Media Belajar Simpel Pemacu Kecerdasan

Redaksi 05 Juli 2020

Hidup Guruku -- Tantangan berpikir cerdas dan kreatif bagi guru.

Pembukaan tahun ajaran baru 2020/2019 tinggal menghitung hari. Semua pihak yang terkait dengan proses pendidikan sedang sibuk menyiapkan terobosan baru; media pembelajaran, metode pembelajaran, dan sistem pendidikan terbaik dalam menghadapi era baru masa berakhirnya pandemi ini. Gadget, selain berfungsi sebagai media komunikasi, pada masa pandemi telah menempati urutan pertama sebagai media terpenting untuk menciptakan ruang belajar, seminar, dan kegiatan kreatif berbasis digital lainnya. “Terpaksa belajar” telah dialami oleh banyak orang, khususnya guru dan orangtua yang memiliki putera-puteri di tingkat sekolah dasar dan menengah.

Guru “memaksakan diri” untuk belajar mengenal berbagai platform ruang belajar, belajar membuat soal berbasis Teknologi Informasi (IT), belajar membuat desain informasi menarik dengan aplikasi-aplikasi yang tinggal pilih, dan belajar membuat assessment yang tetap mampu memotret perkembangan siswa-siswinya yang “terpaksa” #belajardarirumah.

Menuju era normal baru, tantangan guru dan orangtua semakin berat rasanya. Masa belajar dari rumah yang sudah dilalui selama hampir empat bulan ini, kemungkinan besar masih harus berlanjut khususnya di daerah-daerah dengan zona merah. Kesabaran, kedisiplinan, kebersihan, dan kepedulian ternyata masih belum lulus uji. Sisi lain yang harus diperhatikan, adalah kemungkinan efek #belajardarirumah secara psikologis, bagi anak, orangtua, dan juga guru. Rasa bosan, stress, menggampangkan sesuatu, dan pribadi individualis. Beberapa psikolog menyatakan kemungkinan terjadinya Declining Social Relationship (DCR) atau hubungan sosial yang meluruh di kalangan para siswa. Hal ini bisa menjadi PR baru di era menuju normal ini, khususnya di saat sekolah kembali dibuka nantinya.

Jika di beberapa daerah, sebut saja pendidikan di desa dan daerah terpencil, proses belajar mengajar masih bisa dilaksanakan dengan mengatur jadwal pertemuan secara langsung. Maka, guru yang mengajar di kota, khususnya zona merah harus meningkatkan kompetensi pengajaran berbasis IT. Di sisi lain School Bonding Attachment merupakan hubungan yang dimiliki oleh siswa dengan sekolah dan pihak-pihak yang ikut serta berkontribusi di sekolahnya (guru dan personel sekolah).

Pada skala school bonding ini, school bonding diukur melalui empat dimensi sesuai dengan pendapat dari Maddox dan Prinz (2003), yaitu attachment pada sekolah (siswa merasa bangga, sense of belonging, aman, dan nyaman terhadap sekolahnya), attachment pada personel sekolah (siswa merasa diperhatikan, didukung, dan dipahami oleh guru dan staf di sekolahnya), komitmen pada sekolah (siswa berupaya untuk memprioritaskan sekolah dan mengikuti norma atau peraturan yang berlaku di sekolahnya), dan keterlibatan pada sekolah (siswa mengikuti dan terlibat dalam kegiatan di sekolahnya dengan melihat pada frekuensi keikutsertaan dan kontribusi pada setiap kegiatan yang ada di sekolah).

Nah! Pembelajaran jarak jauh, less school bonding, dan bentuk penilaian (assessment) yang tidak cukup memenuhi syarat dalam memotret semua potensi yang dimiliki siswa secara langsung, membutuhkan daya kreativitas tinggi dan inovasi pembelajaran yang menarik bagi siswa. Daya kreativitas dan inovasi guru di daerah zona merah sedang diuji, para guru harus tetap mampu menciptakan desain suasana belajar yang menyenangkan saat pelaksanaan pengajaran secara daring atau on-line.

Aktifkan semua kecerdasan melalui media sederhana

Multiple Intelegensi (MI) Howard Gadner, sejak menjadi topik menarik untuk mengembangkan kemampuan anak, hingga saat ini telah mengalami banyak perkembangan kajian. Saya tentu tidak akan fokus dengan masalah MI ini. Sekedar saling mengingatkan saja, bahwa orangtua dan guru berkewajiban untuk melihat, memahami, dan melejitkan potensi anak didik. Karena, dalam suasana normal, terkadang kita kurang detail melihat potensi anak-anak kita.

Proses klasikal yang lebih sering dilakukan saat sekolah, merupakan tantangan guru untuk melihat lebih jeli kecenderungan potensi anak didik di sekolah. Saat belajar dari rumah, tantangan ini menjadi 50:50 untuk orangtua dan guru. Guru berkewajiban menciptakan model pembelajaran yang mampu mengaktifkan semua kecerdasan, orangtua secara otomatis menjadi observer dan konselor tumbuh kembang anak-anak mereka. 

Pemilihan media pembelajaran yang menjadi daya dukung suksesnya pemahaman materi, daya kreativitas, dan bisa digunakan sebagai percobaan yang menunjukkan kecenderungan kecerdasan siswa, harus tepat dan memiliki daya guna. Selain itu, bahan mudah didapatkan di rumah dan lingkungan sekitar rumah. Mengapa demikian? Agar orangtua tidak kesulitan dan bisa belajar bersama dengan anak dengan menyenangkan.

Bekas botol minuman bisa menjadi salah satu pilihan. Beberapa kegiatan terintegrasi bisa dilakukan dengan menggunakan media botol bekas ini. Siswa dan orangtua diajak membuat berbagai macam kreasi gerak olahraga dengan media botol minuman. Misalnya, botol diisi air, pasir, bahkan sampah plastik, sekaligus membuat ecobrick dan digunakan sebagai alat olahraga. Dari karya ini, siswa juga bisa menggunakannya sebagai bahan belajar sains; sampah organic dan non organic, bahaya bahan plastik, dan lainnya. Siswa juga bisa belajar numerikal; menghitung satuan berat, harga produk, dan kelipatan.

Pembelajaran ilmu sosial dan akidah akhlak sudah tentu bisa dilakukan melalui media alat olahraga tersebut. Sikap peduli lingkungan, usaha menyelamatkan Sumber Daya Alam, bersyukur kepada Tuhan YME, menjadi pribadi yang menjaga kebersihan, dan seterusnya. Tidak terkecuali bidang seni, pasti bisa menggunakan media botol bekas untuk kegiatan re-use dan re-cycle. Satu media bisa dijadikan bahan ajar selama satu minggu atau lima hari efektif sekolah. Sederhana tapi hasil belajar istimewa kan?

Sebagai motivasi belajar, saya mengutip falsafah Pendidikan sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. “Materi pembelajaran penting, metode pembelajaran lebih penting daripada materi. Guru lebih penting daripada metode, dan ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri”. Dan guru saat ini adalah orangtua dan para pendidik di sekolah.

Kita boleh fokus pada persiapan kebutuhan era normal baru pendidikan, tetapi kita tidak boleh melupakan kebutuhan vitamin kasih dan sayang kepada anak didik kita. Buatlah forum yang menyenangkan, pendekatan individu dan kelompok yang saling menguatkan, melalui proses pembelajaran semua dari kita wajib belajar. (Hamdiyatur Rohmah, Guru SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya & nara sumber Program MOZAIK di Radio Suara Muslim Surabaya/Judul asli opini/gagasan: Media Belajar yang Menghidupkan Kecerdasan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tulisan di atas juga telah dimuat di Harian (Koran) Jawa Pos, Kamis, 4 Juli 2020 dengan judul: Tantangan Berpikir Cerdas dan Kreatif bagi Guru, versi online dapat dilihat di: https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20200704/282686164507403

Tags: