Kunci Gerakan Literasi di Masa Pandemi

Redaksi 27 Oktober 2020

Liputan Khusus - Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mengamanatkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Namun, upaya pemenuhan hak tersebut tidak mudah. Salah satu isu paling utama yang ada dalam pendidikan di Indonesia adalah keterbatasan buku.
 
Menurut ketua Satgas Gerakan literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud, Sofie Dewayani, upaya mencerdaskan anak bangsa yang salah satunya diwujudkan melalui gerakan literasi, hal itu semakin diperberat dengan kondisi pandemi Covid-19.
 
“Tantangan untuk kita, gerakan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai tak bisa terlaksana karena pandemi yang menyebabkan sekolah tidak dapat menjalankan pembelajaran tatap muka,” ujar Sofie saat berbicara dalam webinar bertajuk sarasehan literasi kedelapan.
 
Untungnya, menurut Sofie, di berbagai level masyarakat muncul inisiatif-inisiatif dan kolaborasi. Sehingga, buku-buku yang ada, kemudian dapat dicetak secara digital dan dapat diakses oleh anak-anak dari rumah dan dari manapun, baik untuk kesenangan maupun untuk belajar.
 
“Kemdikbud juga sudah lakukan relaksasi kurikulum untuk masa adaptasi kebiasaan baru yang guru-guru tidak dituntut untuk mengajarkan semua kompetensi dasar, tetapi kompetensi dasar dapat dipilih yang esensial saja. Juga banyak modul literasi yang dapat diunduh secara cuma-cuma oleh masyarakat dan bapak ibu guru,” sambungnya.
 
“Saya harap, bapak ibu guru juga terus belajar, bersemangat menggali pengetahuan baru bersama para pelaku perbukuan. Ada kreator, penulis, pendongeng, dan ilustrator,” pungkasnya.
 
Geetha Murali, CEO Room to Read, di kesempatan yang sama mengatakan bahwa memang anak-anak Indonesia membutuhkan akses yang luas terhadap buku-buku untuk mengembangkan kemampuan literasi awal mereka.
 
“Karena itu kami menggunakan keahlian kami untuk bekerja bersama delapan penerbit, untuk melatih penulis dan ilustrator dalam mengembangkan buku cerita berkualitas untuk anak. Kami telah menerbitkan lebih dari 110 judul buku cerita yang ditulis dan diilustrasikan oleh orang-orang berbakat di Indonesia,” ujar Geetha. 
 
“Dan kini melalui Literacy Cloud, kami siap membagikan buku-buku ini kepada lebih banyak guru, pendidik, orangtua, dan anak-anak. Kami berharap 144 ribu SD di negeri ini dapat memanfaatkannya,” imbuhnya.
 
Geetha menambahkan, semua pencapaian yang masih akan terus berkembang ini lahir berkat adanya kolaborasi dengan berbagai mitra yang mereka gandeng.
 
“Kami berharap dengan kolaborasi ini, anak-anak dapat memperoleh buku yang akan membantu mereka mewujudkan masa depan yang lebih baik lewat literasi,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Kolaborasi adalah Kunci/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: