Lahirkan Guru yang Berdaya Lewat Center of Excellent

Redaksi 11 Februari 2020

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo selalu mengingatkan untuk menghadirkan inovasi-inovasi, yakni model-model baru, cara baru, dan nilai-nilai baru dalam pengelolaan organisasi. Selain itu, cara-cara lama serta pola-pola lama yang tidak relevan dalam pengelolaan organisasi dan pemerintahan, mesti ditinggalkan.

Di lingkungan pendidikan, pesan tersebut diterjemahkan dengan menghadirkan kebijakan Merdeka belajar.

Setidaknya ada 5 hal utama yang termaktub dalam kebijakan Merdeka Belajar. Pertama, semua pemangku kepentingan harus berdaya sekaligus memberdayakan. Dalam hal ini, salah satu yang penting adalah guru harus bisa menjadi guru penggerak.

Kedua, kualitas layanan kepada siswa harus berorientasi terutama kepada para siswa. Dalam hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim meminta agar ada penyederhanaan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Ketiga, fokus kegiatan mengajar dan belajar di kelas harus dialihkan dari sekadar menguasai konten ke peningkatan kemampuan bernalar sekaligus meningkatkan karakter baik. Hal ini diimplementasikan melalui asesment kompetensi minimum survei karakter.

Keempat, sekolah harus menjadi unit inovasi yang salah satunya diterjemahkan dengan mengembalikan wewenang ujian kelulusan ke sekolah.

Terakhir, pemerintah akan lebih fokus menjadi enabler yang dapat memberdayakan ekosistem yang menjunjung budaya inovasi.

Mewujudkan guru yang berdaya lewat CoE

Dalam konsep Merdeka Belajar, adalah hal yang tak kalah penting untuk menjadikan para guru sebagai guru yang berdaya.  Karakter-karakter yang harus dimiliki oleh Guru yang Berdaya adalah guru yang berjiwa Indonesia,  bernalar, pembelajar, profesional, dan berhamba pada anak.

Untuk mewujudkan guru yang berdaya, setidaknya harus ada beberapa dukungan penting. Di antaranya harus tersedia pusat transformasi pendidikan guru yang menjadi Center of Excellence (CoE). Pusat transformasi pendidikan guru ini memiliki fungsi utama untuk mewujudkan pendidikan guru yang berkualitas tinggi. Untuk mewujudkannya, mesti didukung dengan adanya regulasi dan tata kelola guru serta growth model tahap-tahap perkembangan guru.

Setelah dukungan itu tersedia, baru dapat diwujudkan pusat transformasi pendidikan guru yang mengusung misi untuk membangun ekosistem belajar yang berdaya, aktif, inklusif, dan inovatif untuk pendidikan guru dari hulu ke hilir.

Sebagai Center of Exellence, pusat transformasi pendidikan guru ini harus melibatkan banyak elemen.  Di antaranya, masyarakat maupun organisasi nasional dan internasional, lembaga penelitian dan pelatihan, industri, perusahaan, serta profesional yang relevan. Kedua,  organisasi guru yang memiliki keahlian dan reputasi baik dalam pendidikan guru. Ketiga, para pendidik guru dengan kompetensi tingkat tinggi dari LPTK, baik negeri maupun swasta. Keempat, Guru penggerak, yakni  para guru dan kepala sekolah dengan kompetensi tingkat tinggi dari sekolah negeri dan swasta. Terakhir, tentu saja pemerintah yang direpresentasikan oleh para pendidik guru dan kepala sekolah dengan kompetensi tingkat tinggi di dinas pendidikan daerah maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk mendorong fungsinya secara maksimal hingga ke daerah-daerah, Pusat transformasi pendidikan guru ini idealnya ada di setiap provinsi dan dipimpin oleh profesional pendidikan yang berkualitas tinggi, khususnya dalam pembelajaran, serta harus dikelola dengan profesional melalui skema BLU (Badan Layanan Umum).  

Dengan adanya pusat transformasi pendidikan guru ini, kita bisa bermimpi untuk mewujudkan mutu pendidikan terbaik demi melahirkan generasi-generasi emas untuk masa depan. (Bagus Priambodo/Sumber narasi: Paparan Strategi Transformasi Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang disusun oleh Iwan Syahril, Staf Khusus Mendikbud Bidang Pembelajaran/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari foto dokumentasi LPMP Jawa Timur)

Tags: