Konteks Berhitung di Kehidupan Nyata

Redaksi 19 November 2021

Global Knowledge - Dalam artikel Teacher baru-baru ini, Dave Tout, Justine Sakurai, dan Carly Sawatzki membahas tentang kemampuan berhitung dan hubungannya dengan matematika serta pentingnya konteks dunia nyata. Dalam pembahasan lanjutan ini, mereka menggali lebih dalam tentang konteks pengajaran dan pembelajaran matematika dengan mengeksplor 6 konteks berhitung dan menunjukkan contoh penerapannya di dalam kelas.
 
Fakta bahwa matematika sering kali disajikan sebagai serangkaian algoritma yang harus dikuasai tanpa konteks menjadi salah satu alasan siswa merasa tidak memerlukan keberadaan matematika dalam kehiduoan nyata (Hersh & John-Steiner, 2011).  Selain itu, sekolah dan guru berkewajiban untuk mendorong para siswa untuk menggunakan dan menerapkan matematika dalam berbagai konteks berhitung (Ernest, 2019).
 
Siswa yang dapat memahami hubungan antara hal-hal yang mereka pelajari dan kegunaan serta penerapan ide-ide ini di luar kelas memungkinan untuk terlibat dengan proses pembelajaran matematika (Downes & Bishop, 2012).  Di sini, kami mengilustrasikan kemungkinan untuk merancang dan menerapkan kurikulum matematika berdasarkan penelitian yang berkaitan erat dengan kehidupan siswa saat ini dan masa depan.
 
Kurikulum serta konteks
 
Seperti yang sudah kami jelaskan di artikel kami sebelumnya, kami bekerja secara kolaboratif untuk membantu membentuk dan menulis kurikulum sekolah menengah atas Victoria yang lebih mendukung pengembangan keterampilan berhitung kritis dan matematika siswa. Konsisten dengan reformasinya yang berhasil secara internasional di negara-negara seperti Singapura (Kementerian Pendidikan Singapura, 2019) dan Belanda (Van den Heuvel-Panhuizen & Drijvers, 2020), pendekatan di Victoria bertujuan untuk mendorong pengajaran dan pembelajaran matematika yang kontekstual dengan berbagai macam konteks berhitung (Gal et al., 2020).
 
Konteks dan numerasi yang ada dalam kehidupan sehari-hari siswa meliputi pengambilan keputusan pribadi (personal numeracy), hak sipil dan kewarganegaraan (civic numeracy), ekonomi dan keuangan (financial numeracy), olahraga dan kesehatan (health numeracy), aplikasi kerja (vocational numeracy), dan hiburan dan rekreasi (recreational numeracy). Kurikulum berhitung yang diusulkan di Victoria meliputi 6 poin ini dan para guru diberikan panduan untuk memilih konteks nyata yang realistis dan relevan bagi siswa.
 
Kami percaya bahwa keberadaan konteks merupakan titik awal untuk memulai pengajaran dan pembelajaran, dan kurikulum yang ada harus bisa mendorong penerapan kreativitas di dalam kelas. Adanya konteks dapat membentuk pengetahuan dan kemampuan matematika dan peluang yang muncul untuk pengajaran konsep matematika secara eksplisit. Hal ini bisa membantu siswa untuk mengidentifikasi bagaimana dan di mana matematika dapat digunakan dan diterapkan, bagaimana berbagai perhitungan dan prosedur dapat digunakan untuk menjelaskan suatu masalah, keputusan, dan argumen dalam kehidupan nyata (Frankenstein, 2009).
 
Seperti halnya kurikulum matematika milik Singapura, metode yang digunakan fokus pada pemecahan masalah yang dimulai dengan mengidentifikasi konteks atau masalah di kehidupan nyata untuk selanjutnya ditindaklanjuti (Kementerian Pendidikan Singapura, 2019).  Konteks dunia nyata yang berasal dari numerasi berbeda secara eksplisit memengaruhi model tersebut, dimulai dari perumusan masalah serta penentuan dan pemilihan jenis perhitungan yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu juga memengaruhi penafsiran dan refleksi solusi dan melaporkan hasil yang diperoleh, sebagaimana diuraikan dalam siklus pemecahan masalah yang kami jelaskan di artikel pertama.
 
Kurikulum Victoria yang diusulkan disusun sedemikian rupa agar bisa fleksibel dan relevan dalam jangka waktu yang lama–seperti yang kita tahu bahwa konteks dunia nyata cenderung berubah seiring berjalannya waktu. Jadi, ada ruang bagi guru dan siswa untuk memilih, mengadaptasi, dan menyelidiki masalah dan isu yang penting bagi mereka di lingkungan mereka pada saat itu. Kurikulum dirancang secara fleksibel dan dapat disesuaikan agar guru dapat leluasa memilih topik matematika yang paling relevan dan sesuai dengan setiap numerasi tertentu dan konteksnya serta masalah yang diatasi.
 
Berikut adalah beberapa contoh pengaplikasian pendekatan ini di dalam kelas, mencakup 2 jenis dari 6 jenis konteks berhitung.
 
Contoh cara untuk mengembangkan civic numeracy dalam kelas
 
Civic numeracy sangat penting untuk membangun partisipasi aktif seseorang dalam kehidupan bermasyarakat dan merupakan langkah awal bagi kaula muda untuk memahami isu-isu penting dalam kehidupan kita (Weiland, 2017), serta untuk berpartisipasi secara demokratis dengan wawasan yang luas (Dewan Pendidikan, 2019).
 
Tantangan yang dihadapi generasi berikutnya adalah pemanasan global akibat aktivitas manusia. Kampanye kaula muda melalui gerakan School Strike 4 Climate (gerakan internasional oleh siswa sekolah yang bolos kelas di hari Jumat untuk ikut dalam demonstrasi menuntut para pemimpin politik untuk mengatasi dan mencegah perubahan iklim) berpotensi memicu munculnya pengajaran dan pembelajaran matematika (Ariza et al., 2021). Ada beberapa masalah yang harus ditangani–misalnya, melakukan audit sampah ke TPA, atau merencanakan usaha sosial yang mensimulasikan keadaan ekonomi yang terus berputar. Matematika yang akan diajarkan dan dipelajari sebagian besar ditentukan oleh konteksnya, tetapi pembelajaran yang terjadi bisa diterapkan dalam berbagai konteks berbeda.
 
Pandemi Covid-19 semakin memperlihatkan pentingnya matematika dalam kehidupan kita sehari-hari dengan menyoroti pendidik profesional pentingnya literasi statistik kritis untuk memahami laporan dan klaim yang dibuat di media dan media sosial. Penjelasan oleh politisi, pakar kesehatan, dan jurnalis mengenai jumlah dan penyebaran kasus, tingkat vaksinasi, dan lokasi paparan berbeda dari satu lokasi dengan lokasi lainnya. Hal ini membuat publik mempertanyakan kredibilitas dari informasi yang mereka dapatkan.
 
Keterampilan penting lainnya yang diperlukan untuk mengawasi keadaan di tengah Covid-19 adalah kemampuan membaca dan menafsirkan peta paparan. Ini bergantung pada pemahaman waktu dan ruang, termasuk peta dan lokasi. Mereka yang mahir membaca arah (mengetahui arah utara, selatan, timur, dan barat) dapat mengutak-atik peta digital untuk menemukan lokasi yang mungkin mereka kunjungi pada tanggal dan waktu tertentu. Ini juga membutuhkan kemampuan untuk memperkirakan estimasi waktu di suatu lokasi–apakah informasinya sesuai dengan informasi yang tersedia di situs eksposur?  Kemampuan membaca peta juga diperlukan saat kebakaran hutan.
 
Civic numeracy juga dapat meningkatkan kesadaran para siswa terhadap isu-isu keadilan sosial.  Misalnya, observasi yang membandingkan biaya sekeranjang barang belanjaan di lokasi-lokasi berbeda dapat menyimpulkan bahwa adanya perbedaan biaya hidup. Pendekatan ini sendiri merupakan model yang digunakan oleh Biro Statistik Australia untuk mengukur indeks harga konsumen (inflasi).
 
Pertanyaan tentang kesenjangan sosial dapat mencakup eksplorasi gender. Pandemi Covid-19 semakin memperbesar kesenjangan upah gender dan pensiun, dan laporan baru-baru ini mengatakan bahwa banyak wanita cenderung mengurangi jam kerja mereka daripada pria demi mendukung pembelajaran jarak jauh anak-anak mereka (Irvine, 2021). Dan, liputan media baru-baru ini menyoroti angka-angka yang dirilis Badan Kesetaraan Gender di Dunia Kerja yang menunjukkan ‘dalam 6 bulan terakhir, kesenjangan upah gender membesar menjadi 14,2 persen’ (Kelly, 2021).
 
Pengetahuan dan kemampuan matematika yang dikembangkan melalui konteks ini akan dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan. Contohnya adalah alokasi dana untuk infrastruktur olahraga komunitas. Siswa dapat mencari informasi yang tersedia untuk umum dan membuat spreadsheet data, membuat keputusan untuk menyajikan dan menganalisis informasi seperti informasi mengenai daerah sekitar, masyarakat, jumlah dana dan untuk kepentingan apa dana tersebut disalurkan.
 
Mempelajari isu-isu seperti contoh yang diberikan di atas memberikan keleluasaan kepada siswa dalam proses pembelajaran dan kemampuannya dalam memecahkan masalah, termasuk bagaimana kekuasaan dan informasi digunakan. Memahami isu-isu semacam ini bisa mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang aktif di mana melalui keputusan dan perilaku mereka, mereka dapat berkontribusi pada perubahan sosial yang positif.
 
Contoh cara untuk mengembangkan vocational numeracy dalam kelas
 
Kurikulum yang diusulkan meliputi fokus pada vocational numeracy, tanpa membatasi pekerjaan apa yang dipilih siswa di masa depan atau gunanya kemampuan matematika saat ini atau di masa depan tersebut. Sekali lagi, tujuannya adalah fleksibilitas dan stabilitas.
 
Penelitian tentang berhitung dan matematika di tempat kerja secara konsisten menunjukkan bahwa lulusan sekolah tidak siap terjun ke dunia kerja, mungkin karena terputusnya hubungan yang signifikan antara matematika di sekolah dan matematika di tempat kerja (misalnya, lihat AAMT & AiGroup 2014; Gravemeijer dkk., 2017; Shomos, 2014). Hal ini semakin berkaitan dengan pengetahuan, kebiasaan, dan penggunaan teknologi di tempat kerja (Hoyles et al., 2010). Penelitian AAMT dan AiGroup (2014) menyatakan:
 
Banyak orang di tempat kerja terbiasa dengan teknologi, terutama dalam menggunakan spreadsheet dan output grafis. Ada ketergantungan antara kemampuan matematika dan penggunaan teknologi di tempat kerja yang sudah jarang terlihat dalam praktik pengajaran saat ini. (hal. 2)
 
Hoyles dan rekannya (2010) menyebutkan penerapan matematika yang paling relevan di tempat mencakup pengukuran, pengumpulan data, variabel dan kovariasi, membaca dan menafsirkan data, grafik, dan bagan. Penelitian AAMT dan AiGroup (2014) menyebutkan kemampuan serupa namun juga menambahkan estimasi, menafsirkan rencana, diagram dan gambar skala, penggunaan rumus dan keterampilan dengan angka, serta perhitungan ke dalam list tersebut.
 
Jadi saat sudah menginjak tahun-tahun senior di sekolah, sangat penting untuk mempersiapkan dan membekali diri dengan keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan sebelum masuk ke dunia kerja. Tetapi bagaimana cara melakukan ini di lingkungan sekolah, di mana setiap siswa memiliki aspirasi dan minat kejuruan yang beragam? Contoh umum dari bidang yang menerapkan berbagai kemampuan matematika adalah desain interior dan dekorasi; bangunan dan konstruksi; retail dan cinderamata; industri perhotelan; pertanian, perkebunan dan bercocok tanam; serta olahraga dan rekreasi. Namun, jangkauan yang lebih luas dapat ditemukan jika Anda memiliki hubungan dengan bisnis atau industri lokal atau regional. Dekati mereka dan tanyakan apakah mereka dapat meluangkan waktu untuk membicarakan tentang pekerjaan-pekerjaan apa saja yang membutuhkan kemampuan matematika di tempat kerja mereka. Atau jika siswa sedang menempuh VET (Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan/kursus bersetifikat), mintalah mereka untuk meneliti, menyelidiki, dan mendokumentasikan kemampuan matematika apa saja yang diperlukan dalam kursus itu.
 
Misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang desain mungkin bersedia untuk berbagi informasi dengan siswa mengenai proses awal pengerjaan sketsa kasar hingga proses final untuk misalnya renovasi dapur, termasuk mendemonstrasikan apa saja aplikasi CAD (software komputer) yang digunakan. Proses ini kemudian dapat diterapkan di dalam kelas berdasarkan foto dan sketsa dapur siswa yang mereka rasa perlu direnovasi.
 
Bisnis lokal juga mungkin bersedia berbagi informasi tentang cara menggunakan spreadsheet dalam dunia kerja, baik untuk mengecek jumlah stok dan pencatatan, staf, insiden K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), atau anggaran perusahaan. Mereka dapat mendemonstrasikan cara menggunakan rumus dalam spreadsheet agar siswa bisa langsung mempraktekkannya.
 
Pengukuran, proporsi, dan rasio biasanya digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari bisnis salon, catering, hingga pertanian. Bisnis mungkin siap untuk berbagi spesifikasi atau prosedur operasi untuk proses bisnis mereka. Misalnya, penata rambut mencampurkan bahan kimia saat mereka memadukan warna dan petani membuat keputusan tentang penyemaian benih, pemupukan, dan penggunaan semprotan pestisida. Katering menyesuaikan pesanan dan resep makanan sesuai dengan apa yang klien mereka minta. Tanyakan ke tempat kerja tentang akurasi dan toleransi, dan dampak jika terjadi kesalahan perhitungan dalam hal biaya dan limbah yang berkaitan dengan proses produksi. Mesin atau teknologi apa yang mereka gunakan untuk mengontrol, mengelola, dan mengoptimalkan proses produksi? Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Anda mungkin dapat menyimpulkan kemampuan matematika apa yang diperlukan agar bisa membuat siswa menganalisis dan mensimulasikan proses ini sendiri.
 
Berikut adalah contoh prosedur operasi dari bisnis pengolahan makanan tentang produksi irisan daging sapi panggang yang menekankan pada berbagai pengetahuan dan kemampuan matematika yang digunakan.
 
 
 
Penutup
 
Sekolah dan guru pada akhirnya bertanggung jawab untuk menerapkan sebuah kurikulum. Badan guru profesional dan suara siswa menjadi landasan kuat bagi kurikulum yang diterapkan (Kirk & MacDonald, 2001).
 
Rekomendasi dari kami adalah menjadi sekreatif mungkin dan memusatkan konteks kehidupan nyata dalam kelas Anda, buatlah matematika menjadi serelevan, semenarik, dan sebermakna mungkin–ini adalah cara terbaik untuk meningkatkan perfoma siswa untuk lebih baik lagi. (Bagus Priambodo/Sumber: Jelita (Jendela Literasi Kita)/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image) 

Tags: