Membahas Diferensiasi dengan Siswa, Orang Tua Siswa, dan Pendidik Lain

Redaksi 06 Agustus 2022

Global Knowledge - Komentar yang sering dilontarkan para guru saat dalam tahap pertimbangan awal untuk menerapkan diferensiasi adalah “Siswa saya akan kecewa jika mereka mendapati temannya memiliki buku atau melakukan kegiatan yang berbeda dari yang mereka lakukan saat pembelajaran”. Menariknya, isu ini hampir tidak pernah dibahas oleh guru-guru yang merupakan praktisi diferensiasi. Mengapa?
 
Kemungkinan terbesarnya adalah guru yang pertama mengadopsi sistem keyakinan belajar mengajar pada umumnya—dan demikian juga siswa-siswanya. Di antara paham-paham dalam kepercayaan itu, ada kurikulum umum yang berlaku untuk semua orang, oleh karena itu muncullah pembelajaran yang “benar” atau “standar” yang harus diikuti oleh semua siswa di kelas untuk memastikan pencakupan materi secara terorganisir. Menurut paradigma itu, seorang guru yang baik akan memastikan bahwa semua siswa melakukan hal yang sama persis dalam pembelajaran yang diberikan dan menggunakan seperangkat materi, tempo, dan sistem pendukung yang sudah standar. Cara ini tidak hanya merupakan cara yang paling benar untuk “bersekolah” namun juga yang paling “adil”. Oleh karena itu, guru yang memperlakukan satu atau beberapa siswanya dengan berbeda beresiko dicap tidak adil.
 
Guru kedua mengadopsi sistem keyakinan yang berbeda. Guru ini percaya bahwa ada seperangkat materi penting yang harus dipelajari setiap siswa dan tugasnya sebagai guru adalah untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan untuk menguasai, dan jika memungkinkan, melampaui cakupan materi tersebut. Menurut paradigma ini, siswa memiliki titik awal yang bervariasi dalam setiap segmen pembelajaran, mendapatkan pengalaman berbeda di mana mereka bisa terhubung dengan pembelajaran baru, belajar dengan tempo yang berbeda, memproses informasi dengan berbagai cara, dan memerlukan sistem pendukung yang berbeda dalam menguasai materi penting. Dengan demikian, sementara guru kedua ini berkomitmen memastikan bahwa setiap siswa bisa sukses dengan hasil belajar yang telah ditentukan, dia juga menyadari perlunya menyediakan berbagai macam cara untuk siswa agar bisa mengakses informasi, berbagai opsi untuk memproses informasi, serangkaian sistem pendukung, dan berbagai cara untuk menyalurkan apa yang mereka pelajari. Dalam cara berpikir guru yang seperti ini, memperlakukan semua siswa dengan sama persis adalah hal yang kontraproduktif (tidak menguntungkan). Perlu untuk menjumpai siswa yang memiliki tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar agar bisa memaksimalkan potensi akademik mereka.
 
Guru pertama membayangkan penerapan strategi pembelajaran berdiferensiasi di lingkungan yang menjunjung tinggi kesetaraan—lingkungan yang memperlakukan semua orang dengan sama—namun rasanya seolah-olah guru ini akan mengubah peraturan permainan tanpa menginformasikannya terlebih dulu kepada para pemain, yang mana dia yakin akan menimbulkan keributan. Guru kedua sadar bahwa sebagian besar siswa mengikuti kelasnya dengan berbekal seperangkat aturan standar yang tertanam kuat di pemikiran mereka (kecuali sebelumnya siswa tersebut diajar oleh guru yang juga menerapkan pembelajaran differensiasi atau sekolah menaruh perhatian khusus pada diferensiasi). Guru ini tidak memiliki niatan untuk mencoba “menyisipkan” diferensiasi ke dalam rutinitas sehari-hari. Dia tidak ingin menerapkan diferensiasi pada para siswanya melainkan dia ingin menerapkannya bersama dengan mereka. Oleh karena itu, sejak hari pertama sekolah, guru ini memperlakukan dan menganggap siswanya sebagai partner dalam meraih kesuksesannya maupun kesuksesan mereka sendiri. Sejak hari pertama sekolah, dia secara konsisten menciptakan visi bersama di kelas dan menyusun proses dan prosedur yang bisa membantu mewujudkan visi tersebut bersama dengan siswa. Dengan kata lain, dia berperan sebagai pemimpin dalam mendirikan kelas berdiferensiasi yang efektif.
 
 
Bab ini akan membahas tujuan khusus untuk guru yang ingin membimbing siswa dan menciptakan kelas yang dirancang untuk mendukung keberhasilan siswa menggunakan materi penting, cara-cara khusus yang bisa digunakan guru untuk melibatkan siswanya memahami dan berkontribusi pada kelas berdiferensiasi, dan berbagai percakapan yang memungkinan guru dan siswa untuk mengembangkan tujuan yang sama di kelas. Bab ini juga akan membahas tentang peran guru sebagai seseorang yang akan membantu orang tua siswa dan pendidik lain dalam memahami dan berkontribusi pada diferensiasi.
 
Baca terjemahan-terjemahan lain dari Buku Leading and Managing A Differentiated Classroom  by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau di sini
 
Kerangka kerja bersama
 
Di awal tahun, guru yang ingin membimbing siswanya untuk memahami dan memberikan kontribusi pada kelas berdiferensiasi akan mengerahkan waktunya untuk proses tersebut. Mungkin akan ada beberapa jam pelajaran yang berfokus pada percakapan dan kegiatan yang berhubungan dengan diferensiasi, dan akan ada sejumlah percakapan lain di mana akan terjadi sesi pengambilan keputusan yang lebih singkat.
 
Pemikiran “kehilangan banyak waktu karena terlibat dengan kurikulum” mungkin memang menyusahkan bagi beberapa guru. Namun penelitian dan pengalaman yang dimiliki guru menunjukkan bahwa siswa dan guru justru akan mendapatkan waktu yang lebih banyak daripada yang mereka kerahkan saat menciptakan visi bersama dan serangkaian rutinitas umum yang berlangsung selama setahun penuh (e.g., Marzano, Marzano, & Pickering, 2003; Stronge, 2002).
 
Setiap guru harus menentukan berapa banyak waktu yang harus dikerahkan pada topik-topik yang disarankan di bawah ini serta pada percakapan awal dan tindak lanjut. Untuk siswa dari segala usia, penting untuk memperkenalkan ide dan rutinitas serta mereviu percakapan awal secara singkat sepanjang tahun, membantu mengingatkan mereka tentang tujuan dan prosedur yang telah ditetapkan, merenungkan baik-baik efektivitas tujuan dan prosedur, dan merombak tujuan dan prosedur tersebut sesuai kebutuhan.
 
Terlepas dari tingkatan kelasnya, setidaknya ada enam pertanyaan penting yang perlu dibahas oleh guru dengan siswa untuk menciptakan pemahaman bersama dalam kelas berdiferensiasi. Susunan kata yang digunakan dalam pertanyaan-pertanyaan di bawah ini disesuaikan berdasarkan tingkatan kelasnya, namun substansinya tetap sama.
 
(1) Siapakah kalian sebagai pelajar? (Apakah kalian semua sama persis atau berbeda?); (2) Mengingat masing-masing dari kalian memiliki perbedaan tersendiri, bagaimana cara saya mengajari kalian?; (3) Jika kita ingin memiliki kelas yang efektif untuk kita semua, seperti apakah kelas itu? (Harus berfungsi seperti apa kelasnya? Peran apa saja yang akan kita mainkan?); (4) Bagaimana cara saya mengetahui titik awal, minat, dan metode pembelajaran yang terbaik untuk kalian?; (5) Jika kita menerapkan kelas diferensiasi, bisakah kelas itu adil? (Apa yang dimaksud dengan “adil” dalam konteks ini?); (6) Apa arti sukses menurut kelas ini? (Bagaimana caranya saya tahu jika kalian sukses? Dan bagaimana cara kalian mengetahuinya?)
 
Pertanyaan-pertanyaan di atas bersifat evolusioner. Dengan kata lain, setiap pertanyaan baru muncul dari diskusi pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Misalnya, pertanyaan kelima tentang keadilan muncul setelah pembahasan empat pertanyaan sebelumnya. Selain evolusioner, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga bersifat rekursif; guru perlu mengingatkan siswa tentang diskusi sebelumnya menggunakan semacam logika “jika/maka (if/then)” saat diskusi berlangsung. Misalnya, “Jika kita setuju dengan ide ini, maka apa yang harus dilakukan untuk mencapainya?” Akhirnya, guru perlu meninjau kembali pertanyaan-pertanyaan ini dengan siswa pada situasi penting selama sepanjang tahun untuk mengingatkan mereka, memberikan siswa kesempatan untuk menceritakan pencapaian dan kekhawatiran mereka, dan memungkinkan mereka untuk berkontribusi pada pematangan ide seiring berjalannya tahun.
 
Uraian berikut mencerminkan penalaran dari pertanyaan-pertanyaan di atas agar bisa membantu guru merenungkan baik-baik apa yang dia ingin siswanya pertimbangkan dan bagaimana cara dia mulai memengaruhi diskusi dan kegiatan untuk bisa melibatkan siswanya dengan ide-ide tersebut.
 
Siapakah kalian sebagai pelajar?
 
Boleh dibilang hal terpenting yang dilakukan setiap guru dari kelompok usia mana pun saat awal tahun pelajaran adalah mengutarakan keinginannya untuk mengenal para siswanya. Pesan yang disampaikan harus tulus tentunya agar kepercayaan antara guru dan siswa mulai bisa terjalin. Pesan tersebut juga perlu diikuti dengan tindak lanjut yang konsisten dan terus-menerus, pun harus tercerminkan ke semua hal yang guru lakukan. Jika kepercayaan antara guru dan siswa berhasil terjalin, siswa akan mulai merasa bahwa mereka diterima dan dihargai. Siswa menganggap guru sebagai orang yang bisa dipercaya, dan pembelajaran akan sepadan dengan risiko yang mengikuti.
 
Di kelas berdiferensiasi, guru memaknai pesan tersebut dengan lebih serius. Pesannya bukan hanya sekadar “Saya ingin mengenal kalian secara personal”, namun menjadi “Mengenal kalian secara personal tentu akan membantu memengaruhi cara saya mengajar kalian”. Implikasinya jelas. “Bagaimana cara saya mengetahui kelebihan, kebutuhan, dan minat kalian agar bisa mengajari kalian dengan baik?”
 
Tujuan percakapan pertama adalah untuk membantu siswa (1) sadar bahwa guru peduli dengan mereka sebagai manusia dan ingin mengenal mereka, (2) menceritakan sedikit tentang diri mereka, (3) memikirkan baik-baik persamaan dan perbedaan di antara teman sekelas, dan (4) membayangkan apa artinya memiliki kelas yang efektif untuk semua jenis pelajar. Kami akan mengemukakan tiga saran untuk mengembangkan tujuan ini dengan siswa, dan kami mengajak kalian untuk menerapkan salah satu dari pendekatan ini sebagai landasan untuk mengembangkan pendekatan milik kalian sendiri.
 
Grafik tentang saya. Meminta siswa membuat grafik berisi kelebihan dan kekurangan mereka merupakan pendekatan yang bermanfaat untuk banyak tingakatan kelas. Formatnya bisa bervariasi sesuai usia siswa, namun tujuannya adalah agar siswa dapat menunjukkan jenis materi apa yang mereka kuasai dan bidang apa yang mereka merasa kurang percaya diri. Siswa yang lebih muda mungkin dapat menunjukkan kelebihan dan kelemahan mereka dalam berbagai bidang studi seperti membaca, seni, matematika, menulis, sains, dll. dengan cara mewarnai grafik batang yang guru sediakan. Akan lebih baik jika siswa juga diminta menunjukkan kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan sekolah (misalnya, berteman, mengerjakan sesuatu tepat waktu, membuat gim). Gambar 3.1 adalah contoh dari grafik ini, dan Gambar 3.2 merupakan grafik yang dibuat oleh salah seorang anak kelas 2 yang kemudian memberikan penjelasan tentang grafiknya.
 
Siswa yang lebih tua mungkin dapat melakukan hal yang sama dan membuat grafik batang atau grafik garis yang berisi keterampilan yang relevan di bagian sumbu horizontalnya (misalnya, perhitungan, pemecahan masalah, pecahan, persamaan, penulisan dalam matematika). Alangkah baiknya jika siswa juga diminta untuk menambahkan dua atau tiga topik tambahan yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran (misalnya, hobi atau keterampilan nonakademik) atau yang berhubungan dengan mata pelajaran berbeda (misalnya, menambahkan keterampilan matematika dan olahraga di grafik Bahasa Inggris/Seni Bahasa) ke sumbu horizontal. Sedangkan di sumbu vertikal, siswa harus membuat indikator yang menunjukkan tingkatan kinerja dari yang buruk hingga luar biasa.
 
*Lihat Gambar 3.1 di sini
 
Untuk mengenalkan cara ini, guru sebaiknya melengkapi grafiknya sembari siswa mengamatinya. Ini membatu guru mendemonstrasikan tugas secara bijaksana, membantu guru mengenalkan ide-ide yang mungkin penting untuk siswa seiring berjalannya waktu, dan juga membantu siswa mengenal guru mereka lebih baik lagi. Misalnya, guru mungkin lemah di bidang tertentu, bidang di mana guru kurang kompeten, atau bidang yang sebelumnya kemampuan guru tersebut kurang mumpuni atau bidang yang ditakutinya namun sekarang dia sudah kompeten. Sebagai bagian dari proses ini, kami merekomendasikan guru untuk membuat grafik tumpang tindih atau ganda yang menggambarkan pertumbuhan guru dari “awal” (saat guru masih berstatus pelajar) hingga “sekarang”.
 
Gambar 3.3 menunjukkan contoh grafik yang dibuat oleh guru Seni Bahasa kelas 7 untuk kelas yang dia ajari. Batang yang gelap menunjukkan kemampuannya saat dia masih seorang siswa, dan batang yang lebih terang menunjukkan kemampuannya saat ini di bidang yang sama. Saat dia membuat grafik tersebut, dia bercerita bahwa dia dulu pandai mengeja saat masih SD, namun sekarang dia cenderung kurang pandai karena dia terlalu sering membaca esai-esai yang ditulis oleh anak-anak kelas 7 yang memiliki ejaan bermacam-macam. Demikian juga, dia juga merupakan siswa yang pandai dalam matematika saat masih SD, namun keterampilan dan kepercayaan dirinya hilang saat dia mulai tertinggal dari yang lain di kelas aljabar saat kelas 8 dan guru matematikanya saat itu tidak menyadari hal ini. Pengalaman di kelas aljabar ini berdampak negatif terhadap kinerjanya dalam mata pelajaran matematika hingga dia lulus sekolah. Sebaliknya, dia menjelaskan kepada para siswa bahwa dia memang sudah menyukai kata dan senang bermain dengan kata.
 
*Lihat Gambar 3.2 di sini
 
“Saya pandai sekali membaca. Saya pandai menulis dan saya cukup pandai menulis. Saya pandai dan sangat pandai matematika dan menggambar. Saya pandai sekali menari balet karena saya telah menekuninya selama lima tahun. Saya lebih tidak pandai menggambar daripada menari balet. Saya lebih tidak pandai menulis daripada membaca. Saya lebih pandai matematika daripada menulis. Saya lebih tidak pandai menulis daripada matematika. Saya lebih pandai menari balet daripada matematika dan menggambar. Saya pandai sekali membaca walaupun saya belum lama menekuninya selama saya menekuni menari balet.”
 
Setelah menyelesaikan grafik, siswa harus mempresentasikan beberapa informasi dalam grafik itu bisa kepada seluruh kelas (guru berkesempatan untuk mengobservasi dan mencatat kemampuan, pola bicara, dan minat siswa yang dipresentasikan) atau kepada kelompok kecil yang berisi teman sebaya mereka. Mereka bisa memasang grafik mereka di area kelas, dan siswa yang lebih muda bisa berkeliling kelas dan mencari grafik yang mirip dengan milik mereka. Kemungkinan besar mereka tidak akan menemukan grafik yang mirip dengan milik mereka, dan mereka pasti tidak akan menemukan duplikat yang sama persis. Hal ini mempersiapkan kelas ke tahap diskusi selanjutnya. Siswa yang lebih tua harus melengkapi frasa berikut (secara akurat) sebanyak mungkin: Umumnya, benar bahwa _____. Mereka kemungkinan besar akan memikirkan berbagai cara yang berbeda untuk melengkapi frasa-frasa ini, termasuk
 
(1) Secara umum, memang benar bahwa siswa dari jam pelajaran kedua mengatakan bahwa mereka lebih pandai dalam menafsirkan hasil lab daripada siswa dari jam pelajaran ketiga; (2) Secara umum, memang benar bahwa banyak laki-laki yang mengatakan bahwa mereka pandai bermain basket;
 
*Lihat Gambar 3.3 di sini
 
(3) Secara umum, memang benar bahwa lebih banyak siswa yang suka berbicara dalam bahasa asing daripada membacanya; (4) Secara umum, siswa menambahkan topik ke batang grafik yang paling mereka tekuni, bukan batang grafik yang susah mereka kerjakan.
 
Ada dua hasil pengamatan yang hampir selalu dilakukan oleh siswa di setiap kelas. Keduanya sangat penting untuk diskusi berkelanjutan.
 
(1) Tidak ada yang menarik garis lurus dan merasa bahwa kinerja mereka mirip dengan yang lain dalam segala hal; (2) Semua orang mengatakan bahwa mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
 
Jika salah satu dari kesimpulan ini muncul, saatnya untuk mengambil langkah selanjutnya dalam diskusi. Jika tidak seorang pun memiliki salah satu dari dua kesimpulan ini, guru dapat langsung mengajukan pertanyaan kepada siswa seperti “Apakah ada yang menyadari bahwa semuanya mengatakan bahwa mereka lebih unggul di beberapa hal tertentu dan lemah di hal lainnya?” Dengan adanya dua hasil observasi ini, guru bisa melanjutkan diskusi dengan mengatakan “Sebagai guru, saya sering merenungkan hal itu. Kalian semua akan unggul dalam beberapa hal tertentu dan merasa kurang percaya diri dalam hal lainnya. Memang begitulah setiap tahunnya. Jika hanya beberapa dari kalian yang pandai dalam berhitung namun lemah dalam pemecahan masalah, dan yang lain justru sebaliknya, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana caranya agar saya bisa memutuskan siapa di antara kalian yang harus saya perhatikan?”
 
Siswa biasanya lebih cepat memahami gambaran tentang diferensiasi daripada guru. Mereka tidak pernah menjawab “Tidak masalah. Jangan hiraukan apa saja yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Cukup kerjakan saja materinya”. Kemungkinan besar mereka akan langsung menyimpulkan bahwa kita (guru) harus membantu mereka mengembangkan berbagai kelebihan mereka dan mengatasi kelemahan mereka. Menarik kesimpulan seperti ini adalah tujuan dari kegiatan ini dan diskusi terkait.
 
 
Tentunya ada banyak cara lain untuk melibatkan siswa dan membantu mereka menyadari perbedaan yang mereka miliki sebagai sesama pelajar. Dalam dua kegiatan berikut, tujuan akhirnya sama dengan “Grafik tentang Saya”: menarik kesimpulan bahwa perbedaan siswa tidak dipandang sebelah mata dan kelas akan menjadi lebih baik jika guru memerhatikan perbedaan-berbedaan tersebut saat mengajar. Terlepas dari cara apa yang akan digunakan guru untuk membantu siswa memikirkan mengapa perbedaan mereka penting, ini adalah saat yang tepat untuk membuat kalimat anutan (batasan) dalam kelas sebagai pengingat sepanjang tahun ajaran:
 
Saya mengajar karena saya percaya bahwa setiap siswa bisa belajar apa pun yang penting. Saat kalian belajar, kalian menjadi jauh lebih kuat. Masing-masing dari kalian memiliki potensi untuk mempelajari hal baru setiap harinya. Jalur yang kalian ambil bisa sama atau mungkin berbeda dengan jalur yang diambil oleh orang yang duduk di sebelah kalian. Itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah kalian mengambil langkah selanjutnya dan konsisten melanjutkan jalur yang kalian ambil. Tugas saya di sini adalah mendampingi kalian dan memastikan bahwa kalian konsisten belajar dan berkembang di sepanjang jalur itu. Hal yang saya ingin cari tahu bersama dengan kalian selama beberapa hari ke depan—dan sepanjang tahun—adalah bagaimana cara kita bekerja sama untuk menciptakan kelas yang bisa menyokong setiap siswa sesuai jalurnya masing-masing.
 
Ini merupakan landasan utama diferensiasi, dan penting bagi siswa untuk mulai memahaminya.
 
Periksa ke dokter. Dalam permainan peran ini, siswa berkolaborasi secara berpasangan. Setiap pasangan terdiri dari siswa yang berperan sebagai orang tua dan siswa yang berperan sebagai seorang anak. Guru akan berperan sebagai dokter. Pesan yang ditulis di kartu pasien harus memaparkan masalah medis yang dialami anak seperti gatal-gatal, sakit perut, tangan yang cedera karena bermain basket, atau sakit kepala yang datang dan pergi. Setiap “anak” harus berlakon sesuai keluhan yang dialami (misalnya, menggaruk-garuk bagian tubuh yang gatal, memegang perut yang sakit, menopang lengannya yang cedera, atau mengusap-usap dahinya) sementara sang “orang tua” menyampaikan keluhan yang dialami sang “anak” kepada sang “dokter”. Untuk dua pasangan terakhir, instruksinya berubah yaitu orang tua akan menjelaskan keluhan anaknya kepada dokter dan kemudian berkata, “Biar anak saya saja yang melanjutkan”. Siswa yang berlakon sebagai anak yang sedang sakit kemudian menyampaikan keluhannya kepada sang dokter. Gambar 3.4 adalah dua contoh intruksi tentang permainan peran.
 
*Lihat Gambar 3.4 di sini
 
Pasangan siswa yang harus berlakon seolah-olah sedang mengidap flu biasa. Dokter, terlepas dari penyakit aslinya, sering kali harus mendengarkan keluhan pasien secara seksama dan merespon, “Saya turut prihatin. Ini dia beberapa obat flu untuk Anda. Minum dan lihatlah apakah obat ini manjur”.  Pada saat pasangan terakhir menemui dokter, para siswa merasa lega setelah mengetahui bahwa ada seseorang yang gejalanya cocok dengan obatnya. Guru mungkin akan bertanya, “Berapa kali kalian dan orang tua kalian melakukan konsultasi dengan dokter itu sebelum akhirnya menyadari bahwa ternyata sang dokter kurang kompeten dan kalian tidak ingin berkonsultasi lagi ke sana?”
 
Pada saat tertentu, ada baiknya juga untuk bertanya, “Menurut kalian mengapa orang dewasa selalu mewakilkan anak mereka berbicara? Pada akhirnya, saat siswa berhasil mewakilkan diri mereka sendiri, alih-alih mengandalkan orang tua mereka untuk bicara mewakili mereka, apakah sang anak menjelaskan keluhan mereka dengan baik yang bisa membuat kalian mengerti masalah yang sedang dialami sang anak?” Ini bisa membantu kita menyadari bahwa siswa sering kali lebih memahami kebutuhan mereka sendiri (atau bahkan lebih baik dari orang dewasa) dan siswa seharusnya bisa bebas mengutarakan saran atau pendapat mereka untuk membuat kelas menjadi lebih baik lagi.
 
 
Yang dibutuhkan siswa untuk memahami maksud dari permainan peran ini adalah agar guru bertanya, “Mengapa kita melakukan ini? Apa hubungannya permainan peran ini dengan sekolah?” Jawaban siswa biasanya adalah karena jika guru melakukan hal yang sama persis kepada siswanya tanpa memerhatikan kebutuhan mereka masing-masing, maka akan sama tidak efektifnya dengan dokter yang meresepkan obat yang sama ke setiap pasiennya tanpa memerhatikan gejala atau keluhan pasien. Ini sekali lagi mendorong guru untuk berkata, “Saya rasa guru mirip dengan dokter karena mereka harus memahami berbagai kebutuhan siswanya dan menetukan “resep” yang diperlukan untuk membantu siswa tertentu agar berkembang dengan baik. Kalian setuju?”
 
Satu (standar) untuk semua? Kegiatan ketiga yang bisa membantu siswa mulai merenungkan baik-baik kelas yang bisa memenuhi kebutuhan mereka yang bervariasi dimulai dengan cara guru meminta dua orang siswa mengenakan jaket yang ukurannya tidak sesuai dengan mereka. Guru memilih dua orang siswa yang memiliki tinggi dan perawakan yang bertolak belakang satu sama lain, namun sebelumnya guru harus memastikan bahwa kedua siswa tersebut bersedia untuk maju ke depan kelas (atau bersedia menjadi pusat perhatian). Siswa yang perawakannya lebih kecil diminta mengenakan jaket yang ukurannya jauh lebih besar darinya. Setelah siswa sudah puas cekikikan, siswa yang perawakannya lebih besar diminta mengenakan jaket yang ukurannya jauh lebih kecil darinya.
 
Kedua siswa ini kemudian mengutarakan perasaan mereka saat mencoba mengenakan jaket yang tidak sesuai dengan ukuran badan mereka. Jawabannya terdengar lucu dan sedikit konyol. Guru harus memberikan sedikit waktu untuk siswa agar mereka bisa memikirkan jawabannya terlebih dahulu sebelum menanyakan bagaimana perasaan mereka jika diminta mengenakan jaket yang tadi mereka kenakan sepanjang hari. Siswa biasanya mulai menyadari masalah yang berpotensi menjadi agak serius (misalnya, “Saya akan kesulitan saat makan karena lengan jaket yang terlalu besar ini bisa mengenai makanan saya” atau “Saya rasa saya tidak akan bisa menulis dengan benar karena akan sangat susah untuk menggerakkan lengan saya”).
 
Terakhir, guru harus meminta siswa mengutarakan perasaannya jika seandainya mereka harus mengenakan jaket tersebut sepanjang tahun. Umumnya, siswa bisa mengerti bahwa yang awalnya mereka pikir terlihat konyol, sepele, atau sedikit tidak nyaman bisa menjadi hambatan serius untuk melakukan apa yang mereka sukai (misalnya, “Saya rasa saya akan mulai menganggap diri saya orang yang jorok” atau “Saya ragu teman-teman lainnya bersedia bekerja sama dengan saya di sekolah karena saya tidak bisa berkontribusi banyak ke proyek kelompok dikarenakan lengan saya yang susah digerakkan ini).
 
Sekali lagi, umumnya penting untuk bertanya ke seluruh penghuni kelas, “Menurut kalian mengapa kalian diminta melakukan ini? Apa hubungannya dengan sekolah atau kelas ini?” Siswa akan sering membicarakan tentang betapa tidak nyamannya jika kegiatan atau tugas di kelas tidak sesuai “kapasitas” mereka dan akan sangat sulit untuk melakukannya. Mereka terkadang juga menceritakan pengalaman pribadi mereka di sekolah saat pekerjaan mereka tampak “terlalu sulit” atau “terlalu gampang” untuk mereka, dan mereka umumnya cukup mampu untuk menjelaskan dampak jangka pendek dan jangka panjang dari pengalaman-pengalaman tersebut.
 
Seperti halnya dua contoh sebelumnya, kesimpulan dari kegiatan ini adalah “saat kalian memerhatikan sekitar, jelas tidak semua orang mengenakan pakaian dengan ukuran yang sama. Pengalaman saya sebagai guru menunjukkan bahwa memberikan tugas yang sama persis kepada semua siswa tidak selalu cocok dengan semua siswa di kelas. Menurut Anda apa yang harus dilakukan seorang guru untuk mengatasi isu bahwa tidak semua siswa memiliki kebutuhan yang sama di waktu tertentu?” Dengan pemikiran ini, siswa sudah siap untuk pindah ke langkah berikutnya dalam diskusi.
 
Dengan perbedaan-perbedaan yang ada, bagaimana saya harus mengajari anda?
 
Terlepas dari guru memutuskan untuk menerapkan salah satu dari tiga pendekatan di atas atau membuat pendekatan lain, penting bagi siswa untuk menyadari bahwa manusia tidak terlahir sama layaknya satu set koper. Selain bersifat wajar, perbedaan setiap manusia juga berharga. Jika seandainya kita semua sama satu sama lain, maka dunia ini akan menjadi kurang menarik dan orang-orang akan jauh lebih tidak siap untuk menangani isu dan masalah yang ada dalam kehidupan. Kreativitas kita juga akan terbatas.
 
Pada poin ini, guru harus mengajukan beberapa pertanyaan spesifik kepada siswanya untuk dipertimbangkan, contohnya
 
(1) Katakanlah ada beberapa siswa di kelas kimia kita yang pandai sains namun belum pernah belajar tentang kimia. Apakah kalian pikir akan muncul kebutuhan belajar tertentu untuk kelompok siswa ini? Bagaimana saya harus menangani mereka?; (2) Bagaimana jika ada beberapa siswa di kelas kita yang tidak kesulitan menghafal kata-kata ejaan—dan di sisi lain ada beberapa siswa lain yang menganggap ejaan sebagai tugas yang sulit untuk mereka? Apakah masuk akal jika kedua kelompok siswa ini harus selalu menghafalkan daftar kata-kata ejaan yang sama persis? Apakah mereka semua bisa belajar dengan sama baiknya?; (3) Bagaimana jika ada beberapa siswa di kelas kita yang lebih merasa nyaman dan produktif saat mereka belajar secara berkelompok—dan ada siswa lainnya yang lebih suka belajar sendiri? Prefensi siswa mana yang harus saya utamakan saat pertama kali memulai kelas agar target kita tercapai?; (4) Misalnya ada beberapa siswa di kelas bahasa Spanyol yang memiliki pendengaran yang baik. Mereka bisa menirukan hampir semua yang mereka dengar saat saya mengatakannya, dan mereka melakukannya dengan tepat. Di sisi lain, menulis dalam bahasa Spanyol malah membebani mereka. Tidak peduli seberapa keras usaha mereka, mereka tampaknya tidak bisa menulis secepat dan setepat siswa lainnya. Demikian juga sebaliknya, misalnya ada beberapa siswa yang bisa menulis dalam bahasa Spanyol dengan mudah, namun giliran diminta berbicara dalam bahasa Spanyol di kelas mereka akan keringat dingin. Apakah semua itu penting? Apakah ada cara yang bisa saya lakukan untuk menjadi guru yang baik untuk semua siswa? Apakah ada cara yang bisa kita lakukan untuk mengelola kelas yang bisa memenuhi kebutuhan unik semua siswa dengan lebih baik?
 
Saat seisi kelas membahas skenario tertentu, siswa bersama-sama menyebutkan cara tertentu yang lebih fleksibel agar akan lebih banyak teman sekelas mereka yang kebutuhannya terpenuhi. Contohnya termasuk
 
(1) Mungkin akan lebih baik jika siswa bisa memilih buku yang mereka sukai; (2) Beberapa siswa mungkin sudah mengerti tentang apa yang akan dipelajari, dan akan lebih baik jika mereka mengerjakan hal baru yang lebih menantang bagi mereka (3) Mungkin akan lebih baik jika siswa diberikan pilihan cara untuk mencatat apa yang mereka pelajari. Beberapa siswa mungkin ingin menuliskannya di buku, namun siswa lainnya mungkin lebih pandai mengekspresikannya melalui grafik atau demonstrasi (presentasi); (4) Bekerja secara berkelompok mungkin akan sangat membantu untuk mempelajari sesuatu atau meminta bantuan jika kita kurang memahami sesuatu. Beberapa siswa mungkin akan lebih baik jika bekerja secara individu, atau mereka bisa konsultasi pada guru saat merasa bingung; (5) Beberapa dari kita mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan sesuatu agar dapat menyelesaikannya dengan benar; (6) Beberapa dari kita mungkin ingin berkecimpung lebih lama pada sesuatu karena kita menyukainya dan ingin belajar lebih banyak mengenai itu; (7) Beberapa dari kita mungkin bisa paham lebih baik lagi jika guru mendemonstrasikan dan memberikan contoh secara langsung alih-alih menjelaskan saja; (8) Beberapa dari kita mungkin bisa belajar lebih baik lagi jika kita langsung mempraktekkan sebuah ide alih-alih hanya mendengar saja.
 
Inti dari segmen percakapan bersama ini adalah agar siswa bisa mulai membayangkan dan mengekspresikan beberapa cara yang bisa membantu mereka belajar lebih baik lagi jika kelas menyediakan lebih banyak pilihan. Semakin banyak ide yang diberikan siswa maka akan semakin bagus, namun agar lebih efektif guru juga bisa ikut serta menuangkan idenya untuk dipertimbangkan.
 
Berikan jeda sesekali untuk mengajukan pertanyaan seperti “Bagaimana pendapat kalian tentang ide-ide ini? Apa sisi positifnya, dan apa kekhawatiran kalian?” Tidak perlu membahas masalah tertentu di poin ini, namun akan lebih bijak jika kita menuliskannya untuk diskusi di lain waktu saat percakapan berlanjut.
 
Jika kelas kita bisa berjalan efektif untuk semua penghuninya, akan seperti apa jadinya?
 
Pada tahap ini, siswa perlu arahan guru untuk beralih dari teori ke praktik nyata. Dengan kata lain, inilah saatnya membicarakan tentang (1) seperti apa wujud kelasnya dan (2) peran apa yang harus dimainkan setiap orang (dan juga apa saja yang tidak boleh dilakukan) agar kelas ini terjuwud. Sekali lagi, penggunaan bahasa dan durasi waktu yang tepat akan bervariasi sesuai dengan usia siswa, tujuan guru, dan konteks kelas. Sering kali tujuannya adalah untuk menetapkan ekspektasi awal terhadap keberlangsungan kelas dan menetapkan tanggung jawab bersama untuk kesuksesannya.
 
Sejumlah elemen ini akan dibahas secara lebih rinci di Bagian II buku ini nanti. Namun, di sini kami hanya akan mengusulkan beberapa ide atau basis untuk mewujudkan kelas yang fleksibel. Tujuannya adalah untuk membantu siswa merenungkan dan memberikan kontribusi ke elemen-elemen dasar yang berguna di kelas fleksibel dan membantu siswa belajar sebanyak dan seefisien mungkin.
 
Ini termasuk kesempatan bagi setiap siswa untuk
 
(1) Menggunakan materi yang sesuai; (2) Mengaitkan ide-ide penting ke minat; (3) Bekerja dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk langkah berikutnya dalam pertumbuhan; (4) Bekerja dengan tempo yang bisa mengimbangi pembelajaran kita; (5) Menerima bantuan dari guru atau teman sebaya yang mendukung perkembangan dan kesuksesan; (6) Menggali ide dan keterampilan dengan cara yang efektif dan efisien; (7) Mengekspresikan pembelajaran dengan cara-cara yang menunjukkan apa yang sudah siswa pelajari; (8) Belajar dengan dan dari berbagai macam teman sekelas; (9) Mengajari berbagai macam teman sekelas; (10) Belajar bagimana cara menjadi pelajar yang lebih mandiri; (11) Belajar bagaimana cara menjadi anggota kelompok dan partner yang lebih baik.
 
Kelas yang menawarkan kesempatan-kesempatan di atas (bila perlu) menunjukkan situasi
 
(1) Siswa kadang belajar sendiri dan kadang bersama kelompok kecil yang terdiri dari teman sebaya mereka; (2) Siswa kadang belajar bersama guru dan kadang sendiri atau bersama kelompok kecil; (3) Siswa bisa mengakses berbagai macam materi yang mendukung pembelajaran, termasuk beberapa set materi bacaan, sumber Internet, serta video dan audio; (4) Penataan ruangan fleksibel—furnitur bisa diatur ulang tergantung kebutuhan; (5) Siswa bisa menyelesaikan pekerjaan mereka pada waktu yang berbeda; (6) Siswa kadang mendapatkan tugas yang berbeda di kelas; (7) Siswa kadang mendapatkan PR yang berbeda; (8) Guru kadang bekerja dengan individu atau bersama kelompok kecil sedangkan siswa lainnya bekerja secara individu atau bersama kelompok kecil.
 
Jika ada elemen tertentu yang menurut guru harus diterapkan di awal tahun ajaran, maka penting untuk memastikan terlebih dahulu bahwa elemen-elemen tersebut merupakan bagian dari diskusi. Jika siswa memerlihatkan kapabilitas yang dirasa mampu mereka kendalikan di awal tahun, maka membuat daftar yang bisa fleksibel diubah atau ditambahkan merupakan ide yang bagus (mungkin bisa dibuat di atas kertas grafik (kertas bermotif kotak-kotak) jadi siswa bisa memantau ide-ide yang ditulis dan memeriksanya kembali jika butuh)), yang akan terus bertambah seiring berjalannya tahun karena siswa akan terus mendapatkan dan menambahkan ide dan rutinitas baru. Perlu diperhatikan bahwa saat semua orang mulai menjalankan ide-ide tersebut, maka nanti kita harus menyempurnakan ide-ide tersebut.
 
Setelah siswa dan guru mengusulkan seperangkat elemen dasar yang diperlukan untuk mewujudkan kelas beriferensiasi, fleksibel, dan responsif, inilah saatnya untuk meninjau konsekuensi yang mungkin ditimbulkan oleh elemen-elemen tersebut terhadap semua yang terlibat.  Guru mungkin bisa memulainya dengan mengatakan, “Coba amatilah ide-ide yang telah kita kemukakan dan bahas mengenai apa saja yang perlu dilakukan atau dihindari agar ide-ide ini bisa berjalan dengan baik. Ini bisa membantu kita untuk memulai tahun ajaran dengan lancar”.
 
 
Pertama, sajikan elemen-elemen penting yang diperlukan untuk menerapkan diferensiasi ........... selengkapnya mengenai terjemahan ini dapat dilihat di sini

 

Tags: