Literasi Lebih Dari Minat & Habit Membaca

Redaksi 08 Oktober 2020

Liputan Khusus - Literasi, dalam konteks gerakan, didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, mengelola, dan menggunakan pengetahuan serta informasi yang dipilih secara cerdas.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Wien Muldian, Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia.
 
Dalam webinar bertajuk Sarasehan Literasi Sekolah #8, Wien Muldian mengatakan bahwa Literasi tak boleh hanya didefisnisikan cukup pada tumbuhnya minat baca dan kebiasaan membaca.
 
“Jadi dalam pembelajaran, seharusnya yang dikembangkan daya literatnya, bukan hanya minat baca dan kebiasaan membaca,” kata Wien Muldian.
 
Wien mengatakan, untuk mewujudkan masifnya gerakan literasi, terlebih di situasi darurat pandemi Covid-19, diperlukan aktivitas kolaboratif yang melibatkan publik.
 
“Yang paling sederhana, publik terlibat membantu menyediakan sumber-sumber belajar dan sumber-sumber bacaan,” sambungnya.
 
Sumber-sumber bacaan tersebut, juga tak melulu harus buku. Apalagi di era informasi seperti saat ini, pengetahuan dapat diakses secara mudah melalui perangkat-perangkat digital.
 
“Buku dan bahan bacaan lainnya. dalam konteks literasi sekarang, tidak harus buku cetak juga. Bisa dengan mengakses bacaan audio visual, di Youtube misalnya. Sekarang bagaimana strategi kita agar yang audio visual, mengarahkan anak untuk membaca buku,” urainya.
 
Dia meyakinkan, momen pandemi seperti saat ini adalah momen yang sangat baik bagi siswa, guru dan masyarakat untuk menambah pengetahuan lewat aktivitas membaca. Maka yang harus dipastikan adalah akses-akses terhadap bacaan terbuka lebar.
 
“Perpustakaan umum, sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus atau lembaga atau organisasi, perpustakaan desa, perpustakaan masyarakat, dan taman baca harus dipastikan bisa diakses di masa pandemi. Bagaimana misalnya sekolah bisa memastikan anak-anak tetap bisa meminjam buku untuk dibawa pulang,” urainya.
 
“Yang tidak kalah penting, di setiap rumah sebaiknya ada perpustakaan keluarga,” lanjut dia.
 
Wien menyadari hal ini tidak mudah. Apalagi, banyak keluarga di Indonesia yang belum membangun keluarganya seperti organisasi pembelajar. Banyak orangtua berpikir, ketika anak sudah diserahkan ke sekolah, maka urusan pendidikan anak sudah sepenuhnya menjadi urusan sekolah anak.
 
“Itu tantangannya, terlebih di masa pandemi. Bagaimana caranya agar orangtua paham dan menjadikan rumah sebagai tempat yang positif untuk belajar dan meningkatkan daya literat,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Ingat, Literasi Bukan Sekadar Minat dan Kebiasaan Membaca/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

 

Tags: