Membantu Siswa yang Berisiko Berhenti Sekolah, dan Menarik Diri dari Sekolah

Redaksi 09 Agustus 2021

Global Knowledge - Di masa-masa sulit seperti saat pandemi Covid-19 ini, siswa yang menarik diri dari sekolah, atau mereka yang menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti melanjutkan pendidikannya, kemungkinan memerlukan perhatian khusus. Tidak adanya kegiatan sekolah yang berkepanjangan karena Covid-19 akan mempersulit beberapa anak-anak untuk kembali lagi ke sekolah. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk memikirkan cara agar sekolah dapat terus terhubung dengan siswa di masa pandemi ini dan mendukung siswa untuk kembali lagi ke sekolah.
 
Bagaimana cara mengenali siswa yang beresiko putus sekolah?
 
Guru dan staf sekolah diharapkan dapat mengenali siswa yang mungkin membutuhkan perhatian dan pendampingan ekstra selama masa pandemi ini, termasuk siswa dengan faktor-faktor di bawah ini: (1) Faktor keluarga dan masyarakat seperti kemiskinan, orang tua yang tunakarya/dan atau orang tua dengan tingkat pendidikan rendah, tunawisma, kefanaan, riwayat kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga; (2) Faktor individu siswa seperti masalah kesehatan fisik atau mental, riwayat masalah perilaku, perilaku melanggar aturan, penyalahgunaan zat; (3) Faktor negatif yang berhubungan dengan sekolah seperti hubungan yang buruk dengan guru atau teman sebaya, riwayat bullying, atau kurang terlibat dengan kurikulum sekolah.
 
Dalam rangka memberikan bantuan dan pendampingan khusus bagi para siswa, prioritaskan siswa yang sebelum masa isolasi menunjukkan: (1) Kehadiran tidak menentu atau tidak hadir; (2) Tingkat literasi rendah/kinerja buruk; (3) Kurangnya minat di sekolah dan/atau menyatakan niat untuk berhenti; (4) Hubungan yang kurang baik dengan teman sebaya; (5) Masalah perilaku termasuk agresi, kekerasan, atau menarik diri; (6) Perubahan signifikan dalam perilaku, sikap, atau kinerja.
 
Selama masa pembelajaran jarak jauh, faktor-faktor ini cenderung akan diperparah oleh tidak adanya kegiatan sekolah – apalagi sekolah merupakan faktor pelindung bagi siswa yang rentan tertinggal. Keluarga juga akan mengalami stres berat karena meningkatnya ketidakstabilan pekerjaan, meningkatnya risiko insiden kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga, serta dampak stresor lain terkait keluarga dan rumah tangga, misalnya pembatasan kegiatan masyarakat.
 
Bagaimana komunikasi tersebut terjalin?
 
Guru mengetahui seperti apa siswa-siswanya dan begitu pula kelemahan mereka, dan berperan menjembatani hubungan siswa dan orang tua yang ada untuk menyokong dan menyediakan komunikasi selama masa isolasi. Mungkin juga ada staf lain di sekolah anda yang berperan merangkul siswa dan memelihara komunikasi misalnya petugas Bimbingan Konseling dan youth workers. Mempertahankan komunikasi dengan siswa akan mendorong keterlibatan mereka kembali dengan sekolah setelah periode isolasi berakhir. Saat mendukung siswa dari jarak jauh, komunikasi ini dapat dijalin melalui: (1) Panggilan telepon; (2) Pesan teks; (3) E-mail; (3) Skype, FaceTime; (4) Opsi lain yang sesuai dengan preferensi siswa dan pertimbangan aksesibilitas.
 
Bagaimana cara mengetahui apabila siswa menarik diri saat didukung dari jarak jauh
 
Saat mendukung siswa dari jarak jauh, mungkin sulit untuk melihat tanda-tanda dan pola-pola dari situasi ini. Karena komunikasi dan isyarat visual yang biasa digunakan sehar-hari tidak ada, staf yang mendampingi siswa harus mengerti tentang indikator-indikator lainnya.
 
Indikator-indikator tersebut termasuk: (1) Tidak menanggapi permintaan komunikasi; (2) Berulang kali tidak menghadiri jadwal komunikasi yang disepakati; (3) Reaksi dan tanggapan pasif; (4) Memperlihatkan ketidaktertarikan, keputusasaan, atau tidak pentingnya pendidikan, dan lain-lain.
 
Bekerja sama dengan instansi lain
 
Saat lembaga-lembaga lain berkolaborasi dengan siswa, disarankan agar anda juga berhubungan erat dengan lembaga-lembaga ini selama periode ini. Jika anda merupakan mediator penting bagi para siswa, anda perlu berkoordinasi dengan lembaga dan layanan penting lainnya yang mendukung siswa, atau membuat rujukan ke layanan lain jika terbukti siswa atau keluarga membutuhkan bantuan ini.
 
Mungkin juga ada peluang bagi lembaga-lembaga yang terus berkomunikasi langsung dengan siswa yang sangat rentan untuk mengonfirmasi langsung dengan siswa, dan mengatasi kasus yang ada.
 
Bagaimana cara mendorong siswa untuk kembali ke sekolah
 
Perencanaan cermat sangat diperlukan untuk mendorong siswa melakukan reintegrasi ke sekolah. Ajaklah siswa berbicara tentang perasaan mereka kembali ke sekolah. Apakah mereka cemas atau gugup? Mereka mungkin perlu diingatkan kembali tentang rutinitas sekolah mereka, misalnya bagaimana cara menuju ke sekolah dan pulang ke rumah. Membuat rencana untuk memonitor siswa secara teratur setelah sekolah dimulai kembali dapat memberikan mereka pengertian bahwa ada seseorang yang peduli dengan mereka, mereka dihargai di sekolah, dan itu akan menumbuhkan harapan tentang pendidikan dan kesuksesan mereka di sekolah.
 
Jaga diri dengan baik
 
Seperti yang anda ketahui, anak muda, orang tua, dan staf anda sendiri mungkin mengalami peningkatan stres saat ini. Perhatikan tanda-tanda kesehatan mental, dan hubungi Headspace, Beyond Blue, dan layanan lainnya untuk mendapatkan dukungan jika perlukan. Program Bantuan Karyawan (Employee Assistance Service) juga tersedia untuk semua staf dan keluarga dekat mereka.
 
Daftar hal-hal yang perlu diperhatikan agar tetap terhubung dengan siswa saat belajar jarak jauh
 
Berikut adalah daftar panduan (tabel di bagian bawah narasi) untuk mendukung perencanaan dan pendekatan anda dalam mempertahankan komunikasi dengan siswa yang sangat berisiko menarik diri dari sekolah. (Bagus Priambodo/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: