Maroko Dan Sejarah Mission Impossible

Redaksi 16 Agustus 2018

“Comment allez vouz?”

“Bien, mercy. Et vouz?”

Mempelajari bahasa asing, akan sangat berharga ketika tiba-tiba berada di negeri orang dan terbentur komunikasi yang harus menggunakan bahasa sangat berbeda. Bahasa Inggris memang bukan bahasa ibu kita, namun setidaknya bangsa Indonesia lebih terbiasa menggunakan bahasa Inggris dibanding Jerman dan Perancis. Lagu, film, berita, hingga penjelasan makanan kemasan; dapat mencantumkan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi selain bahasa Indonesia yang merupakan bahasa ibu. Berada di negeri yang menggunakan bahasa Inggris, membuat kita merasa ‘nyaman’ beraktivitas. Kalau harus  belanja atau berjalan-jalan, tak perlu khawatir. Bahkan, cukup ucapkan I can’t speak English, orang akan mengerti. Bagaimana cara mengucapkan saya tidak dapat berbahasa X dalam bahasa masing-masing negara, agar orang paham bahwa kita kesulitan berbahasa ibu di negeri yang bersangkutan?

Demikianlah yang saya lakukan bila berkunjung ke luar negeri.

Mencoba menyampaikan ke penduduk setempat bahwa saya tidak dapat bicara menggunakan bahasa mereka.

“Joneun hanguk mal mollayo”.

“Watashi wa nihongo deki masen”.

“Je ne parlez Francais pas”.

Terus terang, ingin sekali menguasai bahasa Arab yang dapat dipergunakan sebagai komunikasi sehari-hari. Nyatanya, ketrampilan itu belum terasah baik. Bila membaca Quran okelah. Ayat-ayat atau kalimat dalam Quran dan Hadits dapat dipahami. Namun bahasa sehari-hari bangsa Arab, berbeda dari bahasa kitab suci. Akibatnya, saya hanya melongo ketika mendengarkan orang-orang Arab berbincang-bincang. Untungnya di Maroko, bukan hanya Arab yang menjadi bahasa ibu tapi bahasa Perancis juga.

 Menguasai bahasa bangsa lain, harus diajarkan pada anak-anak kita agar mereka dapat berinteraksi lebih baik untuk beragam keperluan. Kajian-kajian ilmu pengetahuan, hubungan internasional, hubungan ekonomi, sosiologi dan kultural; akan berjalan lebih harmonis bila kedua belah pihak saling memahami. Jembatan pertama adalah bahasa. Bagi bangsa Indonesia yang pernah berinteraksi lama dengan bangsa Belanda dan Jepang, akan lebih mudah menguasai dua bahasa tersebut selain Inggris yang memang menjadi bahasa dunia. Tentunya, tidak meninggalkan akar budaya bangsa senidiri yaitu bahasa Indonesia yang merupakan pemersatu bangsa.

 Oudaya, Fez dan Marrakesh

Apa yang dikenang dari kota-kota di Maroko?

Pernah terpikir untuk membuat kota khas ala Indonesia. Bila mendarat di bandara Ngurah Rai, pengunjung langsung merasa berada di Bali. Pulau yang berbeda dari wilayah lain di Indonesia yang ditandai dengan arsitektur bangunan. Apalagi ketika menjelajah kota-kota lain di Bali, terasa sekali nuansa seni dan budaya mengalir di keseharian masyarakat Hindu, Bali. Patung-patung bersarung kotak hitam putih menjadi penanda khas. Gapura-gapura yang mencirikan pura, hampir tersaji di setiap rumah. Belum lagi warga Bali terbiasa memakai pakaian adat baik laki-laki dan perempuan.

Wilayah Indonesia yang lain, selayaknya dipoles sebagaimana Bali dan Yogyakarta. Yogyakarta sebagai kota kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tampil dengan ciri khas tulisan-tulisan honocoroko di setiap jalan. Para abdi dalem kraton tampil dalam kain batik, sorjan dan blangkon. Meski warga tidak selalu mengenakan pakaian adat yang khas; kusir andong dan warga setempat terbiasa mengenakan sorjan dan blangkon untuk berbagai kesempatan.

Apakah kota yang tidak memiliki seni budaya unik tidak dapat mencirikan kota yang terlihat ‘berbeda’? Tentu bisa.

Oudaya, Fez dan Marrakesh kota-kota di Maroko dengan bangunan khas Arab yang terkesan stereotipe. Kotak-kotak dengan ukuran nyaris seragam, dan tanaman-tanaman palm serta bougenville yang tumbuh di sekitar rumah. Yang menarik dari kota-kota tersebut adalah, sejarah tetap dipelihara sebagai bagian dari ciri khas kota.

Oudaya, memiliki benteng-benteng megah berwarna kuning keemasan yang menjadi saksi peperangan antara bangsa Maghribi dengan Spanyol. Benteng yang terletak di tepi pantai ini tetap megah, indah, unik dan terpelihara serta berada di jalur jalan raya perbukitan yang sangat mendukung proses pengambilan film. Maroko memang seringkali terpilih sebagai setting film Hollywood untuk aksi laga seperti Mission Impossible yang dibintangi Tom Cruise, mengambil tempat di Oudaya. Bourne yang dibintangi oleh Matt Damon, juga diambil di Tangier.

Oudaya, pernah dihuni oleh kaum Yahudi. Kini kota itu ditinggali oleh warga muslim dan wilayah yang pernah dihuni oleh bangsa Yahudi dihiasi cat khusus berwarna biru. Pengunjung yang ingin menikmati pemandangan pantai dari puncak benteng akan dipersilakan masuk melewati taman dan pulang menembus wilayah biru Oudaya.

Fez, terbagi menjadi kota baru dan kota lama.

Kota ini bukan saja unik karena warnanya yang putih cemerlang bagai mutiara bila dinikmati dari kejauhan; pengunjung yang berniat memasuki kota lama harus dipandu warga setempat. Bahkan, warga dari kota lain belum tentu mengerti seluk beluk kota Fez. Ya, kota ini memiliki lorong-lorong rahasia sebanyak 9600 lebih! Lorong-lorong rahasia yang berada di perbukitan kota Fez terkesan kumuh dan jorok, berbau khas kotoran keledai. Namun, lorong-lorong ini sengaja dibiarkan demikian sebab kota rahasia Fez menyimpan ‘sesuatu’ di balik penampilan kumuhnya.

Lorong kota Fez hanya dapat dilewati oleh dua atau tiga orang berjajar. Bahkan di beberapa ruas terpaksa harus bergantian, bahkan harus menundukkan badan karena sempit dan rendahnya lorong. Pengelana dibuat bertanya-tanya apakah bangunan gelap dan dingin yang berada di kanan kiri lorong. Pikiran menduga, pasti hanya gudang-gudang tua tak berpenghuni, apalagi pintu bangunan-bangunan tersebut terbuat dari kayu-kayu yang sudah pudar warnanya dengan pegangan besi berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai pengetuk.

Nyatanya, bila mengetuk masuk, di belakang lorong rahasia dan pintu kayu tua dengan pengetuk besi, tersaji riad megah setinggi tiga lantai. Atau madrasah tua nan megah yang sungguh terpelihara, yang dulunya menampung ribuan santri penghafal Quran di asrama! Menurut sejarawan yang menjaga madrasah, untuk menjadi imam masjid saat itu bukan perkara mudah. Mereka harus menghafal Quran dan mendalami ilmu agama, bersedia di karantina di madrasah selama bertahun-tahun, minimal 10 tahun! Namun, kelengkapan madrasah tesebut sangatlah luarbiasa. Di halaman utama tersaji kolam air mancur dan ruang-ruang pembelajaran. Kamar mandi berlapis keramik, mengingat Maroko terkenal dengan kerajinan zillij yang rumit dan sangat mempesona. Madrasah terdiri atas ratusan ruang dan bertingkat-tingkat, dengan tangga-tangga berputar yang menghubungkan satu lantai dengan lantai lain. Setiap elemen senantiasa berhias zillij. Pantaslah para pelajar di masa abad pertengahan betah dikarantina selama belasan tahun, bila ruang-ruang belajar mereka bagai kamar-kamar surga yang dipenuhi ribuan referensi ilmu pengetahuan.

Orang dapat menduga lorong rahaisa kumuh berbau kotoran keledai itu hanya menyimpan barang rongsokan di gudang tua. Sejak zaman dahulu, madrasah-madrasah yang ‘menyimpan’ para alim ulama itu didirikan terpencil di tengah bukit, dilindungi ribuan lorong rahasia yang membingungkan. Dikacaukan bangunan-bangunan dingin yang tampak mirip dan menyesatkan.

Bila Oudaya adalah kota biru, Fez adalah kota putih, maka Marrakesh adalah kota merah. Bangunan-bangunan di kota ini didominasi warna merah di segala penjuru. Stasiun, trotoar, apartemen, hotel, gedung pemerintah, pusat perbelanjaan, rumah sakit berwarna merah. Termasuk masjid legendaris yang berada di seberang pasar tua Jama al Fna, masjid dengan menara tinggi beratap kerucut yang dikenal sebagai masjid Kutubiyah. Uniknya, di sekeliling masjid Kutubiyah berdiri bangunan-bangunan pualam warna putih beratap kubah. Tampaknya, menjadi penanda lain dari dominasi warna merah di Marrakesh. Apakah bangunan dengan atap kubah berwarna mutiara?

Kiranya, itulah makam para pahlawan dan ulama yang disegani karena sumbangsih mereka pada negara dan tentu pada dunia. Salah satu makam terkemuka adalah makam Yusuf ibn Tashfin, sang penakluk Andalusia.

Dibanding Bali yang kental dengan nuansa seni dan budayanya mulai pakaian, upacara adat hingga pahatan di kayu dan bebatuan; Maroko tak memiliki itu semua. Warga berpakaian modern seperti di belahan lain dari dunia. Namun, sejarah kota tersebut tetap dipelihara agar generasi muda dan anak-anak terus mewarisi filosofi bangsa Maghribi.

 Rabat, kota persahabatan Indonesia – Maroko

Memasuki Maroko, warga Indonesia tak harus mengurus visa. Rupanya, ini merupakan kerjasama yang telah dibangun puluhan tahun lalu ketika Indonesia baru saja merdeka sebagai sebuah negara. Sosok Ir. Soekarno demikian dikagumi di negeri ini. Salah satu jalan di kota Rabat, menampilkan secara mencolok nama Rue Sukarno di tengah kota. Dari sudut pengambilan gambar saat warga Indonesia berfoto di sini, akan terlihat benteng menjulang berwarna oranye terang menjadi latar belakang.

Jalan Rue Sukarno berada di area-area terbaik kota Rabat, bukan terpencil di sudut kota. Rue Sukarno dekat dengan bank Maghribi yang eksotis, berdekatan dengan kantor polisi pusat yang melarang wisatawan mengambil gambar, dekat dengan kantor Pos dan tentu saja, gedung Parlemen Rabat. Wilayah gedung Parlemen bukanlah wilayah menakutkan. Di depannya dibangun taman yang indah dengan pohon-pohon palm serta kurma berjajar, rerumputan hijau, bunga-bunga dan bangku-bangku tempat masyarakat dapat duduk di waktu sore sembari memberi makan burung-burung merpati yang bergerombol tanpa rasa takut di pelataran. Aktivitas warga dan anggota dewan tampaknya diupayakan terhubung dan berdekatan sehingga tak ada jurang pemisah dalam antara masyarakat dan wakil rakyat.

Indonesia banyak memiliki tempat-tempat istimewa yang tidak harus selalu menampilkan kekayaan adat istiadat. Tidak semua wilayah memiliki keunikan budaya seperti Bali dan Yogyakarta. Namun, dengan menonjolkan sejarah yang melatar belakangi sebuah kota berdiri, siapa saja para pahlawan yang terlibat, apa saja kisah inspiratif dan filosofis yang mengiringi kota tersebut;  Indonesia punya ratusan bahkan ribuan kota yang akan meniggalkan kenangan dalam di hati para pengelana. (Sinta Yudisia -Ketua Forum Lingkar Pena Indonesia)

Tags: