Membaca yang Dinamis & Interaktif

Redaksi 18 Oktober 2021

Global Knowledge - StoryWalk mendorong kolaborasi dan refleksi, serta mengubah kebiasaan kurang bergerak ketika membaca menjadi kegiatan yang dinamis dan interaktif.
 
Anda sedang mencari kegiatan yang menyenangkan dengan melibatkan pikiran dan tubuh siswa anda melalui buku? Emily Crawford dan rekannya, Jubilee Roth, menemukan StoryWalk ketika bermaksud mencari kegiatan seru sebagai bagian akhir semester bersama siswanya.
 
Proyek StoryWalk digagas Anne Ferguson pada 2007 dengan bekerja sama Perpustakaan Kellogg-Hubbard  di Montpelier, Vermont, Amerika Serikat.
 
Ferguson sedang mencari cara agar anak dan orang tua dapat beraktivitas bersama ketika dia kemudian menemukan ide StoryWalk.
 
Semenjak itu, StoryWalk telah dipasang di lebih dari 300 perpustakaan umum di Amerika Serikat dan negara-negara lain seperti Malaysia, Rusia, Pakistan, dan Korea Selatan.
 
Membaca umumnya tidak dianggap sebagai aktivitas yang dinamis. Namun, siswa yang berpartisipasi dalam StoryWalk, mereka tidak hanya mendengar cerita yang bagus tetapi juga merangsang bagian otaknya yang biasanya beristirahat ketika mereka membaca dengan posisi duduk.
 
Alih-alih meringkuk di tempat membaca yang nyaman, pembaca disajikan dengan halaman berwarna-warni dari buku bergambar. Halaman bacaan itu ditampilkan satu per satu di tiang pancang dan bisa ditemukan ketika mereka berjalan kaki di sepanjang jalan setapak di dalam atau di luar ruangan.
 
Pembaca dapat meluangkan waktu dan merenungkan segala nuansa perasaan yang muncul dari alur cerita, membuat kesimpulan tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dan membahas bersama dengan teman berjalan kakinya. 
 
Cara menyiapkan StoryWalk
 
Anda akan memerlukan 2 buku apa pun yang anda kehendaki karena halaman dari sebagian besar buku cerita berupa ilustrasi bolak balik. Setelah membongkar lembar-lembar halaman buku, laminating lembar itu dan pasang di tiang.
 
Pastikan pasak pada tiang tempat memasang lembar buku itu cukup tinggi sehingga dapat dibaca tanpa harus berjongkok. Atur jarak antartiang sedemikian rupa sehingga pembaca tidak perlu bergegas ataupun terlalu jauh berjalan kakinya di sepanjang alur yang anda pilih.
 
Sangat penting untuk mempertimbangkan di mana anda menentukan jalur StoryWalk itu berada. Semula Emily tidak mempertimbangkan hal ini. Sebagai contoh, alur StoryWalk-nya cukup dekat dengan ruang kelas 3, yang jendelanya terbuka karena cuaca waktu itu sedang hangat.
 
Akibatnya, bukan saja proses StoryWalk-nya mengganggu kelas tersebut. Namun, semua siswa kelas 3 menjadi tahu akhir cerita terlebih dulu sebelum mereka berkesempatan mempraktikkan StoryWalk
 
Memilih buku untuk StoryWalk
 
Buku yang tepat pada waktu yang tepat dapat membuat segala sesuatunya berbeda. Karena buku menjembatani kesenjangan antara apa yang pembaca ketahui dan apa yang belum mereka alami, pemilihan buku yang cermat dapat membuat StoryWalk menjadi sangat berpengaruh. Berikut beberapa hal yang perlu diingat: (1) Idealnya kegiatan ini memakai buku yang berilustrasi karena ceritanya pendek dan menarik perhatian siswa. Pembelajaran sosial dan emosional dapat didukung dengan buku-buku yang bergambar yang mencakup tema-tema seperti kesadaran diri, manajemen diri, efisiensi diri, dan kesadaran sosial; (2) Penting untuk tetap membuat pembaca tertarik sehingga mereka melanjutkan langkahnya hingga sampai di akhir jalur. Cobalah memilih buku dengan akhir yang mengejutkan dan membuat mereka menebak-nebaknya! Akan membantu jika dipilih buku yang mudah dibaca dan isinya ada kaitan dengan apa yang terjadi di masyarakat; (3) Selain cerita fiksi, buku cerita nonfiksi juga efektif untuk dipakai dalam StoryWalk. Bayangkan mempelajari bagian-bagian sel sembari berjalan kaki menjelajah tiang antarlembar halaman buku atau membaca cerita instruksional how-to atau kisah biografi tokoh sejarah terkemuka.
 
Perilaku siswa selama mengikuti StoryWalk
 
Mengatur perilaku siswa selama StoryWalk bisa menjadi agak menyulitkan, jika anda tidak mengantisipasi apa yang akan terjadi pada diri siswa sebelumnya. Sama seperti kegiatan field tripStoryWalk melibatkan banyak ruang berbagi, yang membutuhkan seperangkat norma sosial berbeda. Emily mengamati bahwa siswa yang lebih muda khususnya tidak terbiasa bepergian dalam kelompok besar.
 
Jelaskan kepada siswa bagaimana memastikan bahwa setiap orang dapat melihat lembar halaman di tiang sembari anda berjalan. Baris depan harus membungkuk agar baris belakang bisa melihat.
 
Siswa perlu berdiri membentuk setengah lingkaran di setiap tiang yang terpasang lembar halaman buku. Anda dapat, tentu saja, mengatur peserta StoryWalk anda menjadi beberapa kelompok kecil dari seluruh jumlah siswa di kelas, yang tentu akan membuat segalanya berlangsung lebih mudah.
 
Penting juga menunjukkan kepada siswa cara berjalan kaki yang baik dan berbicara tentang isi buku. Langkah ini untuk menghindari siswa hanya sekadar berjalan kaki cepat sepanjang alur StoryWalk dan kehilangan manfaat membaca bersama melalui cara ini.
 
Mintalah siswa mengangkat tangan mereka untuk membaca suatu lembar halaman dengan suara nyaring. Ajukan pertanyaan yang merangsang antarhalaman untuk membantu mereka menghubungkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri, supaya mereka lebih tertarik masuk ke dalam alur cerita. Dorong siswa untuk meluangkan waktu dan berinteraksi satu sama lain, berbagi pemikiran mengenai alur dan karakter cerita.
 
Kegiatan tambahan
 
Setelah menyelesaikan StoryWalk, kegiatan tambahan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam bagi siswa. Di sisi lain, hal itu memicu adanya percakapan antarsiswa atau guru dan siswa sehingga secara tidak langsung pembelajaran tetap berlangsung.
 
Siswa dapat mencoba menulis akhir ceritanya sendiri atau bahkan menambahkan bagian itu di akhir cerita aslinya. Guru bisa membantu siswa kelas bawah untuk menentukan kata yang tepat dari ungkapan ide akhir cerita mereka. Sedangkan untuk siswa kelas atas dapat membuat resensi bersama teman sebaya, menulis tanggapan bersama, atau menuangkan ide akhir cerita itu dalam bentuk ilustrasi atau animasi.
 
Ajak siswa untuk berbagi cerita tentang momen ketika mereka melakukan sesuatu seperti yang ditampilkan dalam cerita. Sebelum Emily dan Jubilee melakukan StoryWalk dengan memakai buku berjudul “Baghead”, dia mengangkat kantong kertas yang sudah dilubangi untuk membuat sebuah bentuk wajah.
 
Dia bertanya kepada siswa,“mengapa seseorang memakai ini?” Siswa kemudian menuliskan prediksi mereka di selembar kertas.
 
Usai kegiatan StoryWalk, mereka memeriksa coretan prediksi mereka tadi untuk menulis apakah tebakannya tadi benar-benar menjadi kenyataan atau tidak, dan kejutan apa saja yang muncul dalam buku cerita tersebut.
 
Ada beberapa siswa menuliskan momen yang terjadi saat mereka mencoba memotong rambutnya sendiri, seperti yang dilakukan oleh karakter protagonist dalam cerita itu, dan apa yang terjadi selanjutnya. (Bagus Priambodo/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: