Lingkungan Belajar: Menetapkan Tahapan-Tahapan menuju Kesuksesan Akademik

Redaksi 07 Agustus 2022

Global Knowledge - Pembelajaran paling baik terjadi dalam lingkungan yang positif—lingkungan di mana terdapat hubungan dan interaksi interpersonal yang positif, di mana terdapat kenyamanan dan ketertiban, di mana pelajar merasa dihargai, diakui, dihormati, dan divalidasi.
 
—Barbara McCombs and Jo Sue Whisler, Kelas dan Sekolah yang Berorientasi pada Siswa
 
Tidak banyak guru yang membantah proposisi bahwa beberapa siswa
 
(1) Membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mendalami pemahaman tertentu atau menguasai keterampilan tertentu; (2) Masuk kelas dengan berbekal segudang pengetahuan yang tidak dimiliki siswa lainnya; (3) Harus terus berproses lebih dari yang lain; (4) Tampak sudah putus asa untuk bersekolah—atau pada dirinya sendiri atau orang dewasa—dan sering kali merasa kecewa atau tidak bersemangat; (5) Kesulitan berkonsentrasi selama diskusi kelas dan tampil jauh lebih baik saat terlibat dalam pembelajaran kelompok kecil; (6) Mendapat nilai yang buruk saat tes namun sebenarnya memahami materi kurikulum; (7) Tidak akan terlibat dalam pembelajaran jika mereka tidak paham maksudnya.
 
Oleh karena itu, yang jadi pertanyaan bukanlah apakah guru sadar akan perbedaan-perbedaan yang ada hampir di setiap kelas atau apakah perbedaan-perbedaan tersebut berdampak pada kesuksesan siswa. Pertanyaan yang mengusik para guru adalah bagaimana cara mengatasi perbedaan-perbedaan itu di kelas yang dipenuhi oleh begitu banyak siswa.
 
Tujuan menciptakan kelas berdiferensiasi adalah memastikan bahwa ada kesempatan dan dukungan untuk siswa dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan esensial seefektif dan seefisien mungkin. Dengan kata lain, diferensiasi lahir untuk mengakomodasi semua jenis pelajar (siswa) agar bisa sukses secara akademis. Selain itu juga mengakomodasi guru untuk mendukung kesuksesan akademis siswanya dengan cara menyesuaikan pembelajaran yang diberikan berdasarkan setiap siswanya. Pangkal proses “mengakomodasi” pengajaran responsif dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa ini adalah terciptanya lingkungan belajar yang memiliki fleksibilitas—dengan kata lain, kelas yang aturan tolok ukurnya adalah fleksibilitas.
 
Faktanya, kelas yang fleksibel bukan hanya vital bagi pembelajaran diferensiasi saja namun juga pembelajaran pada umumnya. Para ahli mengatakan bahwa ada tiga kategori kelas yang berkenaan dengan pengelolaan kelas: disfungsi, memadai, dan tertib.
 
(1) Lingkungan kelas disfungsi tentu saja sering kali kacau balau. Guru terus-menerus berusaha keras untuk “mengendalikannya”. Hanya ada sedikit pembelajaran berkelanjutan yang efektif; (2) Lingkungan kelas memadai memiliki tingkat ketertiban dasar, namun guru masih berusaha keras untuk mengendalikannya. Hanya ada beberapa pembelajaran yang efektif sekali-sekali; (3) Lingkungan kelas yang tertib terbagi dalam dua kategori—lingkungan yang restriktif dan lingkungan yang memungkinkan; (4) Lingkungan belajar yang tertib dan restriktif adalah kelas yang “ketat”. Guru menegakkan tingkat struktur kelas yang tinggi, mengelola rutinitas dengan ketat, dan menerapkan sedikit strategi pembelajaran; (5) Lingkungan belajar yang tertib dan memungkinan adalah kelas yang berjalan dengan efektif yang memanifestasikan struktur yang lebih longgar (namun tidak longgar). Di kelas ini guru menerapkan berbagai rutinitas dan strategi pembelajaran, serta menitikberatkan pada pemahaman siswa tentang materi (Educational Research Service, 1993).
 
Faktanya, para peneliti mengatakan bahwa ada hubungan langsung antara kemampuan guru untuk mengelola serangkaian aktivitas kompleks di kelas dan kemampuannya untuk mengajar materi yang menantang secara intelektual (LePage, Darling-Hammond, & Akar, 2005). Ini karena tugas-tugas yang membutuhkan daya paham dan kemampuan penyelesaian masalah membutuhkan fleksibilitas lebih daripada pembelajaran hafalan. Saat guru takut akan probabilitas yang akan terjadi jika siswa bekerja secara mandiri, dalam kelompok kecil, dengan tugas yang berorientasi pada penyelidikan, atau tempo yang bervariasi, guru sering memilih untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih pasif atau yang sepenuhnya “menyederhanakan” kurikulum. Dalam kasus tersebut, guru menurunkan ekspektasinya terhadap siswa dengan cara menggunakan mode presentasi dan evaluasi yang lebih sederhana sebagai penyeimbang tatanan kelas. Dengan kata lain, dalam kasus tersebut, guru “mengajar secara defensif”.
 
Baca terjemahan-terjemahan lain dari Buku Leading and Managing A Differentiated Classroom  by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau di sini
 
Ada beberapa siklus yang sangat disayangkan dan dapat diprediksi yang berasal dari persepsi pendidik bahwa sebagian besar siswa hanya bisa belajar dengan bijak di kelas yang ketat. Salah satu siklus tersebut berasal dari kenyataan bahwa siswa sering berperilaku tidak baik saat tugas yang diberikan kepada mereka terlalu sulit atau terlalu mudah untuk mereka. Guru di kelas disfungsi dan kelas memadai, sekaligus orang-orang yang mempercayai kelas model ketat, akan tetap memberikan siswa tugas yang kurang cocok untuk beberapa siswa (karena diferensiasi membutuhkan fleksibilitas dan fleksibilitas mengancam ketertiban di kelas ketat). Alhasil, beberapa siswa terus-menerus merasa frustasi (dan terlihat jelas oleh guru) yang selanjutnya malah memperkuat persepsi guru bahwa “melonggarkan struktur kelas” hanya akan membawa bencana besar. Kesimpulan ini tentu saja hanya memperparah rasa frustasi para siswa.
 
Siklus kedua yang sangat disayangkan adalah buntut dari praktik tracking (pengelompokan sistematis siswa dalam kelas berdasarkan prestasi mereka masing-masing) yang diterapkan di banyak sekolah kita. Mudah bagi pendidik untuk menyangkutpautkan perilaku siswa dengan kemampuan akademis mereka. Sayangnya, siswa yang berperilaku tidak baik jarang terlihat cerdas (bahkan jika mereka sebenarnya memang cerdas). Banyak guru yang menjadi terbiasa memisahkan siswa berdasarkan “kemampuan” mereka dan kemudian mengajari mereka dalam berbagai jalur yang sesuai dengan “yang bisa mereka tangani”. Siswa yang merasa frustasi dengan ketidakcocokan ini dan siswa yang diduga terlihat frustasi akibatnya sering dikelompokkan ke dalam kelas dengan berjalur rendah (ditandai dengan penerapan kurikulum tingkat rendah) yang model kelasnya antara kelas model sangat ketat atau model campuran antara disfungsi atau memadai dari segi pengelolaannya. Sebaliknya, siswa yang mematuhi arahan guru lebih cenderung terlihat cerdas dan mereka diajar di lingkungan yang tertib dan fleksibel—yaitu kelas yang menitikberatkan pada daya paham siswa dan kelas di mana guru siap menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk melibatkan siswa dengan ide dan keterampilan vital (Carbonaro & Gamoran, 2002; Gamoran et al., 1995; Haberman, 1991; Hodges, 2001).
 
 
Diferensiasi menganjurkan bahwa setiap siswa diajar sebagai individu yang layak dan individu yang mampu menangani kurikulum yang kaya makna. Diferensiasi juga menganjurkan lingkungan belajar di mana setiap siswa bisa memahami, mengakui, dan menghargai kapasitas mereka sebagai pelajar. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan lingkungan kelas yang tertib dan fleksibel. Bab ini akan fokus pada beberapa elemen, pedoman, dan strategi penting yang mampu menciptakan lingkungan yang seperti itu.
 
Membuat drama yang sukses
 
Pikirkarlah sebentar mengenai pertunjukkan panggung dan peran sutradara hebat. Tak pelak lagi, sutradara sukses tidak sekadar membeli naskah dari penulis, menyerahkan naskah tersebut pada pemeran drama, memberikan beberapa arahan, dan mengharapkan hasil yang luar biasa. Faktanya, alasan di balik drama yang “sukses” berasal dari lingkungan sekitar daripada dari naskah. Sepanjang drama, sutradara sukses harus menciptakan lingkungan yang afektif dan lingkungan fisik (atmosfer) di lokasi dramanya akan berlangsung.
 
Dalam rangka membuat drama yang cocok untuk penonton, sutradara juga harus mencocokkan dramanya dengan para pemeran. Pertama, sutradara harus mengenal dan memahami setiap pemeran drama secara individu—kelebihan dan kelemahan mereka, preferensi cara bekerja, dan pengalaman hidup. Pada aspek inilah sutradara akan mendapatkan jawaban dari hal-hal tersebut saat latihan berlangsung. Untuk mempersiapkannya, sutradara kemungkinan akan “menyelidiki” latar belakang pemeran sebelum latihan berlangsung. Ini kemudian akan diikuti dengan memulai percakapan dengan yang bersangkutan sepanjang latihan serta pengamatan dan pemikiran yang cermat untuk memahami apa yang membuat pemeran tersebut bersinar saat memainkan karakternya dalam beberapa kasus dan apa yang membuat pemeran tersebut sulit mendalami karakternya dalam kasus lain.
 
Selain mengenal dan memahami para pemeran secara pribadi, sutradara perlu membantu mereka beralih dari sekumpulan individu menjadi rombongan pemeran drama, grup, ensambel, persekutuan—tim. Mereka perlu dipersatukan melalui usaha bersama yang dipahami secara umum tanpa kehilangan kekhasan masing-masing. Dengan kata lain, sutradara harus membantu menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para pemeran agar tim bisa bekerja dengan kohesif untuk memberi manfaat pada perkembangan individu dan bersama. Jika sutradara berhasil mewujudkannya, maka para pemeran akan memiliki ikatan yang berharga sepanjang masa produksi drama. Mereka akan belajar bekerja sama, membantu satu sama lain, menutupi kekurangan masing-masing, dan pada akhirnya meninggalkan satu sama lain dengan rasa syukur dan rasa sedih. Setiap individu akan menjadi lebih kuat karena adanya tim. Oleh karena itu, sutradara mulai membentuk ensambel dari individu yang berbeda saat para pemeran tiba pada hari pertama—atau sebelumnya. Ini akan terus berlanjut hingga tirai terakhir diturunkan.
 
Akhirnya, dalam rangka menciptakan lingkungan di mana para pemeran bisa berkembang, sutradara harus menciptakan konteks fisik (lingkungan fisik di mana dramanya berlangsung) untuk drama tersebut. Dalam dunia teater ini disebut set—sebuah dunia miniatur yang dirancang di atas sebidang tanah kecil bernama panggung. Ini berisi apa saja yang diperlukan untuk membuat dramanya menjadi hidup dan meningkatkan perfoma para pemeran. Semua/segala sesuatu yang berada di set panggung memiliki tujuan. Dari flat (alat yang digunakan untuk mendesain panggung drama untuk menambahkan visualisasi latar, mis., pemandangan dan pohon yang terbuat dari kertas) hingga properti, semuanya memberikan kontribusi pada kelangsungan drama. Bentuk, warna, desain, tekstur, dan lokasi adalah elemen yang merepresentasikan drama dan menghidupkan akting pemeran. Saat set panggung siap, hampir tidak ada yang namanya selesai. Perubahan hampir selalu dilakukan hingga malam pembukaan, dan sering kali terus berlanjut sepanjang pertujukan berlangsung.
 
Peran guru dalam menciptakan lingkungan kelas yang efektif sangat mirip dengan peran sutradara. Dramanya tentu saja sangat menarik—interaksi antara banyak individu dengan ide dan keterampilan yang akan mengubah mereka menjadi makin baik atau makin buruk. Hal ini membutuhkan risiko, upaya keras, kegagalan, kesadaran diri, kejujuran, kemenangan kecil, dan kemenangan besar. Untuk menyukseskan dramanya, guru harus bekerja dengan cepat untuk mengenal para pemeran dan secara persisten memahami mereka. Guru harus memulai lebih awal untuk membentuk tim dari sekelompok individu yang berbeda dan melanjutkan proses pembentukan tim sepanjang drama berjalan. Di sebidang tanah kecil bernama kelas, guru harus menyediakan set panggung di mana para pemeran bisa membuat dramanya menarik. Sisa bab ini akan membahas tiga elemen ini: mengenal siswa, membentuk komunitas, dan merancang lingkungn fisik kelas (lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan, meliputi sarana dan prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk, dll. yang sesuai untuk siswa).
 
Mengenal siswa
 
Upaya penyelidikan awal yang persisten mengenai informasi tentang siswa setidaknya memiliki empat manfaat:
 
(1) Menyampaikan kepada setiap siswa bahwa guru melihat mereka sebagai individu dan memberi kesan bahwa siswa cukup menarik untuk dikenalnya secara lebih mendalam. Dengan cara ini, siswa akan mulai memercayai guru—percaya bahwa guru akan menjadi penyokong dan sistem pendukung mereka di kelas—dan berhenti merasa terjebak dalam keadaan anonimitas dan alienasi yang mungkin mereka rasakan di kelas; (2) Memberikan kontribusi pada kesediaan siswa untuk melakukan tugas pembelajaran yang sulit. Siswa bekerja untuk orang-orang yang mereka hargai (orang yang menghargai mereka); (3) Membantu guru mengemban tanggung jawabnya atas kesuksesan siswa. Kita akan mengerahkan upaya lebih kepada orang-orang yang benar-benar kita kenal—mereka yang memiliki hubungan dengan kita atau mereka yang “nyata” bagi kita. Sulit untuk mengecewakan orang-orang tersebut; (4) Memberikan akses terbuka dan terus berkembang kepada setiap siswa sebagai individu dan pelajar. Memahami budaya, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, rasa tanggung jawab pribadi sebagai pelajar, hubungan dengan teman sebaya, home support (perhatian atau dukungan yang ada di rumah, misalnya dari keluarga), impian, kelebihan dan kekurangan, dan preferensi cara belajar siswa memungkinkan guru merancang pendekatan terhadap kurikulum dan pembelajaran yang kemungkinan besar memudahkan kesuksesan pelajar individu atau kelas secara keseluruhan.
 
Guru menggunakan beragam strategi untuk mengenal siswanya saat tahun ajaran dimulai dan terus mempelajari mereka seiring berjalannya tahun. Pertimbangkan contoh berikut:
 
(1) Seorang guru SD meminta siswanya memainkan gim “Mari Mengenal Saya” di mana siswa kelas empat mencari teman sekelas mereka yang memiliki atribut tertentu (Lihat Gambar 4.1). Setelah gim selesai, guru meminta siswa untuk melihat pola di kelas mereka. Guru berkata, “Siapa pun yang memiliki hewan peliharaan yang tidak biasa, silakan berdiri di samping saya di depan kelas dan ceritakan tentang hewan peliharaan tersebut”. Guru kemudian berkata, “Jika kalian tadi mengatakan bahwa kalian suka membantu di sekolah atau di rumah, silakan angkat tangan”. Kepada siswa-siswa tersebut guru berkata, “Besok kita akan mulai menetapkan tugas penting di kelas kita. Saya harap kalian akan mempertimbangkan untuk mendaftar salah satu dari peran-peran tersebut”. Selama  permainan dan kegiatan selanjutnya, guru membuat catatan pada lembar data siswa dan selanjutnya mengurutkan lembaran itu berdasarkan abjad dan melengkapi catatannya dengan foto siswa yang dia ambil saat hari pertama sekolah. Dia secara sistematis menambahkan informasi pada catatannya sepanjang tahun ajaran saat dia mengamati siswa, berbicara dengan siswa, dan mendapatkan informasi tentang penilaian awal dan penilaian formatif. Dia terkadang menggunakan lembaran itu dalam percakapan dengan siswa dan konferensi orang tua siswa—menunjukkan kepada orang tua siswa apa yang guru pelajari tentang siswa dan mengajak mereka untuk menyumbangkan wawasan mereka sendiri. Dia sering kali menggunakan lembaran itu untuk merancang pelajaran yang dibuat untuk mengatasi berbagai minat dan kebutuhan siswa. Pada akhir tahun ajaran, setiap siswa direpresentasikan oleh beberapa lembar data dan “biografi pelajar”;
 
*Lihat Gambar 4.1 di sini
 
(2) Seorang guru Sains SMP di daerah perkotaan mengunjungi rumah setiap siswanya selama musim panas dan awal musim gugur tahun ajaran. Jika ada orang di rumah, dia memperkenalkan dirinya, meminta izin untuk menyapa siswanya, dan menjelaskan bahwa dia sedang mempersiapkan diri untuk membantu siswa memahami hubungan timbal balik dengan tetangga mereka. Dia mengatakan kepada orang tua siswa bahwa dia senang mengenal anak-anak mereka dan meminta mereka menceritakan beberapa hal tentang anak mereka yang mereka rasa perlu diketahuinya. Jika tidak ada seorang pun di rumah, dia meninggalkan catatan dengan informasi yang sama dan mengatakan bahwa dia ingin mengundang mereka secara pribadi untuk menemuinya di sekolah. Membayangkan siswanya dalam konteks tertentu membantunya memahami beberapa hal penting tentang mereka, bahkan sebelum mereka datang ke kelas. Meluangkan waktu untuk mengunjungi rumah siswa menandakan bahwa dia ingin mengenal siswanya. Hal itu juga menandakan pemahamannya tentang nilai (peran) keluarga dalam kehidupan dan pembelajaran siswa. Dia selanjutnya menghubungi dan mengunjungi orang tua siswa—paling sering dengan membawa kabar baik, namun terkadang ingin menyampaikan kepada orang tua siswa tentang kebutuhan pembelajaran khusus anak mereka—sepanjang tahun ajaran; (3) Seorang guru Sains SMA mengajak siswanya untuk menggunakan kelas selama waktu makan siang bersama sebagai tempat untuk belajar, tanya jawab tentang pekerjaan mereka, atau sekadar menikmati makan siang yang mereka bawa dari rumah. Kelas itu selalu memuat 15-20 siswa selama waktu makan siang, di mana ini memberikan kesempatan bagi guru untuk memperhatikan siswanya dalam suasana yang lebih santai, mengamati mereka satu sama lain, dan memberikan pendampingan kepada mereka dalam bentuk bacaan, kegiatan laboratorium, dan proyek. Salah seorang rekan guru—guru Bahasa Inggris sekolah menengah—lebih menyukai dua strategi lain untuk mempelajari dan memahami siswanya lebih dalam. Dia mengadakan diskusi klub buku bulanan di rumahnya dan mendorong siswa untuk datang dan menceritakan ide mereka. Terkadang siswa mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan tugas sekolah, namun di lain waktu mereka menceritakan topik yang berkaitan dengan minat pribadi mereka kepada siswa lain dan guru. Guru selalu berusaha memberikan undangan yang bersifat spesial dan pribadi kepada siswa yang dia rasa enggan untuk datang dan dia selalu memastikan bahwa siswa aman selama perjalanan ke rumahnya. Guru juga datang ke acara ekstrakulikuler siswa setiap minggu untuk mengamati siswanya di lingkungan kesukarelawanan. Dia mencoba memilih acara yang memungkinkannya mengamati siswanya seluas mungkin, namun saat ada dua acara ekstrakurikuler siswa yang berlangsung bersamaan, dia hampir selalu memilih hadir ke acara di mana siswanya yang kurang terlibat secara akademis berpartisipasi.
 
Gambar 4.2 menyajikan beberapa cara tambahan untuk mengenal siswa, dan Perangkat Guru di bagian belakang buku ini menyediakan contoh tambahan. Tujuan dari setiap strategi ini adalah membantu guru mengajar siswanya dengan lebih baik melalui pemahaman mendalam tentang individu yang dia ajar. Guru yang berkeinginan mengenal siswanya dengan baik menerapkan berbagai strategi sepanjang tahun ajaran untuk mencapai tujuan itu.
 
Inti dari proses mengenal siswa dalam kelas berdiferensiasi adalah pelaksanaan asesmen secara berkelanjutan. Ada baiknya mengingat beberapa poin penting, termasuk yang berikut ini:
 
(1) Di awal tahun ajaran, pikirkan cara untuk mengecek pemahaman siswa tentang keterampilan dan pengetahuan penting di kelas/mata pelajaran Anda secara informal, seperti kemampuan pendengaran, kemampuan visual, kemampuan membaca, kepandaian menulis, mengeja, komunikasi lisan, serta kosakata akademik yang penting. Langkah-langkah ini tidak harus bersifat melelahkan atau memakan waktu; misalnya, Anda biasanya menilai kepandaian mengeja dan menulis siswa bersamaan dengan kemampuan pendengaran siswa, atau Anda biasanya menilai kepandaian komunikasi lisan saat siswa menceritakan sesuatu di pertemuan kelas pagi (siswa yang lebih muda) atau merangkum apa yang mereka ingat dari pertemuan kelas kemarin (siswa yang lebih tua). Pemahaman Anda tentang kepandaian siswa akan meningkat seiring waktu, namun ada baiknya untuk mengetahui di mana posisi setiap siswa saat mereka memulai tahun ajaran baru dari segi kompetensi yang diharapkan—dan turun tangan seperlunya untuk mendorong perkembangan siswa sejak awal. Waspada terhadap kemungkinan bahwa beberapa siswa hanya kelihatannya saja kurang berpengetahuan, terampil, atau paham padahal masalah sebenarnya adalah mereka sulit mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Beberapa penghalang ini termasuk kemampuan berbahasa yang buruk dan kesulitan mengerjakan ujian;
 
*Lihat Gambar 4.2 di sini
 
(2) Jangan terlalu terpengaruh oleh catatan siswa dari tahun-tahun sebelumnya, komentar dari guru lain tentang siswa, atau data tes standar. Alasan peringatan ini adalah memastikan bahwa setiap siswa memulai tahun ajaran dengan probabilitas yang diperlukan untuk bergerak maju dan sukses. Saat siswa menjadi “anak” yang menyebabkan guru memutar matanya, yang telah “gagal” dalam ujian standar selama tiga tahun berturut-turut, atau yang tidak pandai dalam sains, sulit bagi seorang guru baru untuk memiliki pola pikir yang berkembang. Sulit juga bagi siswa tersebut untuk tidak menyadari keraguan yang dimiliki guru tentang prospek mereka. Demikian juga, jika citra siswa yang menempel pada Anda adalah “siswa” yang selalu mendapat penghargaan atau yang selalu berada di peringkat atas dalam ujian prestasi, pola pikir yang akan Anda adopsi mengenai siswa tersebut kemungkinan adalah “pola pikir yang tetap”, dan Anda akan cenderung tidak menantang siswa untuk melihat seberapa jauh dia bisa berkembang; (3) Pastikan siswa menyadari bahwa saat Anda mempelajari hal-hal penting tentang minat, preferensi cara belajar, dan kelebihan dan kebutuhan akademik mereka, Anda kemudian menggunakan informasi itu untuk merancang kelas. Saat Anda memiliki informasi tentang pekerjaan/tugas siswa, pastikan untuk memberi tahu siswa dengan cara yang bisa membantu individu tersebut bekerja dengan lebih cerdas dan belajar dengan lebih baik. Tujuannya bukan untuk membuat guru menjadi “serba tahu” tentang siswa, namun untuk merefleksikan informasi itu kepada siswa. Secara konsisten mengenali dan memuji apa yang siswa bisa lakukan daripada memikirkan kesulitan mereka. Mengembangkan kelebihan siswa adalah rute langsung menuju motivasi, kesediaan, keterlibatan, dan pencapaian siswa; (4) Mengharapkan siswa untuk berkembang dan berubah. Tahan kecenderungan untuk berasumsi bahwa siswa yang tertarik pada serangga pada bulan September akan tetap bersemangat tentang topik itu hingga bulan Maret. Beberapa siswa mungkin iya; beberapanya lagi mungkin tidak. Tahan juga kecenderungan untuk mengategorikan siswa berdasarkan preferensi belajar. Kebanyakan orang belajar dengan cara berbeda dalam mata pelajaran berbeda, saat materi pelajarannya baru versus sudah familiar, dan bahkan pada waktu yang berbeda dalam sehari. Gunakan informasi yang Anda dapatkan dari pengamatan untuk memberikan siswa opsi, bukan untuk mengekang mereka dengan tugas yang telah ditentukan. Sering-seringlah mengecek siswa untuk mengetahui bagaimana perubahan dan perkembangan mereka; (5) Ingat bahwa siswa adalah sumber informasi terbaik. Biarkan siswa tahu bahwa Anda ingin mengetahui hal-hal apa saja yang berjalan lancar dengan mereka—dan yang tidak. Sekali-sekali gunakan exit card (kartu berisi tanggapan siswa tentang jawaban atas pertanyaan guru, umpan balik terhadap pengajaran guru, dll. yang diserahkan di akhir sesi kelas), daftar periksa, survei komputer, evaluasi akhir unit pelajaran, atau mekanisme sederhana lain yang bisa mengajak siswa menceritakan perasaan mereka tentang apa yang sudah mereka lakukan. Pastikan untuk memanfaatkan informasi yang Anda ketahui. Ingatlah bahwa siswa dari beberapa kelompok budaya mungkin lebih segan untuk “menasihati” Anda karena takut melakukan hal yang tidak sopan. Dalam kasus tersebut, jangan memaksakan mereka, namun ingatkan mereka bahwa saat mereka berbagi pendapat mereka tentang cara membuat kelas menjadi efektif untuk seluruh penghuninya akan sangat membantu Anda dan Anda akan sangat menghargai masukan mereka.
 
 
Prinsip dasar diferensiasi adalah guru yang cerdas tidak sekadar menganggap dirinya sebagai guru yang tugasnya hanya menyampaikan materi kepada siswa. Benar, guru memang berkomitmen mengajarkan materi kepada siswa, namun guru juga merupakan siswa yang berdedikasi—siswa yang mempelajari materi yang dia ajar dan siswa yang mempelajari siswanya sendiri. Guru ini percaya bahwa mengajar tidak akan lengkap jika tidak ada pembelajaran yang terjadi dan bahwa pembelajaran didasarkan pada pemahaman guru secara menyeluruh baik tentang materi maupun siswanya.
 
Membentuk komunitas di kelas
 
Komunitas adalah orang-orang yang berkumpul bersama karena adanya kesempatan untuk menemukan, mengenali, mengapresiasi, dan menjangkau hal yang sama (Greene, 2000). Dalam kelas berdiferensiasi, guru menuntun siswa untuk menyusun visi bersama tentang kelas yang memungkinkan semua orang dan individu berkomitmen untuk mendukung satu sama lain dalam pembelajaran.
 
Menjadi bagian dari komunitas memenuhi kebutuhan dasar manusia tentang rasa saling menerima, rasa saling memiliki, afinitas, rasa saling menghormati, dan kepedulian. Ini meyakinkan kita bahwa kita tidak hanya bisa bermanfaat untuk diri kita sendiri namun juga untuk orang lain. Bagi siswa yang berasal dari budaya kolektivisme, menjadi bagian dari sebuah komunitas adalah dasar dari berjalannya dunia ini dan merasakan rasa kekeluargaan di kelas merupakan sesuatu yang normal bagi mereka (karena terbiasa dengan budaya kolektivisme) dan memberikan rasa aman (Rothstein-Fisch & Trumbull, 2008).
 
Tentu saja tidak semua komunitas bersifat positif. Geng dan kultus merupakan contoh dari komunitas yang bersifat negatif, namun mereka masih memperlihatkan kebutuhan dasar yang diperlukan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok tertentu yang terdiri dari orang-orang yang sepemikiran yang memiliki misi yang sama serta memberikan identitas dan sistem pendukung kepada satu sama lain.
 
Guru yang menuntun siswa menyusun visi bersama tentang kelas berdiferensiasi membayangkan sesuatu seperti kelas demokratis seperti yang dijelaskan oleh James Beane (2005). Dalam kelas itu, perbedaan siswa bukanlah masalah yang harus diatasi dan siswa tidak dipisahkan menurut perbedaan mereka, dan keseragaman tidak bersifat wajib. Guru dalam kelas ini kemudian mengisyaratkan bahwa keragaman adalah kekuatan yang menuntun pada komunitas yang benar-benar demokratis di mana para anak muda belajar untuk hidup dan bekerja sama.
 
Bane mengingatkan bahwa inti dari demokrasi adalah prinsip-prinsip bahwa orang (1) memiliki hak dasar atas martabat manusia; (2) bertanggung jawab untuk peduli terhadap kebaikan bersama; (3) bisa melihat bahwa takdir mereka berkaitan dengan kebaikan kelompok secara keseluruhan; dan (4) memiliki kapabilitas intelektual dan sosial untuk bekerja sama menyelesaikan masalah yang muncul. Ini merupakan visi yang berwawasan tinggi—dan visi ini menjadi dasar aspirasi Amerika Serikat sebagai sebuah bangsa. Menerapkannya tidaklah mudah, namun ini penting. Di dalam kelas, seperti halnya dalam sebuah bangsa, visi ini menantang dan menginspirasi kita untuk memperbaiki diri.
 
Bagi siswa, aspirasi-aspirasi ini umumnya menjawab ekspektasi guru yang tinggi. Bergulat dengan tujuan ini akan mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia luar dan mengharuskan mereka untuk mempertanggungjawabkan pemikiran dan tindakan mereka—baik dalam pekerjaan mereka sendiri maupun bagian dari sebuah kelompok. Dengan demikian, menjadi bagian dari komunitas yang sehat di kelas berdiferensiasi memenuhi kebutuhan dasar manusia akan afinitas dengan kelompok yang alhasil mengarahkan pada tujuan realisasi diri dan kontibusi untuk kebaikan bersama yang lebih tinggi.
 
Bagi guru, menuntun siswa untuk membentuk komunitas kelas yang kuat bisa memperdalam pengajarannya. Hal ini juga meningkatkan motivasi, kesadaran diri, dan tanggung jawab pelajar. Pada akhirnya, ini juga memberikan sistem pendukung yang bisa membantu guru mengawasi dan mempertahankan efektivitas keberlangsungan kelas yang dirancang untuk berjalan secara fleksibel dan memaksimalkan perkembangan setiap siswa.
 
Membentuk komunitas
 
Menuntun siswa menciptakan rasa kebersamaan yang positif tentunya berkaitan erat dengan mengenal siswa. Saat guru menunjukkan ketertarikannya untuk mengenal siswa secara pribadi dan memperlakukan mereka dengan hormat, orang lain akan memerhatikan. Ini semakin jelas bahwa di kelas guru tersebut, semua orang dihargai dan ada kesempatan bagi semua siswa untuk mengenal satu sama lain. Kelas tersebut juga dilibatkan dalam percakapan tentang menciptakan lingkungan di mana setiap orang dihargai dan di mana perkembangan setiap orang bersifat sangat penting. Saat percakapan berlangsung, guru terus merujuk kembali pada alasan awal tentang penciptaan kelas yang responsif bagi semua siswa—semua siswa berharga. Yang sering kali tersirat (namun terkadang eksplisit) dalam percakapan ini adalah “Inilah kita. Ini yang kita lakukan”. Akibatnya, kelompok menjadi lebih beridentitas dan siswa akhirnya memahami satu sama lain dengan lebih baik, menyadari bahwa ide-ide mereka diterapkan, dan bekerja sama dengan efektivitas yang kian meningkat. Pada akhirnya, terbentuklah sebuah komunitas.
 
Seperti halnya perihal mengenal siswa, ada banyak cara untuk memberikan kontribusi pada pembentukan komunitas sekolah di mana individu memiliki minat dan tujuan yang sama. Pertimbangkan contoh kelas berikut ini:
 
(1) Seorang guru Bahasa Inggris SMA menarik kesimpulan yang jujur namun berat bahwa pada saat siswa sampai di kelas, hanya ada sedikit siswa yang memiliki keinginan membara untuk membaca lebih banyak puisi, menyelesaikan lebih banyak latihan tata bahasa, atau menulis rumusan esai tambahan. Dia paham bahwa dia harus menciptakan kelas di mana siswa merasa terhubung dengan cara membuat materinya tampak penting untuk siswa. Dia mulai dengan menciptakan kelas yang memungkinkan siswa melakukan percakapan. Dia menceritakan kisah-kisah kecil dalam kehidupannya kepada siswa dan dia membujuk siswa untuk menceritakan kisah mereka. “Saya suka cerita yang bagus,” dia sering berkata. “Saya bahkan akan menunda ujian selama lima menit jika ada siswa yang ingin menceritakan cerita yang bagus. . . . namun pastikan ceritanya benar-benar bagus!” Belakangan ini, dia mulai menceritakan kisah-kisah hidupnya yang lebih penuh makna. Pada saat itu, para siswanya mendengarkan satu sama lain dengan penuh perhatian dan mereka percaya bahwa mereka bisa menceritakan kisah penuh makna versi kehidupan mereka sendiri. Dia juga membantu siswa menyadari bagaimana cerita mereka sama bagusnya dengan cerita penulis yang mereka baca. Dia juga membantu siswa yakin bahwa cerita mereka layak diabadikan dalam bentuk tulisan. Sepanjang tahun, dia dengan sengaja membuat para siswa berbaur dengan satu sama lain melalui storytelling dan menghubungkan materi yang dia ajar kepada siswa yang dia ajar. Kelas tersebut memengaruhi kehidupan para siswa; banyak dari siswa yang akhirnya menjadi penulis dan pembaca setia;
 
 
(2) Seorang guru SD memanfaatkan dinding kelas untuk menggantungkan 10 lembar halaman kalender—satu halaman per bulan. Halaman-halaman itu berukuran besar dan memiliki banyak ruang yang bisa diisi tulisan. Pada hari pertama sekolah, dia memberi tahu siswanya bahwa mereka akan menulis sejarah kelas seiring berjalannya waktu. “Saat ada hal penting terjadi,” katanya, “kita akan mencatatnya di kalender ini dengan tulisan, gambar, dan foto. Dengan ini, kita bisa mengenang dan membaca sejarah kita sebagai anggota kelas”. Setiap hari saat sekolah akan berakhir, dia meminta siswa untuk mengatakan apa hal penting yang terjadi hari itu. Di awal tahun, dia terkadang menodong siswa dengan pertanyaan, “Inilah tiga hal yang tampak penting hari ini. Apakah ada hal lain yang bisa kalian tambahkan dalam daftar ini?” Dia memastikan untuk menyertakan momen spesial dalam kehidupan siswa secara individu (yang diceritakan hari itu) dan semua pokok pembicaraan yang terjadi di kelas, termasuk penguatan positif (mis. Semuanya bekerja lebih keras dalam kelas matematika hari ini) dan ruang untuk perbaikan (mis. Kita harus menemukan cara berbicara yang lebih pelan saat sedang bekerja). Siswa seperti yang sudah diprediksikan akan mengikuti contoh yang diberikan saat membuat saran untuk kelas. Terkadang guru menambahkan foto atau siswa memberikan ilustrasi yang diikuti dengan kalimat deskripsinya. Seiring berjalannya tahun, siswa menjadi lebih sering menulis di kalender. Saat ada orang dewasa yang datang ke kelas, guru akan meminta sukarelawan untuk menjelaskan apa yang tertulis di kalender dan beberapa hal yang mereka rasa mendeskripsikan kelas mereka dengan jelas (siswa hampir selalu menunjukkan kalender tersebut kepada orang tua mereka saat mereka berada di kelas). Semakin lama, kalender menjadi sebuah cerita bersama tentang “siapa kita”, “apa yang kita lakukan”, dan “mengapa pekerjaan/tugas kita penting”; (3) Seorang guru matematika SMP menyadari bahwa siswanya terkadang merasa frustasi oleh pelajaran matematika menantang yang mereka pelajari. Suatu hari, dia menawarkan kepada kelompok siswa untuk menyorakkan “cemoohan”—sorakan dengan nada marah. Dia mengajak siswa untuk menyorakkan cemoohan bersama dengannya sebanyak tiga kali berturut-turut, di mana setiap cemooh akan disorakkan dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya. Saat mereka selesai, guru berkata, “Inilah slogan baru kita: We gripe and conquer! (Kita mengeluh lalu menaklukkan!)”. Siswa melampiaskan rasa frustasi mereka, tertawa, dan bekerja dengan perasaan tidak terlalu tegang dan ragu dibandingkan hari-hari sebelumnya. Beberapa hari kemudian saat dia menyadari bahwa rasa frustasi tersebut muncul lagi, dia berkata, “Siapa yang ingat dengan sorakan kemarin? Saya rasa kita perlu melakukannya lagi”. Di hari lain, dia berkata, “Oke, waktunya bersorak, namun saya bosan dengan sorakan yang sekarang (dengan sorakan yang itu-itu lagi). Adakah yang punya ide baru?” Siswa mulai membuat sorakan “antimatematika” dalam kelas dan sering menggunakannya saat dibutuhkan. Setiap kali siswa menyorakkan moto kelas mereka, guru menyelipkan pertanyaan di sela-sela sorakan siswa, “Apa moto kelas kita?” Siswa menjawab serentak, “We gripe and conquer,” dan mereka berhasil melakukannya. Menyorakkan cemoohan adalah satu dari banyak teknik yang digunakan guru untuk mempersatukan para siswanya sebagai penakluk matematika daripada “korban” matematika. Siswa secara rutin mengunjungi guru mereka setelah mereka lulus, dan mereka mengatakan kepada sang guru bahwa mereka ingat sesuatu yang dia ajarkan kepada mereka: Merasa frustasi itu hal yang normal, asalkan jangan menyerah; (4) Seorang guru Bahasa Prancis SMA meletakkan cupcake di atas meja siswa pada hari ulang tahun siswa tersebut. Dia berdiri di dekat meja siswa saat kelas dimulai, mengucapkan selamat ulang tahun kepada siswa, dan memberi tahu dua atau tiga hal tentang siswa yang sangat dia hargai. Para siswa bertepuk tangan dan kelas berlanjut. Pentingnya tindakan sederhana seperti ini mungkin sering Namun, pentingnya tindakan sederhana ini dibuktikan oleh siswa pendiam di kelas yang berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri bersama orang tuanya di akhir tahun itu. Siswa ini sangat bersemangat dengan trip ini karena dia akan berkesempatan berbicara bahasa Prancis dan membawa pulang oleh-oleh untuk kelasnya. Namun, sesaat sebelum tripnya, dia memberi tahu ibunya bahwa dia tidak bisa berangkat dan meminta ibunya untuk membantunya mendapat pengembalian dana untuk tiketnya. Sang ibu, yang bingung dan tidak terlalu senang, bertanya kepada anaknya mengapa dia tiba-tiba berkata tidak bisa melanjutkan trip ini. Sang anak menjawab, “Saya baru sadar bahwa trip ini berlangsung saat pekan hari ulang tahun saya. Saya akan kehilangan cupcake saya saat kelas Bahasa Prancis jika saya berangkat. Pokoknya saya harus ada di kelas saat hari itu!” Tentu saja bukan cupcake yang akan dilewatkan oleh siswa, namun apresiasi dan pengakuan di depan publik dari guru tentang nilai dirinya dan apa yang pengakuan itu bisa sampaikan kepada seluruh kelaslah yang menjadikan hari itu lebih penting daripada tripnya ke Prancis. Ritual cupcake ini mencontohkan etika rasa hormat dan apresiasi yang meliputi segala sesuatu di kelas. Itu adalah salah satu dari banyak cara guru membimbing siswa untuk menyimpulkan, “Inilah siapa kita, dan inilah cara kita memperlakukan satu sama lain di sini.”
 
Guru menciptakan strateginya sendiri untuk mengenali dan memperjelas tujuan spesifik yang dia ingin kelasnya miliki. Untuk mewujudkannya, strategi tersebut tidak hanya memperjelas persoalan paling penting di kelas namun juga membantu siswa berbaur bersama melalui ide-ide penting tersebut. Strategi-strategi tersebut tidak mengindikasikan bahwa komunitas adalah pengganti materi, namun komunitas sebagai sarana untuk mengantarkan siswa ke proses pembelajaran. Gambar 4.3 dan Perangkat Guru berisi lebih banyak contoh metode yang bisa digunakan guru untuk membentuk komunitas kelas yang lebih positif.
 
Memanfaatkan kelompok siswa dan komunitas sekolah
 
Dalam kelas berdiferensiasi, penggunaan kelompok siswa merupakan bagian integral dari terciptanya komunitas yang produktif dan positif, namun itu bukan hanya satu-satunya persyaratan. Faktanya, kelas berdiferensiasi yang efektif pasti akan mengharuskan siswa untuk bekerja secara mandiri atau dalam diskusi bersama dengan seisi kelas. Setidaknya secara teoritis, ini mungkin bertujuan untuk membedakan siswa tanpa harus meminta siswa bekerja dalam kelompok kecil.
 
*Lihat Gambar 4.3 di sini
 
Saat kelompok siswa berfungsi secara efektif, mereka akan sangat memotivasi siswa. Mereka akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling berbagi ide, mendapatkan masukan, menemukan cara alternatif untuk menghadapi masalah atau tugas, dan mendapatkan dukungan. Bagi kebanyakan siswa, ini merupakan awal dari pembelajaran yang sukses. Kelompok juga membuat kelas menjadi lebih efisien untuk para guru yang bisa, misalnya, fokus pada lima atau enam kelompok daripada 30 individu. Di bab 6, kita akan mempertimbangkan prosedur-prosedur untuk membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok. Namun di sini kita akan menyoroti beberapa prinsip pengelompokan yang efektif yang menunjang keyakinan dan penerapan diferensiasi.
 
Gunakan pengelompokan yang fleksibel. Aspek yang tidak luput dari diferensiasi yang efektif adalah bahwa guru merencanakan alur yang konsisten dari berbagai pengelompokan siswa dalam suatu unit studi berdasarkan jenis pekerjaan dan kebutuhan individu siswa. Ini memungkinkan siswa untuk membayangkan diri mereka sendiri dan satu sama lain berkutat dalam berbagai konteks pembelajaran dan ini memberikan guru kesempatan untuk mengamati setiap siswa dalam berbagai konteks. Misalnya, Benjamin mungkin dijadwalkan untuk bekerja selama empat jam bersama dengan temannya yang memiliki tingkat kesiapan dan kebutuhan keterampilan yang sama minggu ini. Namun, rencana guru untuk kelompok literasi selama seminggu juga harus, misalnya, mencakup kesempatan bagi Benjamin untuk berbagi beberapa bacaan dengan siswa yang memiliki minat yang sama terlepas dari kebutuhan kesiapan mereka, bekerja sama dengan kelompok siswa lain yang memilih mengekspresikan apa yang mereka pelajari dalam format tertentu, bekerja secara mandiri, dan bekerja sama dengan siswa pilihan mereka sendiri untuk mendiskusikan materi kelas. Siswa bekerja dan belajar dengan cara yang berbeda dan dalam situasi yang berbeda; mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan berbagai kelompok teman secara teratur dan konsisten agar mereka bisa memandang diri mereka (dan dipandang orang lain) sebagai pelajar multidimensi.
 
 
Teach up (mengajar dengan kurikulum tingkat tinggi dan kemudian mencari cara untuk mengusahakan siswa sampai ke tingkat itu). Rancang tugas kelompok untuk memastikan bahwa setiap siswa bekerja/belajar dengan kurikulum yang kaya dan harus memikirkan dan menerapkan ide dan keterampilan penting. Kadang-kadang, siswa atau kelompok akan membutuhkan waktu untuk mempraktikkan keterampilan diskret mereka, namun tidak boleh ada kelompok siswa yang secara konsisten mempraktikkan keterampilan mereka di luar konteks saat tugas kelompok lain adalah menjadikan siswa sebagai pemikir, pemecah masalah, dan pencipta. Mulai dengan merencanakan tugas yang bisa menantang pelajar tingkat lanjutan dan kemudian berikanlah dukungan belajar secara terstruktur (scaffolding) sesuai kebutuhan untuk siswa yang kurang mahir. Mengajar dengan cara ini merupakan indikator dari guru yang memiliki pola pikir berkembang dan ini akan menguntungkan hampir semua pelajar.
 
*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah: tidak boleh ada siswa yang mempraktikkan skills yang di luar keterampilan diskret sebagai pemikir, pemecah masalah, dan kreator/pencipta. Jadi fokusnya ke keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat siswa menjadi pemikir, pemecah masalah dan kreator
 
Gunakan tugas kemampuan ganda. Tugas yang seperti itu memiliki lebih dari satu jawaban atau cara penyelesaian, pada hakikatnya menarik dan bermanfaat untuk berbagai siswa, memungkinkan siswa yang berbeda untuk memberikan kontribusi yang berbeda terhadap kesuksesan penyelesaian tugas, dan membutuhkan berbagai keterampilan dan tenaga untuk menyelesaikannya (Cohen, 1994). Tugas kemampuan ganda sering kali menggunakan berbagai media karena sangat relevan untuk siswa, akses yang tugas ini berikan untuk mempelajari konten penting, dan kesempatan yang tugas ini berikan pada siswa untuk mengekspresikan pembelajaran. Tugas-tugas tersebut juga menekankan pentingnya membaca dan menulis terhadap kesuksesan siswa.
 
Tetapkan peran individu dalam kelompok. Peran individu memastikan bahwa setiap siswa memiliki kontribusi akademis atau intelektual yang sangat penting yang harus mereka berikan pada tugas. Misalnya, jika satu siswa dalam kelompok ditunjuk sebagai pembaca dan satunya lagi sebagai pencatat waktu, ini jelas menunjukkan pada siswa bahwa peran pembaca lebih “berarti” daripada peran pencatat waktu. Di sisi lain, jika satu siswa diharapkan untuk menggambar bagan langkah-langkah yang diperlukan untuk memecahkan soal matematika dan yang lain diharapkan untuk menulis prosa arah untuk menyelesaikannya, maka setiap siswa akan memberikan kontribusi yang sama untuk tugas “menunjukkan apa yang harus diketahui, dipahami, dan bisa dilakukan oleh siswa yang tidak hadir pada minggu ini agar mereka merasa kompeten dengan jenis soal matematika yang kita utamakan minggu ini”. Kelompok yang hanya beberapa anggotanya saja yang memiliki kompetensi yang penting terhadap kesuksesan siswa akan membuahkan sistem kasta (ada label pemenang dan ada label yang kalah) daripada berkontribusi pada keyakinan atau rasa komunitas yang ada di kelas (rasa persatuan komunitas di kelas).
 
*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah 1: peran siswa kurang imbang (bukan contoh yang seharusnya), yang satunya jadi pembaca sedangkan pasangannya “hanya” jadi pencatat waktu, jadi seperti menunjukkan kalua peran yang banyak kontribusi ke tugas kelompoknya itu hanya peran pembacanya saja
 
 *Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah 2: merupakan contoh yang baik karena kebalikan dari yang pertama tadi. Di sini peranan siswa equal. Peran mereka bisa menunjukkan “apa yang seharusnya mereka ketahui, fahami, bisa lakukan”. Jadi kontribusi keduanya sama, tidak seperti yang pertama tadi dimana siswa satunya hanya jadi pencatat waktu, saat pasangannya sedang membaca
 
*Maksud untuk kalimat yang bergaris bawah 3: rasa komunitas adalah perasaan memiliki akan komunitas dan perasaan berharga dalam suatu komunitas, sehingga timbul keyakinan untuk bersama dalam komunitas
 
Pastikan konten bisa diakses oleh semua orang. Dalam kelompok siswa dengan tingkat kesiapan belajar campuran, pastikan bahwa materi bentuk tertulis bisa diakses oleh semua anggota kelompok. EELs (English Language Learners), misalnya, harus memiliki metode yang layak untuk menjembatani dua bahasa. Ingat bahwa siswa tidak akan bisa berkembang secara akademis jika tugas yang mereka dapatkan terlalu sulit atau terlalu mudah untuk mereka, dan bukan hal yang tepat dan efektif untuk mendasarkan tugas siswa pada materi yang tidak bisa mereka baca. Untuk mengatasi tingkat membaca siswa yang bervariasi dalam kelompok siswa dengan tingkat kesiapan belajar campuran, Anda bisa menunjuk satu siswa dalam kelompok sebagai “pembaca”, teks atau arahan bisa dicatat, atau siswa bisa membaca materi dengan tingkat kerumitan yang berbeda dan kemudian bersama-sama mengerjakan tugas kelompok.
 
Tentukan kemampuan siswa. Amati siswa dengan cermat, catat kelebihan, keterampilan, dan wawasan tertentu yang siswa kerahkan dalam tugas kelompok. Saat Anda melihat kontribusi yang pantas dan tulus, komentari kontribusi tersebut. Misalnya dengan berkata, “Saya rasa pertanyaan yang baru saja diajukan Sherisa sangat penting. Pertanyaan tersebut membuat kita merenungkan kembali cara berpikir yang kita adopsi sebagai kelompok. Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan menantang pada waktu yang tepat merupakan keterampilan yang sangat berguna.”. Penting bagi semua siswa untuk menerima dukungan ........... selengkapnya mengenai terjemahan ini dapat dilihat di sini

 

 

 

Tags: