Membangun Literasi Seharusnya Dimulai di Rumah

Redaksi 28 Desember 2019

Teropong - Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, anak akan diajak membuka pikirannya untuk memandang cakrawala yang lebih luas di luar lingkungannya.

Kebiasaan membaca harus dimulai sejak dini. Kebiasaan dan budaya membaca itu harus dimulai dari rumah. Tentu, orangtua punya peran paling krusial dalam upaya ini.

Persoalannya, tak semua orangtua memahami ini. Alih-alih mengajak anak membaca, banyak orangtua yang membiasakan anaknya beraktivitas dengan gawai demi membuat mereka senang dan diam.

Selain tak paham bahwa kebiasaan memberikan gawai kepada anak bisa berdampak terhadap tumpulnya minat anak pada buku, juga tak banyak orangtua yang tak terbiasa membaca. Maka, mustahil mereka bisa membiasakan anak membaca bila mereka sendiri tak terbiasa melakukan itu.

Lalu bagaimana minat baca itu dikembangkan di rumah?

Pertama, orangtua harus memberikan contoh kepada anak. Caranya, tentu saja dengan orangtua membiasakan diri untuk membaca. Bahkan, terhadap anak-anak usia dini yang belum mengenal aksara, orangtua dapat mulai belajar membacakan buku-buku cerita secara rutin. Dengan demikian, sejak dini anak sudah akrab dengan buku.

Kedua, minat membaca mustahil muncul apabila tak tersedia bahan-bahan bacaan yang relevan untuk anak.  Karenanya, apabila memungkinkan, orangtua bisa menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membeli buku bagi anak-anaknya. Bila memungkinkan, sisakan sedikit ruangan di rumah yang bisa dimanfaatkan untuk membangun perpustakaan mini. Dengan begitu, anak akan dibiasakan dekat dengan bahan bacaan.

Ketiga, apabila memang tak memungkinkan untuk membeli buku bacaan bagi anak, orangtua dapat meluangkan waktu mengajak anak mengunjungi perpustakaan-perpustakaan yang tersedia di lingkungannya. Selama berkunjung ke perpustakaan, ciptakan kesan bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan.

Keempat, biasakan anak untuk menceritakan isi dari buku-buku yang dilalapnya serta pesan apa yang didapat dari membaca buku tersebut. Dengan komunikasi semacam ini, motivasi anak untuk terus menambah bacaan, dapat meningkat.

Kelima, setelah anak-anak telah terbiasa membaca buku, tahapan berikutnya adalah ajak anak untuk mulai menulis. Tentu saja, membiasakan anak untuk menulis membutuhkan upaya yang berbeda lagi. Orangtua tentu tak bisa berharap anaknya langusung memiliki keterampilan menulis. Namun ketika kegiatan ini dibudayakan, anak tak hanya akan terbiasa mengonsumsi gagasan dari buku-buku yang dibaca, namun juga terbiasa mengungkapkan gagasan, pengalaman, dan perspektifnya sendiri.

Dengan upaya-upaya ini, ketika di sekolah, anak tak akan lagi kesulitan ketika ditantang untuk membaca. Sebaliknya, mereka akan merasa senang dan tertantang ketika mendapat tugas membaca dari guru-gurunya. Pada akhirnya, kita bisa berharap di masa mendatang, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, terampil meramu gagasan, dan berwawasan luas.  (Bagus Priambodo/Sumber bacaan & narasi: https://www.kemdikbud.go.idhttps://www.dw.comhttps://nasional.kompas.comhttps://www.kompas.comhttps://www.jawapos.comhttps://tirto.idhttp://www.chinadaily.comhttps://journals.sagepub.comhttps://learningenglish.voanews.comhttps://www.liputan6.comhttps://news.detik.comhttps://wow.tribunnews.comhttps://www.academia.eduhttps://nasional.republika.co.idhttps://www.antaranews.com/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google Image)

Tags: