Membuka Cakrawala Dunia Sejak Dini

Redaksi 16 Agustus 2018

Pendidikan adalah pemutus mata rantai kebodohan yang merupakan pintu masuk menuju kemiskinan. Namun, kemiskinan juga menjadi penyebab terhambatnya mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Pendidikan dalam arti luas adalah proses belajar, mendapatkan pengetahuan, memahami suatu pengetahuan dan mampu mempraktikkannya di dunia nyata. Pendidikan tidak hanya sekedar mendapatkan sekolah formal yang memungkinkan guru dan murid berada dalam satu ruangan dengan komunikasi dua arah dan dalam sistem formal yang menghasilkan ijazah sah dari pemerintah, akan tetapi sekolah informal ataupun belajar otodidak juga bisa dimaknai sebagai proses pendidikan.

Membaca adalah salah satu cara mendapatkan pendidikan. Aktifitas membaca bisa dilakukan sejak bayi meskipun bayi belum bisa bicara dan belum mampu memahami. Tapi membiasakan anak menyukai buku sejak dini akan merangsang anak mencintai buku. Efeknya, anak akan suka membaca. Dengan banyak membaca anak bisa belajar mandiri dan mendapatkan pengetahuan lebih banyak dan memiliki wawasan lebih luas melalui buku.

Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan sedikit pengalaman anak-anak selama Sekolah di Inggris.

Sistem pendidikan di Inggris

Jenjang pendidikan di Inggris itu dimulai sejak nursery, primary school, secondary school, high school dan university. Lama waktu pendidikan di nursery adalah 1 tahun kemudian dilanjutkan di primary school selama 7 tahun. Sekolah secondary school dan high school di Inggris diselesaikan selama 5 tahun. Setelah itu anak bisa memasuki ke jenjang akademi atau lanjut ke university.

Tidak seperti di Indonesia, anak di Inggris harus masuk ke sekolah sejak usia 3-4 tahun. Usianya dihitung per 1 September. Misal, untuk ajaran 2017-2018, anak yang bisa masuk ke nursery  adalah anak yang lahir di bulan setelah tanggal 1 September 2013 sampai Agustus 2014. Anak pada kemampuan apapun, namun pada usia tersebut harus masuk sekolah, dia akan dimasukkan ke kelas sesuai dengan usianya, bukan berdasar kemampuannya. Dengan sistem ini, di Inggris tidak ada istilah tinggal kelas.

Karena anak diwajibkan sekolah, pemerintah Inggris berkomitmen memberikan pendidikan gratis dari usia tiga tahun hingga SMA. Anak usia tiga tahun masuk ke Nursery atau TK. Setelah itu, anak masuk Primary School atau Sekolah Dasar. Berbeda dengan Indonesia, sebelum masuk ke Year 1 atau kelas 1 SD, anak di Inggris masuk ke Reception yang merupakan persiapan SD. Anak yang masuk Reception ini usianya 4-5 tahun. Anak akan memasuki kelas 1 SD ketika usia 5-6 tahun.

Membaca sejak dini

Hal yang menarik ketika berada di Inggris adalah banyak orang tua membiasakan anak-anaknya membaca buku sejak dini. Tidak hanya satu dua kali saya melihatnya, ibu muda yang punya anak bayi menenteng buku bacaan dan membacakan buku untuk bayinya tanpa peduli apakah bayi mengerti atau tidak. Ketika main di taman, sering saya jumpai di dalam kereta dorongnya ada buku dan mainan. Buku seperti menjadi barang wajib dibawa ketika keluar rumah.

Buku untuk anak-anak balita kertasnya tebal. Tulisannya sedikit dan banyak ilustrasi gambarnya. Untuk anak yang lebih besar, tulisannya semakin banyak dan semakin berkurang gambarnya. Masih anak-anak sudah dibiasakan untuk mencintai buku, meski tulisannya sedikit.

Waktu sekolah di nursery dimulai jam 08.45 pagi dan berakhir di jam 15.15 sore. Namun, pemeritah Inggris hanya memberi subsidi (gratis Sekolah) bagi anak-anak di kelas nursery hanya 15 jam selama seminggu. Jika menginginkan penuh waktu selama seminggu, dari Senin hingga Jumat, sisanya harus membayar ke sekolah. Waktu 15 jam ini biasanya dibagi menjadi dua pilihan. Pertama, full day, yaitu mulai jam 08.45 hingga jam 15.15 untuk hari Senin dan Selasa, dan half day yaitu mulai jam 08.45 hingga jam 11.00 di hari Rabu. Kedua, half day di hari Rabu, yaitu jam 13.00 sampai jam 15.15, dan full day untuk hari Kamis dan Jumat.

Saat di nursery, kegiatan anak banyak bermain. Namun setiap hari, guru menyediakan waktu khusus untuk cek kemampuan baca anak. Anak yang belum mampu akan diajari sampai mampu. Tidak ada paksaan anak harus bisa karena kemampuan anak berbeda. Jika anak memang kemampuannya rendah guru akan terus membantu hingga bisa membaca. Guru dilarang memaksa anak harus bisa membaca. Guru hanya membantu anak supaya mampu membaca dengan mandiri. Target capaian membaca anak dibuat oleh kementerian pendidikan yang diterapkan secara nasional. Akan tetapi, anak tidak harus memenuhi capaian yang ditentukan dari negara itu.

Selain mengajari membaca, untuk membiasakan anak cinta buku, ada waktu membacakan buku untuk anak-anak. Penyampaiannya menarik dan dibuat santai karena anak tidak harus duduk di bangku sekolah, tapi duduk di lantai sambil mendengarkan guru membacakan buku. Di akhir cerita, ada tanya jawab antara guru dan siswa sehingga di sini membiasakan anak memiliki kemampuan mendengar yang baik, menjawab pertanyaan dan bercerita kembali di depan gurunya.

Anak yang sampai setahun di nursery belum mampu membaca akan tetap lanjut ke reception. Tidak ada istilah tidak naik kelas. Guru juga tetap mendorong anak belajar hingga bisa tanpa menjatuhkan mentalnya karena guru harus memegang etika mengajar dan tidak boleh membuat anak patah semangat dalam belajar.

Ketika anak di nursery dan reception, level membaca dimulai dari Key Stage 1. Jika di nursery anak dibacakan dan diajari mengeja huruf (phonic), saat di reception setiap minggu anak harus membaca satu buku. Dibaca di rumah, kemudian dicek bacaannya di Sekolah dan diberi pertanyaan mengenai isi buku. Buku yang dibaca tergantung level kemampuan anak. Anak yang kemampuannya tinggi, bisa naik level lebih cepat dari anak yang lain. Itupun dilakukan tanpa mengkompentisikan anak satu dengan lainnya. Jadi anak membaca dengan senang tanpa ada tekanan dari anak lain atau gurunya.

Bacaan yang dibaca seperti contoh isi buku berjudul “Get On” di level 1 di seri buku Oxford Reading Tree. Di awal buku, diberi “pengantar” apa yang harus dilakukan sebelum dan selama membaca.

Berikut ini adalah salinan (contoh) halaman buku “Get On”

-  Halamanpertama      : Get on.

-  Halaman kedua        : Get on, Biff.

-  Halaman ketiga        : Biff, got on.

-  Halaman keempat    : Get on, Chip.

-  Halaman kelima       : Chip got on.

-  Halaman keenam      :  Get on, Kipper.

-  Halaman ketujuh      : Kipper got on.

-  Halaman kedelapan  : Oh, no!

 Di akhir buku, ada panduan pertanyaan sebagai berikut:

-  Pertanyaan pertama  : Where was the family?

-  Pertanyaan kedua     : Who got on first?

-  Pertanyaan ketiga     : Why did the children all fall off?

-  Pertanyaan keempat : What do you like to do at the beach?

Pertanyaan tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana kemampuan memahami isi buku. Selain pertanyaan tersebut, juga bisa ditambahkan pertanyaan tambahan dan semacam diskusi. Menariknya, meski buku itu dibawa pulang selama seminggu, sianak ternyata tidak hanya menghafalkan agar mampu menjawab pertanyaan di sampul belakang tetapi isinyapun dipahami pula oleh mereka. Sesampai di sekolah, apa yang dibaca ditunjukkan ke gurunya untuk dicek dan dilihat kemampuan memahami isi bukunya.

Bacaan untuk level berikutnya semakin sulit dan tulisannya semakin banyak. Berikut contoh beberapa halaman dari Buku “The secret of the sands” dari Seri Oxford Reading Tree level 6:

Halaman pertama

The children were playing on the computer. They were playing Chip’s new game, Secret of the Sands.

Halaman kedua

Suddenly, the magic key began to glow “Look at the key!” cried Biff. It’s time for an adventure

Halaman ketiga

Floppy growled. He didn’t want an adventure.The magic was starting to work.

Halaman keempat

The magic took the children into a desert. They saw a boy riding a camel across the hot sands.

Di akhir buku itu (seperti biasanya) ada pertanyaan-pertanyaan tentang isi buku yang digunakan untuk menguji kepahaman anak terhadap isi buku.

Perpustakaan di setiap kota

Karena dipaksa membaca satu buku satu minggu, lama-lama anak-anak menyukai buku. Dukungan rajin membaca tidak hanya dilakukan oleh sekolah. Tetapi juga oleh pemerintah dengan menyediakan satu perpustakaan daerah di setiap kota dan perpustakaan penunjang di beberapa lokasi di kota. Perpustakaan-perpustakaan tersebut bisa diakses dimanapun, asalkan masih dalam satu kota. Sebagai contoh, di Birmingham ada perpustakaan pusat yaitu Libraryof Birmingham. Di wilayah Selly Oak, ada perpustakaan juga. Jika meminjam buku di Birmingham Library, bisa mengembalikan di Perpustakaan Selly Oak yang lebih dekat dengan rumah. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke pusat kota untuk mengembalikan buku.

Keanggotaan perpustakaan itu adalah warga yang tercatat bertempat tinggal di daerah sekitar atau di kota tersebut mulai dari bayi sampai orang dewasa. Jadi, setiap warga bisa mendapatkan kartu perpustakaan dengan gratis sejak masih bayi. Pinjam bukunya juga gratis alias tidak ada pungutan biaya apapun.

Karena perpustakaan umum, koleksi buku sangat beragam. Buku dari berbagai bidang kajian disediakan di perpustakaan. Termasuk juga dokumen negara tersimpan rapi di perpustakaan. Ini memungkinan semua kalangan masyarakat bisa meminjam buku di sana. Terutama mature student, yaitu orang-orang tua yang masih semangat melanjutkan sekolah lagi biasanya banyak dijumpai di dalam perpustakaan.

Kualitas bukunya juga sangat bagus. Bahkan bisa dibilang banyak buku masih baru. Kalaupun ada buku dengan terbitan lama, kondisinya masih terawat dengan baik. Dokumen pemerintah (seperti yang disebut sebelumnya) juga disimpan rapi dengan dijilid bagus.

Bagusnya lagi, di semua perpustakaan ada tempat khusus untuk anak-anak. Karena anak membutuhkan tempat yang lebih nyaman daripada orang dewasa, seringkali ruang untuk anak-anak di desain khusus dengan tempat duduk dan meja khusus juga. Ditambah beberapa tempat bermain supaya jika anak bosan bisa bermain. Tidak heran jika anak bayi juga menyukai perpustakaan meski dia hanya melihat-lihat gambar saja.

Hampir semua perpustakaan setiap minggunya memiliki kegiatan untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Misal, kegiatan story telling yang kegiatannya membacakan buku kepada anak-anak. Biasanya diikuti oleh ibu-ibu dengan anak-anak balita. Ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja banyak yang mengikuti kegiatan ini dan anak-anak senang mendengar ceritanya. Kegiatan story telling ini rutin diadakan setiap minggu sehingga membaca menjadi suatu kebiasaan di masyarakat yang bisa diikuti oleh semua kalangan tanpa terkecuali.

Membaca adalah jendela cakrawala dunia. Oleh karenanya, untuk membiasakan orang menyukai buku dilakukan sedini mungkin dan tanpa harus dipaksa.(Septin Puji Astuti,  Alumnus Program Doktor School of Geography, Earth and Environmental Science, University of Birmingham- Staf Pengajar (Dosen) IAIN Surakarta)

Tags: