Mari Jadikan Rumah Sebagai Pusat Gerakan Literasi

Redaksi 11 April 2020

Kebijakan pemerintah untuk meliburkan sekolah dan mengajak anak belajar di rumah sejatinya adalah ujian bagi kita semua, guru dan orangtua. Kita semua tentu berharap proses pembelajaran selama anak-anak di rumah dapat berlangsung efektif selayaknya di kelas. Dengan demikian, sekembalinya anak-anak ke sekolah setelah badai pandemi Covid-19 ini berakhir, ada pengalaman-pengalaman belajar dan peningkatan keterampilan-keterampilan baru yang belum mereka peroleh selama di sekolah.

Kebijakan pemerintah ‘merumahkan’ anak juga tak melunturkan harapan Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas siswa di Indonesia yang dinilai masih rendah versi PISA (Programme for International Student Assesment) 2018.

Seperti diketahui, hasil penelitian yang dilakukan Programme for International Student Assesment (PISA) 2018 terhadap 72 negara telah menempatkan Indonesia di peringkat keenam dari bawah.  Studi PISA tersebut dilakukan berdasarkan tes selama 2 jam yang melibatkan 600 ribu siswa berusia 15 tahun dari negara-negara peserta. Di dalam studi tersebut, yang diuji adalah kemampuan literasi, kemampuan matematika dan kemampuan sains.

Di bidang literasi, hasil studi itu menunjukkan bahwa kemampuan baca siswa-siswa di Indonesia masih di bawah rata-rata. Kalau rata-rata negara OECD (The Organisation for Economic Co-Operation and Development) meraih skor 487 di studi tersebut, Indonesia hanya mendapat skor 371.

Merujuk pada studi yang sama, negara-negara lain sudah menyadari bahwa kebiasaan membaca adalah sesuatu yang harus ada dimiliki oleh anak-anak. Sejak survei PISA 2000, tampak bahwa sebagian besar negara-negara OECD terus mengembangkan minat membaca pada anak yang hasilnya mulai terlihat dari studi PISA 2018. Karena itu, bila kita tak mau tertinggal dari negara lain, sudah sepantasnya anak-anak terus didorong untuk membaca.

Keinginan kita untuk mendongkrak kecerdasan literasi anak-anak Indonesia hanya bisa dilakukan dengan membiasakan serta membuat anak ‘jatuh hati’ pada kegiatan membaca dan menulis. Dua hal tersebut, bukan kegiatan belajar yang hanya bisa dilakukan di sekolah. Karena itu, alih-alih membebani anak dengan tugas-tugas yang menumpuk selama belajar di rumah, guru dapat mendorong orangtua untuk mengajak anak membaca dan menulis di rumah. Dengan demikian, para guru dapat sekaligus mematahkan keluhan banyak orangtua siswa di masa pandemi seperti saat ini yang menganggap guru memanfaatkan momen belajar di rumah untuk membanjiri anak-anak dengan tugas.

Harus kita sadari, membaca dan menulis adalah sebuah kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Seseorang akan terampil menulis apabila dia rajin melahap aneka bacaan. Sebaliknya, dengan keterampilan menulis yang diasah terus menerus, seseorang akan lebih mudah untuk memaknai bacaan-bacaan yang disodorkan kepadanya. Artinya, dengan kemampuan tersebut, anak-anak akan lebih mudah memahami logika-logika dalam berbagai mata pelajaran yang disuguhkan kepadanya.

Dikutip dari Research Digest vol.1 tahun 2007 yang diterbitkan NSW Institute of Teachers, dengan kemampuan memahami konteks, anak-anak dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Saking pentingnya hal ini, dalam artikel jurnal tersebut bahkan disarankan agar kemampuan membaca dan menulis, dilatih sejak anak-anak memulai tahun pertamanya di sekolah. Namun, menurut Asma Nadia, penulis produktif yang tumbuh dan besar di keluarga yang akrab di literasi, kebiasaan membaca dan menulis seharusnya dimulai dari rumah (Republika, 23 Februari 2020).

Agar anak tak merasa membaca dan menulis sebagai sebuah kewajiban yang berat, maka kegiatan itu perlu dikemas dalam nuansa yang rekreatif. Karena itu, ketika anak-anak belajar dari rumah, suasana harus dikondisikan untuk mendukung minat membaca dan menulis anak. Di sini, komunikasi antara guru dengan orangtua harus tetap dibangun meski tidak melalui pertemuan-pertemuan tatap muka. Lewat komunikasi itu, guru bisa menyarankan daftar bacaan yang bisa dikonsumsi anak dengan bantuan dan pengawasan orangtua.

Orangtua pun sebisa mungkin mesti terlibat dalam aktivitas membaca yang dilakukan anak. Di antaranya, orangtua bisa membantu anak-anak memahami bagian-bagian dalam bacaan yang tak dapat dipahaminya sendiri. Kedua, orangtua perlu “menjauhkan” anak-anak dari hal-hal lain yang berpotensi mendistraksi. Misalnya, “mengatur secara bijak dan selektif” jadwal maupun konten anak dalam bergawai, bergame online, bahkan dalam menyimak acara televisi. Ketiga, berikan kepada anak buku-buku yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Intinya, jangan dulu menjadikan membaca sebagai sebuah beban bagi anak dengan memberikan buku-buku yang terlalu sulit dicerna.

Tentang tips-tips lainnya, penulis tidak akan menjabarkan satu persatu. Pasalnya, di internet dapat dengan mudah ditemukan ratusan bahkan ribuan artikel berisi panduan atau tips membangun suasana membaca yang kondusif di dalam rumah.

Membaca saja tak cukup. Lebih dari itu, anak-anak juga perlu diajak untuk produktif menulis. Misalnya, mintalah kepada anak-anak untuk menuliskan resensi buku secara singkat yang berisi kesimpulan-kesimpulan dan pesan moral dari setiap bacaan yang dia konsumsi. Bila perlu, orangtua bisa membantu anak mempublikasikan tulisannya melalui medium blog yang dapat dengan mudah dibuat di masa kini. Diharapkan, dengan tulisan-tulisan mereka dibaca dan diapresiasi banyak orang, anak-anak menjadi kian bersemangat untuk membuat tulisan-tulisan berikutnya. Bagi guru, tulisan-tulisan itu dapat dipertimbangkan sebagai poin penilaian untuk para siswa selama kegiatan belajar dipindahkan ke rumah.

Menurut Suyono dari jurusan sastra Indonesia Fakultas Sastra UM (Universitas Negeri Malang) dalam artikel jurnal berjudul “Belajar Menulis dan Menulis Untuk Belajar”, belajar menulis merujuk kepada bagaimana siswa memunculkan, menjabarkan, dan menuangkan gagasan ke dalam kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf. Di tahapan belajar menulis ini, fokusnya adalah ada bagaimana anak-anak lancar, cermat, kritis, dan kreatif dalam memunculkan gagasan untuk ditulis, kedua, bagaimana gagasan yang telah ditentukan itu dijabarkan menjadi gagasan yang lebih kecil atau lebih rinci, serta yang ketiga, bagaimana gagasan-gagasan yang rinci itu dapat dituangkan menjadi kalimat-kalimat efektif dan paragraf-paragraf yang baik.

Belajar menulis adalah kegiatan yang berbeda dengan menulis untuk belajar. Menurut Suyono, menulis untuk belajar adalah kegiatan menulis yang dilakukan untuk lebih memahami, menguasai, memikirkan, atau memecahkan sebuah permasalahan. Tulisan yang dihasilkan dari kegiatan menulis untuk belajar, hakikatnya berisi pemahaman penulis mengenai permasalahan yang sedang dipelajari.

Dengan sejak dini membiasakan anak-anak membaca dan menulis, kita punya harapan di masa mendatang dapat memiliki generasi-generasi yang cerdas dan tak disepelekan bangsa lain. Untuk melakukannya, marilah kita menjadikan rumah sebagai pusat dari gerakan-gerakan literasi. Salam literasi!

Referensi

Research Digest vol.1 tahun 2007 yang diterbitkan NSW Institute of Teachers

https://republika.co.id/berita/q64v78282/gemar-membaca-dan-menulis-dimulai-dari-rumah

PISA in Focus 2020/103 (January): Where did reading proficiency improve over time?

Suyono. 2019.  Belajar Menulis dan Menulis Untuk Belajar. Jurnal prosiding Forum Ilmiah X FPBS UPI Bandung (Seminar dan Lokakarya Internasional Bahasa, Sastra, Seni, dan pembelajarannya). 

(Bagus Priambodo/Judul asli artikel (opini): Belajar di Rumah, Momentum Menjadikan Rumah Sebagai Pusat Gerakan Literasi/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

 

Tags: