Matematika Itu Menantang, Terutama Aljabar

Redaksi 02 Juli 2019

Cerita peserta OSN 2019 - Kesukaannya pada matematika muncul setelah mengikuti lomba-lomba pelajaran semasa SD. Bagi Mochammad Fariz Rifqi Rizqulloh, 13, soal-soal aljabar selalu membuatnya tertantang. Kini, dia telah tiga kali mewakili Provinsi Jawa Timur (Jatim) di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Meja makan di ruang tengah rumah orang tua Fariz di Jl Empu Kanwa, Jombang, bukan sekadar tempat untuk makan bersama keluarga. Fariz lebih suka belajar di sana, mengerjakan satu demi satu soal latihan matematika untuk olimpiade sains.

Setiap hari dia rutin meluangkan waktu 30 menit hingga satu jam untuk belajar. Lalu lalang orang di sekitar ruang tengah atau menonton televisi di area sebelah tidak mengganggu konsentrasinya.

Mejanya luas sehingga dia bebas bergerak serta membuka buku-buku catatan dan kumpulan soal yang tersebar di sana-sini. Saat menemui kesulitan, Fariz sering bertanya langsung ke ibunya, Maria Ulfah.

“Soal log (logaritma, red.) ini dikerjakan, nggak, bu?” tanya Fariz kepada Ulfah.

“Kalau memang tidak termasuk soal untuk kategori kelas VIII, ya dilewati dulu,” jawab Ulfah.

Soal logaritma sin cos tan diperuntukkan peserta OSN SMA. Jika siswa SMP mengerjakan soal matematika memakai logaritma, maka dia akan didiskualifikasi.

Saat ini, Fariz baru naik ke kelas IX SMPN 2 Kabupaten Jombang. Meski demikian, dia mewakili Provinsi Jawa Timur untuk kategori kelas VIII OSN SMP Tingkat Nasional di Yogyakarta pada 30 Juni – 6 Juli 2019. Fariz sendiri sekarang menduduki peringkat 5 OSN SMP bidang matematika se-Jatim dan posisi 26 tingkat nasional.

Sang ibu berperan pula sebagai pendamping ketika Fariz mengerjakan soal-soal latihan olimpiade sains. Ulfah rajin mencetak kumpulan soal yang diberikan tutor dari Surabaya agar Fariz bisa mempelajari dan mengerjakannya di rumah.

“Ada grup WhatsApp untuk tutor, orang tua dan murid. Soal-soal matematika biasanya di-share di grup,” ucap Ulfah.

Namun, Fariz tidak diperbolehkan bergabung karena khawatir dapat mengganggu konsentrasi belajarnya. Nah, ketika Fariz selesai mengerjakan soal latihan, Ulfah pula yang memeriksa hasilnya. Dia sudah memegang kunci jawaban yang dikirim oleh tutor matematika.

“Orang tua memang harus aktif mendampingi jika anaknya berminat ikut olimpiade sains atau lomba pelajaran lainnya,” ujar istri Heru Darmawan ini.

Sesi belajar dengan tutor matematika tersebut rutin dilakukan Fariz saat liburan sekolah atau menjelang OSN. Di tempat kursus, dia belajar matematika lima jam sehari dengan waktu istirahat satu jam di antaranya. Biasanya Fariz meluangkan waktu seminggu menginap di Surabaya.

Dia tidak sendirian, ada banyak siswa yang ikut kursus matematika, baik itu dari sekitar Jatim atau provinsi lain. Beberapa di antaranya sering dijumpai Fariz saat kompetisi matematika.

Semua anggota keluarga pun mendukung sepenuhnya. Fariz adalah anak bungsu dari tiga bersaudara laki-laki. Kedua kakaknya, Mochammad Hilmi Rizka Firdaus dan Mochammad Zaky Raihan Zahrandany sudah berkuliah dan baru lulus SMA.

Mulai dari nol

Menjadi peserta OSN SMP bidang matematika tingkat nasional, bukan berarti Fariz selalu menduduki peringkat nilai tertinggi di kelasnya. Justru perkenalan awalnya dengan lomba sains ketika dia tidak berada di posisi tiga besar di kelas, meskipun nilai matematikanya selalu tinggi.

Waktu itu, dia masih tercatat sebagai siswa SDN Kepanjen 2 Jombang. Sekolah mewajibkan siswa mengikuti lomba pelajaran matematika dan IPA yang diselenggarakan sebuah bimbingan belajar di Kabupaten Jombang.

“Tapi, saya bingung sebab ada dua pelajaran yang dilombakan,” kenang Fariz.

Seiring waktu, peraturan lomba berubah. Mata pelajaran matematika dan IPA dipisah menjadi dua bidang lomba berbeda. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Fariz memilih bidang matematika.

“Matematika itu menantang, terutama aljabar. Saya selalu penasaran dengan pertidaksamaan (salah satu materi dalam aljabar, red.),” ungkapnya.

Soal yang susah dikerjakan tentu dijumpai pula oleh Fariz. Nah, ketika merasa kesulitan, dia akan berkonsultasi dengan tutornya.

Selain OSN, untuk mengasah kemampuannya di bidang matematika, Fariz kerap mengikuti lomba matematika yang diselenggarakan sebuah SMP, SMA atau universitas. Dia juga bergabung kegiatan ekstrakurikuler Matematika di SMPN 2 Jombang. Pembinaan dan lomba tim kadang diadakan untuk anggota ekskul.

Fariz kerap didapuk menjadi tutor bagi teman sebayanya. Guru di sekolah sering menyuruhnya maju ke depan kelas untuk menjelaskan cara penyelesaian soal-soal matematika.

Ada juga teman sekolah yang berkonsultasi soal matematika melalui aplikasi WhatsApp. “Saya menjelaskan step by step pengerjaan soal memakai WhatsApp,” kata Fariz yang sehari-hari bersepeda ke sekolah ini.

Fariz juga sudah mampu mengatur prioritas aktivitasnya. Kalau ada pekerjaan rumah mata pelajaran lain, maka dia akan menyelesaikan tugas-tugas itu terlebih dahulu. Baru kemudian beralih mengerjakan soal-soal latihan OSN. Tidak heran jika nilai semua mapel stabil mencapai sembilan ke atas.

Setelah semua tugasnya selesai, barulah dia bersantai. Fariz suka bermain game online memakai smartphone dengan beberapa teman sekolah. Sering dia jatuh tertidur sembari bermain sebab jam telah menunjukkan pukul 20.30 WIB, waktunya untuk beristirahat.

“Saya selalu mengingatkan Fariz untuk bersosialisasi di sela-sela kesibukannya belajar mapel sekolah atau olimpiade sains. Meski pandai, sebaiknya nggak kuper,” imbuh Ulfah.

Senang berlatih di LPMP Jatim

Sepanjang Training OSN SMP Provinsi Jatim pada 17 - 21 Juni 2019, Fariz merasa senang sebab bertemu kembali dengan beberapa teman yang dikenalnya di ajang OSN. Selain itu, dia juga mendapat ilmu baru tentang soal matematika.

“Pembinaan kemarin cukup membantu. Kami mengerjakan soal-soal latihan matematika seperti biasanya, me-refresh materi yang sudah dipelajari dan mendapat wawasan baru,” tuturnya.

Waktu istirahat dimanfaatkan Fariz untuk bermain badminton dengan peserta lainnya di lantai 6 Gedung LPMP Jatim. “Suasananya juga asyik karena ada banyak teman dan tidak membosankan. Saya paling suka dengan menu makanannya, sesuai selera,” gurau penggemar film Spongebob ini.

Selama lima hari pembinaan, semua peserta yang mewakili Provinsi Jatim di ajang OSN Tingkat Nasional ditempa mengerjakan soal-soal dalam berbagai bentuk. Fariz sendiri membutuhkan waktu 15 hingga 20 menit untuk menyelesaikan satu soal latihan matematika. Agak berbeda ketika di ajang OSN Tingkat Nasional. Dia membutuhkan waktu sekitar 30 menit per soal.

“Soalnya lebih sulit, jadi membutuhkan waktu pengerjaan agak lama,” ungkapnya. Lima soal matematika biasanya diberikan bagi peserta OSN SMP Tingkat Nasional setiap hari. Nah, dari jadwal OSN yang berlangsung 30 Juni – 6 Juli 2019, mereka berkompetisi mengerjakan soal selama dua hari saja.

Fariz terhitung sudah ketiga kali ini mewakili Provinsi Jatim untuk OSN Tingkat Nasional.

Pertama, ketika masih duduk di kelas V SD pada 2016. Dia berhasil memperoleh medali perunggu untuk bidang Matematika. Kedua, OSN SMP Tingkat Nasional di Padang pada 2018 dan ketiga di Yogyakarta pada 2019 ini.

OSN bukan sekadar lomba bagi Fariz. Ajang olimpiade sains ini menjadi pintu untuk mencapai cita-citanya menuntut ilmu lebih tinggi lagi. Dia ingin memperoleh beasiswa dan mendaftarkan diri ke universitas teknologi di Indonesia maupun negara lain.

“Yang pasti, saya nggak ingin ambil jurusan matematika meski sekarang selalu ikut olimpiade matematika. Inginnya nanti kuliah di jurusan pengembangan dari matematika,” ungkapnya.

Fariz selalu berusaha menikmati setiap jadwal kegiatan OSN. Menurutnya, lomba juga menjadi sarana bersantai. Sebab, di antara jadwal lomba, peserta biasanya diberikan waktu wisata ke tempat yang sudah diatur panitia penyelenggara lomba.

“Seru bisa jalan-jalan gratis,” selorohnya. Sedangkan uang hasil memenangkan berbagai lomba sains ditabung dan bukunya masih dipegang oleh ibunya.

Ulfah menuturkan bahwa dirinya senang dengan kompetisi OSN sebab proses seleksinya bagus dan fair. Peserta memang hasil seleksi yang ketat, dimulai dari seleksi tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga nasional.

“Pelatihan kemarin memang masih pertama, ya. Sejauh ini pelayanan bagus. Saya harap untuk tahun berikutnya, jam kelas pembinaan per bidang ditambah,” kritik Ulfah. Tujuannya, agar peserta yang datang dari luar kota merasakan manfaat besar dari pembinaan tersebut.

Latihan memang penting sebelum maju ke olimpiade sains. Beberapa jam sebelum pemberangkatan tim Provinsi Jatim ke Yogyakarta pun Fariz masih menyempatkan diri berlatih soal matematika bersama tutornya. Matematika menyenangkan bagi dirinya sehingga beban lomba tidak pernah menghampirinya. (Bagus Priambodo)

Tags: