Melirik Sejenak Kegunaan Studi Banding ke Luar Negeri

Redaksi 17 Januari 2019

Tim Bantu Guru Melihat Dunia (BGMD) dari Komisi Pendidikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia mengadakan survei seputar perlukah studi banding ke luar negeri untuk guru. 

Survei yang bertujuan untuk mengetahui pendapat terhadap studi banding ke luar negeri ini dilakukan dari tanggal 25 hingga 26 Desember 2017. Ada 220 responden dengan mayoritas perempuan (52,3 persen) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan di luar negeri.

President PPI Tiongkok Fadlan Muzakki mengatakan, hasil survei menunjukkan bahwa 90 persen responden mengatakan perlu dilakukan studi banding ke luar negeri. Alasannya, guru perlu membuka wawasan yang luas bagaimana jiwa seorang guru seharusnya. Standar seorang guru yang masih nasional bisa dinaikkan ke standar internasional. Alasan kedua perlu studi banding sebagai bahan perbandingan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam proses mengajar.

Di Indonesia, saat itu masih sangat banyak guru honorer. Biasanya mereka baru saja selesai studi S1 FKIP dan kemudian menjadi guru yang dimana metode mengajarnya pasti mirip dengan guru-guru sebelumnya.

Dengan melakukan studi banding keluar negeri metode belajar-mengajar yang selama ini dipakai di Indonesia dapat terupgrade dan tentunya akan menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan.

Selain itu, dengan studi banding akan merasakan first hand experience alias pengalaman langsung yang juga tidak kalah penting. Ini akan membuka potensi networking antara guru, melampaui batasan ruang dan waktu, juga negara.

Studi banding juga menambah jejaring serta engagement para pengajar dengan dunia pendidikan internasional sehingga diharapkan akan lahir metode-metode mengajar atau mendidik yang kian efektif dan efisien bagi setiap insan pembelajar di tanah air.

Alasan terakhir, terang Fadlan, karena Indonesia belum punya cukup ahli yang memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk mengambil keputusan dan menjalankan tugas negara. Kalaupun selama ini studi banding dirasa kurang efektif, yang salah bukan studi bandingnya.

Melainkan kemampuan belajar orang-orangnya, tempat studi bandingnya, ketidaksesuaian topik studi dengan keadaan di lapangan, dan hal-hal non-teknis lainnya.

Studi banding bukannya hanya prioritas bagi guru, siswa pun membutuhkan hal tersebut

Lihat saja para siswa SMA Selamat Pagi Indonesia, yang 2 tahun silam (2016) bertandang ke Eropa untuk mendidik para pelajarnya mampu menjadi pelajar yang berjiwa entrepreneur.

Julianto Eka Putra CEO Sekolah Selamat Pagi Indonesia mengatakan, puluhan siswa nya saat itu berkunjung ke beberapa negara di antaranya Itali, Swiss, Perancis, Belanda dan Belgia.

Mereka belajar melihat bagaimana cara melayani orang, ide kreatif apa yang berkembang di Eropa dan tren apa yang sedang berkembang di Eropa.

Menurut Julianto, dengan mengunjungi Eropa, para siswa bisa melihat sekaligus langsung belajar tentang apa saja yang ada di sana.

Selama di Eropa, mereka diantaranya menonton bola di San Siro, Milan. Kunjungan ini untuk menunjukkan bagaimana sepak bola di Eropa bisa dikemas dengan baik sehingga menjadi industri yang begitu mahal. Di samping itu, mereka juga berkunjung ke satu desa kecil di Perancis yang dikemas luar biasa meskipun termasuk desa tradisional. (Bagus Priambodo)

Tags: