Manfaat Ajak Anak Tulis Diary untuk Masa Depan

10 Juli 2020

Gemetar di tengah pandemi - Menulis bisa menjadi terapi yang baik bagi anak-anak di tengah pandemi. Namun, tidak semua anak bisa diajak dengan mudah untuk menulis. Apalagi bila literasi bukan menjadi tradisi di keluarganya.

Bagi kita para guru, ada beberapa saran dari para pakar untuk menumbuhkan kegemaran dan kebiasaan menulis pada anak. Dikutip dari New York Times, Natalie Proulx, seorang pendidik bidang bahasa di Inggris mengatakan untuk membiasakan anak menulis, mereka bisa diajak membuat diary atau jurnal pribadi. Tentu saja, sebagai diary, tulisan-tulisan di dalamnya adalah hak anak. Tidak sembarang orang bisa membacanya. Dengan meyakinkan hal ini kepada mereka, niscaya anak-anak akan bebas mengekspresikan emosi dan perasaannya lewat tulisan.

(Keterangan foto headline: Di Málaga, Spanyol, Marcos Moreno Maldonado membuat gambar yang bertautan dengan kata-katanya, membuat buku harian mengenai botani (tumbuhan), keindahan dan keunikan. Membuat jurnal hanyalah salah satu dari 12 proyek penulisan yang disarankan untuk siswa)

Selain itu, yakinkan anak-anak bahwa suatu saat, tulisan mereka akan memiliki makna yang lebih. Bisa saja, tulisan tentang perasaan mereka ketika menghadapi situasi pandemi, menjadi rujukan bagi para peneliti di masa depan untuk membuat tulisan tentang kehidupan semasa pandemi Covid-19.

Baca juga: Jadikan Menulis sebagai Terapi di Tengah Pandemi & Menerbitkan Tulisan Anak di Media Kala Pandemi

Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Jane Kamensky, seorang profesor bidang sejarah Amerika di Universitas Harvard. Dia mengatakan bahwa jurnal dan catatan pribadi merupakan 'standar emas' dan merupakan bukti terbaik dari kehidupan setiap manusia.

Bagi para guru yang bingung menentukan tema untuk jurnal pribadi yang dibuat para siswa, ada beberapa pilihan tema yang bisa diangkat. Di antaranya, bagaimana pandemi mengubah kehidupan mereka, apa yang mereka rindukan selama masa pandemi, bagaimana pengaruh krisis ini terhadap perasaan dan emosi mereka, serta apa yang berubah di dunia sekitar mereka karena pandemi?

Selain jurnal pribadi, para siswa juga dapat diajak membuat tulisan berbentuk personal narrative atau narasi personal. Berbeda dengan jurnal pribadi, personal narrative biasanya lebih singkat, namun mengandung kisah yang sangat kuat maknanya bagi pembaca. Dalam menulis personal narrative, anak-anak dilatih untuk menemukan kisah yang mereka anggap terbaik untuk dibagikan kepada orang lain.

Bila dua bentuk tulisan itu dirasa belum cukup, tak ada salahnya untuk mengajak anak-anak menuliskan puisi. Ajak mereka untuk menggambarkan dunia di sekitar mereka selama pandemi, menggunakan bahasa-bahasa yang indah dan berirama.

Kemudian, bagi anak-anak yang dianggap memiliki kecerdasan visual dan minat di bidang fotografi ataupun seni gambar, tak ada salahnya untuk mengajak mereka membuat photo essay atau esai foto. Pada prinsipnya, esai foto adalah bagian dari fotografi yang mengajak untuk bercerita melalui fotografi.

Untuk mendukung kisah yang tertangkap oleh kamera, anak-anak diminta untuk membuat tulisan singkat yang menjelaskan apa yang tampak di dalam foto-foto tersebut. Seperti halnya jurnal pribadi, bisa jadi, kelak di suatu masa, kisah-kisah yang tampil dalam esai foto tersebut dapat menjadi sebuah dokumen yang sangat berharga untuk dikaji, dipelajari, atau sekadar dinikmati. (Bagus Priambodo/Judul asli catatan:  Mengajak Anak Menulis Diary di Tengah Pandemi Ternyata Bermanfaat Besar Untuk Masa Depan/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari https://www.nytimes.com)

*Gemetar: "Gerakkan Menulis untuk Belajar"

Tags: