Kontribusi di Literasi Tidak Harus Buku

Redaksi 09 Oktober 2020

Liputan Khusus - Semua pihak diharapkan dapat terlibat atau berkontribusi dalam upaya mengembangkan kemampuan literasi masyarakat.
 
Menurut Wien Muldian, Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia, mereka yang terlibat ini tak hanya orang-orang atau kelompok yang berlatar belakang pendidikan.
 
“Saya kira semua bisa terlibat. Perguruan tinggi bisa mengajak dosen dan mahasiswanya untuk mendukung pembelajaran di daerah 3T, kemudian para ilustrator bisa membantu membuat ilustrasi untuk bahan bacaan, lembaga masyarakat juga bisa membantu menyediakan akses wifi gratis,” ujar Wien Muldian dalam webinar bertajuk Sarasehan Literasi Sekolah #8 beberapa waktu lalu.
 
Dia juga menegaskan, kontribusi terhadap pengembangan literasi tak melulu diwujudkan dengan menyumbang buku atau bahan bacaan.
 
“Bukan juga cuma menyediakan sarana dan prasarana, tapi bisa juga dengan membuat konten-konten bacaan,” imbuhnya.
 
Dalam situasi pandemi covid-19 yang mendorong perluasan penggunaan perangkat digital untuk bekerja dan belajar, Win mendorong agar konten-konten bacaan tidak melulu berbentuk buku atau kertas.
 
Kata dia, diperlukan bahan bacaan yang multimoda. Bisa berupa audio, infografis, video edukasi, gim, multimedia interaktif, atau augmented realtiy.
 
“Buku bacaan itu bisa dibacakan lalu direkam dalam bentuk audio dan didistribusikan lewat podcast misalnya. Yang seperti ini tak harus menunggu pemerintah. Semuanya bisa terlibat. Jadi mulanya dari buku, kemudian dikembangkan jadi multi moda,” tuturnya.
 
Secara umum, Wien mengusulkan 3 kolaborasi konten maupun program untuk menumbuhkan budaya literasi dan pembelajaran kontekstual.
 
Pertama, perlu ada penguatan program membaca yang terintegrasi dengan modul dan erangkat pembalajaran daring, semi daring, dan luring.
 
Kedua, mendukung praktik baik fasilitator mengembangkan inovasi pembelajaran jarak jauh dan memfasilitasi kegiatan berbagi praktik baik dan inspirasi
 
Sedangkan ketiga, di tingkat lokal, melakukan pelatihan dan pendampingan daring dan luring implementasi program membaca di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
 
Wien Muldian mengingatkan, saat ini masyarakat sedang bergerak di era revolusi industri 5.0. Dalam konteks literasi, maka urusannya tidak hanya bicara soal buku teks.
 
“Kita juga harus memahami masyarkaat 5.0 ini punya karakter sendiri. Sumber bacaan harus disesuaikan dengan kebiasaan era 5.0, evalusi pusat belajar dan sumber pengetahuan tidak hanya pada pengalaman membaca, tidak hanya pada koneksi, tetapi saat ini bagaimana menciptakan makerspace di mana tiap keluarga, lingkungan masyarakat, menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dengan membangun lingkungan berkarya di sekitar mereka,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Berkontribusi Dalam Pengembangan Literasi Tak Melulu Dengan Sumbang Buku/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: