya.
 
Sedangkan terkait akses buku, Tati menyitir hasil penelitian dalam jurnal Research in Social Stratification and Mobility yang terbit tahun 2010. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa memberikan anak akses ke koleksi 500 buku atau lebih, berpengaruh positif pada tingkat pendidikan yang akan dicapai anak nantinya.
 
“Efeknya sama seperti anak yang diasuh orangtua berpendidikan. Jadi berikan buku sebanyak-banyaknya kepada anak,” kata perempuan yang juga dosen di UIN Jakarta tersebut.
 
Di masa pandemi Covid-19, ketika sekolah-sekolah dan perpustakaan banyak ditutup demi menghindari penularan virus yang lebih luas, Tati meyakinkan bahwa seharusnya akses buku tak menjadi kendala untuk memberikan akses buku seluas-luasnya kepada anak. Apalagi, semakin banyak organisasi yang concern memberikan akses bahan bacaan, baik secara daring maupun luring.
 
Selain itu, Kemdikbud pun telah memiliki koleksi buku digital yang berlimpah yang dapat diakses secara cuma-cuma.
 
“Laman badan bahasa Kemdikbud telah menyediakan ratusan koleksi buku dan bahan bacaan digital yang dapat diakses secara gratis untuk anak. Jadi pada dasarnya, tidak ada alasan kesulitan akses buku,” tutur peneliti SMRC yang pernah menempuh studi di Ohio State University Amerika Serikat tersebut. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Membuka Kunci Menuju Minat Membaca Anak/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

 

Tags: