Kreatif & Kritis saat Berjalan Kaki

Redaksi 20 September 2021

Gobal Knowledge - Dua hal dicapai ketika mempraktikkan Walking Curriculum (Kurikulum Jalan Kaki). Topik bahasan di kurikulum tersampaikan serta siswa menjadi lebih sehat, kreatif, dan berpikir kritis.
 
Proses belajar mengajar yang berfokus pada aktivitas jalan kaki seperti dijabarkan dalam Walking Curriculum, berisikan kegiatan kreatif yang menyenangkan.
 
Setidaknya ada satu pertanyaan yang menantang imajinasi, tantangan atau aktivitas siswa setiap kali berjalan kaki.
 
Bukan sekadar jalan kaki
 
Inilah contoh jenis jalan kaki dalam Walking Curriculum. Kita bisa memilih mana yang bisa cocok dipraktikkan bersama siswa di sekolah.
 
Shapes walk
 
Siswa ditugasi menemukan bentuk geometri di luar ruang kelas. Entah itu lingkaran, persegi, bujur sangkar, segitiga, atau lainnya.
 
Cari dan atur: Ada berapa bentuk yang ditemukan? Berapa banyak untuk masing-masing bentuk? Hitunglah dengan memakai sistem turus (tally).
 
(Sur) faces walk
 
Sesuai namanya, ‘Surface’ diartikan permukaan dan ‘Face’ adalah wajah. Maka, siswa diajak berimajinasi seolah permukaan suatu benda itu adalah wajah.
 
Temukan dan raba: Permukaan apa yang dijumpai saat berjalan kaki? Terasa seperti apa permukaan itu? Mengapa rasanya berbeda ketika disentuh jemari tangan? Apakah akan terasa beda kalau disentuh dengan lengan tangan?
 
Motion walk
 
Mempergunakan sebanyak mungkin indera siswa untuk melengkapi tantangan ini. Apa yang sedang bergerak di sekitar mereka? Apa saja yang terjadi di pergerakan itu? Apa saja yang menandakan bahwa ada suatu pergerakan?
 
Gerak tubuh dan tujuannya: Siswa ditugasi mengulang pergerakan yang sudah diamati tadi dengan menggunakan tubuhnya sendiri. Apakah gerakannya mudah atau sulit dilakukan? Mengapa?
 
Texture walk
 
Kegiatan ini mengajak siswa mampu mendeskripsikan ‘apa yang dirasakan’ saat menyentuh sesuatu di tempat yang mereka telusuri. Pertama, guru dan siswa saling bertukar pikiran di kelas.
 
Tema yang didiskusikan adalah bagaimana menjelaskan sifat tekstur suatu benda saat disentuh. Bagaimana rasanya, apakah halus, bergelombang, berduri atau tajam, panas, dingin, dan lainnya. Tahap ini bisa dilakukan sehari sebelumnya.
 
Daftar kata sifat tekstur tersebut disusun rapi dan dijadikan pegangan siswa.
 
Berikutnya, secara berkelompok, siswa ditantang menemukan kata-kata sifat itu sebanyak mungkin di alam bebas.
 
Tugas: Siswa menemukan sesuatu yang teksturnya saat disentuh terasa sesuai dengan kata-kata sifat yang ada di dalam daftar. Mereka dapat merekam temuannya itu dalam bentuk gambar, foto atau video.
 
Sembari berjalan kaki, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan temuannya secara singkat. Dorong mereka untuk menggolongkan rasa sentuhan tekstur itu. Contohnya, ‘menyenangkan’, ‘mengejutkan’, ‘penasaran’, ‘tidak seperti biasanya’.
 
Where is here?
 
Untuk kegiatan ini, mulailah dengan mengajukan pertanyaan berikut kepada siswa: Di manakah kita? Siswa kemungkinan akan menjawab dengan “Di sekolah!”, “Di kelas!” Beritahu siswa bahwa kita ingin mereka menjawab dengan lebih spesifik dan seksama.
 
Maka, siswa dapat diminta untuk menemukan informasi berikut: (1) Koordinat geografis lokasi sekolah sebenarnya (garis lintang/garis bujur); (2) Alamat sekolah; (3) Lingkungan sekolah berada; (4) Kota, provinsi, negara; (5) Planet dan galaksi.
 
Dalam konteks ini, siswa diajak berimajinasi. Seolah-olah, si penanya datang dari planet lain, misalnya Mars. Siswa ditantang memberikan informasi yang detail kepada orang asing itu.
 
Arahkan si pendatang itu menuju titik temu, contohnya salah satu bangunan yang ada di kota lokasi sekolah berada. Maka, dibutuhkan informasi berupa garis lintang dan garis bujur untuk dilihat di peta.
 
Bisa juga siswa menyampaikan informasi tentang jarak Mars ke Bumi dan bagaimana kondisi iklim atau cuaca Bumi. Berikutnya, siswa tinggal mengarahkan si pendatang dari lokasi titik temu ke alamat sekolah.
 
Masih berkenaan dengan tema ‘Where is here’, minta siswa untuk menjelaskan tempat di mana mereka berada secara lebih spesifik dan deskriptif. Tugaskan mereka pergi ke luar ruangan dan bebas berkeliaran mencari informasi detail mengenai tempat tersebut.
 
Hal-hal yang bisa dibahas: (1) Lanskap (Apa yang sebenarnya dilihat oleh siswa? Tumbuhan apa yang ada? Jenis warna dan pola apa yang tampak? Area natural apa yang dekat tempat itu? Apakah tanahnya berupa dataran atau pegunungan? Apa sumber air terdekat?); (2) Iklim/cuaca (Seperti apa cuaca saat itu? Termasuk jenis pola cuaca apa?); (3) Bunyi-bunyian (soundscape) (Suara apa yang menjadi ciri tempat itu?); (4) Bau-bau khas apa yang tercium di sana? Dari mana datangnya bau itu?; (5) Kehidupan (liar) (Siapa yang tinggal di lingkungan sekitar tempat itu?)
 
Melanjutkan kegiatan penjelajahan mereka, siswa dapat melakukan penelitian tambahan tentang jenis bebatuan dan tanah di tempat itu.
 
Bisa pula tentang tanaman khas yang tumbuh di sana dan kehidupan hewannya.
 
Tampak di sini sensitivitas siswa terhadap lingkungan sekitar mereka terasah.
 
Mereka juga lebih mampu memperluas wawasan dan perspektif berpikir ketika dihadapkan pada satu tema pelajaran. (Marta Nurfaidah – Penulis Lepas, Dosen Tamu di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel, Anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari ImaginED)

Tags: