Lawan Pandemi Dengan Kemampuan Literasi

Redaksi 07 Oktober 2020

Liputan Khusus - Banjir informasi di tengah pandemi Covid-19 bisa jadi turut berkontribusi terhadap semakin meningkatnya kurva jumlah kasus Covid-19 di Indonesia. Dalam ranah komunikasi, banjir informasi di tengah pandemi ini bahkan diberi istilah khusus: Infodemic.
 
Hal tersebut seharusnya tak perlu terjadi apabila masyarakat memiliki kemampuan literasi yang baik. Dengan literasi, masyarakat bisa memilih informasi yang tepat dari sekian banyak informasi yang bermunculan dan menjadikannya pijakan dalam mengambil keputusan dan tindakan di tengah pandemi.
 
Wahyuningrat, Anggota Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud mengatakan, literasi yang rendah berpotensi meningkatkan perilaku berisiko dan memperburuk kesehatan. Hal itu dia sampaikan ketika menjadi moderator dalam Sarasehan Literasi Sekolah Kedelapan yang digelar secara daring oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Sesditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud) beberapa waktu lalu.
 
“Data dari penelitian WHO, health literacy (literasi kesehatan) menjadi penentu utama status kesehatan seseorang, daripada pendapatan, pekerjaan, pendidikan, ras atau etnis. Jadi, Di tengah pandemi, literasi yang rendah berpotensi meningkatkan perilaku berisiko dan memperburuk kesehatan,” ujar Wahyuningrat yang juga sudah malang melintang sebagai konsultasn komunikasi tersebut.
 
Literasi kesehatan yang rendah juga berpengaruh terhadap ongkos kesehatan. Makin rendah literasi, makin tinggi risiko kesehatan, konsekuensinya pembengkakan anggaran kesehatan,” sambungnya.
 
Mantan jurnalis televisi ini juga menegaskan, kemampuan literasi yang dimaksudkannya bukan sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Sebab, apabila kemampuan literasi hanya dimaknai secara sempit seperti itu, maka seharusnya Indonesia sudah bisa bebas dari pandemi Covid-19.
 
“Literasi bukan sekadar calistung. Sebagai contoh, Jakarta yang kemampuan masyarakatnya dalam membaca menulis dan berhitung tinggi, ternyata tak cukup menghambat penyebaran virus corona. DKI Jakarta melek hurufnya tinggi, tapi tak berpengaruh terhadap perilaku masyarakatnya dan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan,” tuturnya.
 
Menurut Wahyuningrat, literasi harus dipahami sebagai kemampuan untuk memahami, mencerna, menganalisis teks dan konsep, lalu menerjemahkannya dalam tindakan untuk mengatasi masalah kehidupan, meningkatkan kualitas hidup, serta memperbaiki kesehatan.
 
“Di masa pandemi saat ini, literasi kesehatan dibutuhkan untuk mengatasi semrawutnya lalu lintas informasi yang membuat masyarkat panik. Selain itu, literasi sangat penting dilakukan sedini mungkin untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan berbudaya,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Melawan Pandemi Dengan Meningkatkan Kemampuan Literasi/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image) 

Tags: