Melahirkan Pustakawan Profesional

Redaksi 28 Desember 2019

Teropong - Upaya untuk memperkuat kemampuan literasi para pelajar di Indonesia membutuhkan dukungan berupa infrastruktur seperti perpustakaan. Namun, keberadaan perpustakaan juga akan sia-sia apabila tidak diimbangi dengan banyaknya pustakawan yang kompeten, inovatif, serta kreatif. Ibarat kata, perpustakaan dan pustakawan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Berdasarkan data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jumlah pustakawan di Indonesia hingga Desember 2019 tercatat sebanyak 3.578 pustakawan. Sementara, jumlah perpustakaan di Indonesia hingga 164.610 perpustakaan. Banyaknya jumlah perpustakaan ini menempatkan Indonesia di urutan kedua negara-negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak. Di atas Indonesia, ada India yang memiliki 323.065.

Memang, beban untuk mendongkrak kemampuan literasi tidak bisa diletakkan semata pada perpustakaan dan pustakawan. Namun, setidaknya mereka inilah yang menjadi salah satu motor penggerak literasi di Indonesia.

Ironisnya, meski Indonesia berada di peringkat kedua negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak, namun tingkat literasi di Indonesia rendah. Berdasarkan riset Central Connecticut State University, Amerika Serikat, yang dirilis pada Maret 2016, Indonesia berada pada posisi kedua terbawah dari 61 negara dalam hal literasi. Tak jauh berbeda, studi PISA 2018 yang digelar The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terhadap para pelajar 15 tahun di sekitar 70 negara, menempatkan para pelajar Indonesia di peringkat kedua terbawah dalam hal kemampuan literasi.

Jumlah perpustakaan yang melimpah ini merupakan modal yang apik untuk mendongkrak kemampuan literasi para pelajar di Indonesia. Kini, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah bagaimana mendorong minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan.

Untuk dapat melakukan itu, kita perlu terobosan. Pertama, kita membutuhkan para pustakawan yang mampu memetakan kebiasaan milenial dan memanfaatkannya untuk merancang program-program yang bisa mengundang mereka untuk mengunjungi perpustakaan. Dengan demikian pula, profesi pustakawan tak lagi hanya dipandang sebagai orang-orang yang membantu mencarikan buku bagi para pengunjung perpustakaan.

Kedua, kita membutuhkan para pustakawan yang bisa mendorong terjadinya transformasi layanan perpustakaan menuju perpustakaan yang berbasis teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan.

Upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut telah dilakukan Perpusnas. Salah satunya dengan terus menggencarkan sertifikasi pustakawan untuk mewujudkan pustkawan yang profesional dan kompeten. Selain itu, Perpusnas juga memberikan penghargaan Pustakawan Terbaik tingkat Nasional. Melalui penghargaan ini, diharapkan para pustakawan di Indonesia semakin terdorong untuk berkarya dan berinovasi dalam meningkatkan kemampuan literasi masyarakat.

Selain itu, apabila kompetensi pustakawan meningkat, maka kita bisa berharap kualitas perpustakaan di Indonesia terus berkembang. Pada akhirnya, masyarakat akan terus terdorong untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berguna untuk mengangkatnya dari kebodohan dan kemiskinan.

Berikutnya, seorang pustakawan juga harus didorong untuk lebih humanis serta aktif terlibat dalam komunitas-komunitas. Hal ini penting karena di masa depan, perpustakaan dituntut untuk tidak sekadar menjadi ruang baca, tetapi juga menjadi wadah untuk komunitas-komunitas tersebut saling berkolaborasi. Kecenderungan ini bisa kita lihat dengan semakin menjamurnya ruang-ruang seperti coworking space di berbagai kota yang menambahkan fasilitas-fasilitas perpustakaan atau ruang baca. (Bagus Priambodo/Sumber bacaan & narasi: https://www.kemdikbud.go.idhttps://www.dw.comhttps://nasional.kompas.comhttps://www.kompas.comhttps://www.jawapos.comhttps://tirto.idhttp://www.chinadaily.comhttps://journals.sagepub.comhttps://learningenglish.voanews.comhttps://www.liputan6.comhttps://news.detik.comhttps://wow.tribunnews.comhttps://www.academia.eduhttps://nasional.republika.co.idhttps://www.antaranews.com/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google Image)

Tags: