Memacu Guru Tingkatkan Kemampuan Numerasi Peserta Didik

Redaksi 10 Maret 2022

Jakarta, Kemendikbudristek — Sebagai guru atau tenaga kependidikan menumbuhkembangkan keaktifan peserta didik sehingga mereka dapat mengaplikasikan kemampuan numerasi dengan baik adalah tanggung jawab yang besar. Kemampuan numerasi yang dimaksud adalah konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung yang digunakan untuk kecakapan hidup sehari-hari.

“Guru didorong dapat mendampingi peserta didik dalam mengakses, menggunakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan informasi dan ide matematika untuk mengelola berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan kompetensi numerasinnya,” ujar Wahid Yunianto selaku SEAMEO QITEP in Mathematics dalam webinar yang bertemakan “Diseminasi Peraturan Dirjen GTK tentang Kerangka Kompetensi Literasi dan Numerasi”, Selasa (8/3).

Numerasi menurut Wahid Yunianto merupakan kemampuan berpikir untuk menghasilkan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika yang dapat menyelesaikan masalah sehari-hari dalam berbagai jenis konteks yang relevan dan individu.
 
Simak berbagai kegiatan LPMP Provinsi Jawa Timur melalui Kanal You Tube LPMP Provinsi Jawa Timur
 
Dengarkan Podcast MSG untuk Pendidikan di AnchorSpotify dan Jelita (Jendela Literasi Kita)
 
Terdapat tujuan kerangka kompetensi numerasi yaitu 1) melengkapi model kompetensi guru dengan peta terperinci mengenai kompetensi literasi dan kompetensi numerasi, 2) memberikan acuan bagi guru agar mampu mematahkan perjalanan pembelajaran (learning journey) diri terkait literasi dan numerasi secara komprehensif dan terstruktur, dan 3) memberikan acuan bagi lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan dalam merancang dan melaksanakan program pelatihan dan pelatihan guru terkait kompetensi literasi dan kompetensi numerasi.

Tujuan kerangka kompetensi numerasi juga mencakup tiga aspek yaitu pengetahuan profesional, praktik pembelajaran profesional, dan pengembangan profesi.
Dicky Susanto selaku dosen dari Calvin Institute of Technology Head of Instructional Design menjelaskan bagaimana guru membangun pengalaman numerasi secara informal di dalam pembelajaran di sekolah.

“Tahap pertama, guru menyadari kesadaran tetapi belum ada tindakan. Kedua, guru mendeskripsikan pengalaman aktivitas numerasi kedalam sekolah oleh peserta didik. Ketiga, guru lebih banyak mulai menggunakan pengalaman itu dan diterapkan dalam pembelajaran. Keempat, guru semakin bisa menyatukan pengalaman-pengalaman yang dibawa untuk membangun pembelajaran numerasi di dalam kelas,” urainya.

Dicky menambahkan, kompetensi guru dibutuhkan untuk menyadari bahwa numerasi bukan hanya sekadar konsep yang abstrak tetapi bagaimana mengaplikasikannya dalam permasalahan sehari-hari. Numerasi itu sendiri terdiri dari beberapa jenjang yaitu tahap berkembang, tahap layak, tahap cakap dan tahap mahir.

“Harapan saya, guru dapat menyatukan semua unsur-unsur baik dari matematika dan berbagai macam konsep dan dari berbagai macam mata pelajaran menjadi satu pembelajaran yang utuh,” kata Dicky.

Selanjutnya, Nurina Ayuningtyas selaku dosen STKIP Sidoarjo memberikan pemaparan terkait praktik pembelajaran profesional yang terdiri atas lingkungan pembelajaran, perencanaan, pembelajaran dan asesmen. Aspek lingkungan pembelajaran mencakup lingkungan belajar yang dapat mendorong peserta didik untuk terampil berpikir mandiri, mengambil risiko dan penyelidikan kritis untuk membelajarkan numerasi.

Dalam aspek perencanaan, Nurina menjelaskan bahwa guru dapat menyusun rencana pembelajaran matematika yang sistematis dan efektif dengan mengaitkan topik-topik matematika dan mata pelajaran lainnya seperti IPA dengan matematika tentang pengukuran tata surya maupun olahraga dengan matematika tentang pengukuran jarak kecepatan waktu.

Dalam aspek pembelajaran, guru mengembangkan ide matematis dengan mengaitkan berbagai representasi konsep matematis pada perangkat pembelajaran untuk membelajarkan numerasi serta mendorong diskusi dengan mengajukan pertanyaan yang membangun penalaran peserta didik dan menghubungkan konten, konteks, proses dan alat matematika.

Sementara dalam aspek asesmen, guru dapat membandingkan beberapa strategi penyelesaian dan jawaban peserta didik yang berbeda dan menilai yang paling efektif dalam menyelesaikan suatu permasalahan numerasi. (www.kemdikbud.go.id/Ratna P./Winda S./Mei S./Crespo B/Denty A/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: