Konsep Bebas Ajak Siswa Berpikir Kritis dan Kreatif

Redaksi 17 Januari 2019

Intip Pendidikan di Finlandia 3 - Finlandia menempati posisi ke-15 pada indeks pembangunan manusia sedunia yang dirilis PBB pada 2018. Ini tidak terlepas dari sistem pendidikannya yang sangat mendorong kebebasan dalam belajar untuk menghasilkan siswa yang berpikir kritis dan kreatif.

Hilma Visuri, siswa kelas IV sekolah dasar, rutin sarapan pagi di rumah setiap pukul 07.00 pagi. Masih ada waktu untuk bersiap diri sebelum masuk sekolah yang biasanya dimulai pukul 08.15 atau pukul 09.30 pagi. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga dia bersepeda menuju ke sana.

Kelas Hilma berada di Korpimetso, nama salah satu gedung di kompleks sekolah Metsokangas. Sekolah itu dibangun pada 2016 di pinggiran Kota Oulu, Finlandia. Alih-alih ruang kelas tradisional yang berisikan bangku-bangku tertata lurus menghadap ke depan, Gedung Korpimetso tidak demikian. 

Korpimetso menampung tiga hingga empat kelompok belajar, beserta para guru dan asistennya yang berjumlah hingga 100 orang. Ruangannya sangat fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak ada sekat seperti laiknya ruang kelas di Indonesia, kecuali lemari buku, meja atau partisi yang mudah digerakkan. 

Ruangan ini disebut modul pembelajaran dan terdapat empat unit di Korpimetso. Sebutan itu mengacu pada penataan ruang yang bertujuan mendukung siswa belajar secara efektif dan kreatif. Luas masing-masing ruang 320 meter persegi, empat kali lebih besar dibanding rata-rata luas ruang kelas di Indonesia.

 Kondisi ini memungkinkan guru membentuk kelompok belajar dengan komposisi siswa, suasana dan bentuk interaksi yang berbeda-beda sesuai aktivitasnya. Lingkungan belajar seperti itu sangat disukai Hilma. “Yang menyenangkan, saya bisa memilih bagaimana dan di mana saya belajar. Ruangannya tidak sempit,” ujar Hilma.

Ya, kursi-kursi di Korpimetso ini bukan sekadar tempat duduk, melainkan sofa dadu warna-warni. Bahkan, ada juga kursi bean bag yang digelar di lantai. Tak jarang, siswa duduk berselonjor atau tengkurap sembari mengerjakan tugas. Pilihan perabot ini untuk membuat siswa merasa nyaman di kelas dan tidak terkesan kaku.

Mandiri sejak dini

Di kelas Hilma, tugas sekolah disampaikan setiap Senin. Siswa dapat merencanakan sendiri bagaimana tugas-tugas itu akan dikerjakan dan kapan menyerahkannya ke guru.

Tugas yang cukup besar bebannya dikerjakan secara berkelompok atau berupa proyek. Strategi ini untuk mengetahui sejauh mana siswa paham konsep dasar terkait tugas sekolah tersebut, serta seberapa besar keinginannya untuk berpartisipasi dalam kelompok.

Suasana ruang multifungsi ini memang ditujukan untuk melatih fokus dan motivasi siswa. Satu kelompok mencari informasi mengenai negara-negara Eropa di komputer, sedangkan kelompok lain belajar kata kerja Bahasa Inggris dengan seorang guru.

Beberapa kelompok sedang bermain games pembelajaran dan sisanya berkonsentrasi membaca. Jika ada siswa membutuhkan perhatian khusus, atau kondisi mulai tak tenang karena anak-anak merasa bosan, seorang guru atau asistennya akan masuk mengintervensi kelas tersebut 

Ada pula sudut ruang yang elemen pemisahnya dapat meredam suara. Mereka yang ingin belajar dengan tenang dan membutuhkan privasi dapat menggunakan sudut ini. Pelajaran kesukaan Hilma adalah seni dan kerajinan tangan juga menempati ruangan yang khusus didesain dengan lapisan penahan kelembaban (damp-proof

Setiap mata pelajaran di sekolah Metsokangas berdurasi 60 menit dengan jam istirahat 15 menit di antaranya. Waktu makan siang lebih lama lagi. Anak-anak diperbolehkan beristirahat di luar gedung, bahkan bermain di area hutan yang berdekatan dengan kompleks sekolah.

Hari sekolah Hilma biasanya berakhir pukul 01.30 siang. Dia kembali ke rumah dengan mengayuh sepedanya. Di rumah, dia mengerjakan pekerjaan rumahnya selama 10 menit atau lebih sembari makan camilan.

Saat luang, Hilma bermain dengan teman-temannya atau mengikuti kelas tari tiga kali seminggu. Biasanya Hilma diantar orang tuanya, meski tak jarang dia berangkat sendiri naik bis. “Saat dewasa, saya ingin menjadi desainer fashion atau artis,” ujarnya.

Bekal masa depan

Kisah Hilma di atas merupakan sedikit gambaran mengenai siswa sekolah komprehensif di Finlandia. Setiap tahun, masa sekolah mereka dimulai pada Januari saat musim dingin sedang berlangsung.

Berjarak hanya ribuan kilometer dari Lingkar Kutub Utara, suhu rata-rata setiap hari berada di bawah 10 derajat Celcius. Tetapi, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Siswa Metsokangas tetap bersemangat mengayuh sepeda menuju sekolah.

Jumlah siswa di Metsokangas mencapai 1.100 orang berusia 7 hingga 16 tahun. Guru, asisten guru untuk siswa berkebutuhan khusus, dan pegawai lainnya berjumlah sekitar 1.000 orang yang bekerja setiap hari.

Siswa menanggalkan baju dingin dan sepatu mereka di lorong luar ruang kelas. Mereka saling menyapa ceria, termasuk kepada guru dan staf yang terlibat di kelas. Atmosfer kelas terasa sangat ramah dan harmonis.

“Siswa tidak diajari keterampilan dasar saja, tetapi juga keterampilan menghadapi masa depan,” papar Kalle Komulainen, kepala sekolah komprehensif Metsokangas. Keterampilan itu berupa bekerja sama antarsiswa, diskusi, berpikir secara mandiri dan mampu mengarahkan diri sendiri.

Belajar tidak melulu di dalam ruang kelas, tetapi juga berlangsung di luar gedung sekolah. Sumber pembelajaran bisa diperoleh dari buku atau internet. Tugas berupa proyek kerap diberikan supaya siswa dapat memahami bahwa tidak ada batas antarmata pelajaran yang berbeda.

Siswa juga diajari mencari, menganalisa, dan memproses informasi. Semua proses belajar mengajar berfokus pada topik pelajaran dan keterampilan menggunakan teknologi informasi secara aktif.

Komulainen sendiri terlibat langsung mendesain dan merencanakan pedagogi sekolah sejak awal Metsokangas dibuka pada 2008. Hingga kini, sekolah tersebut terus mengembangkan diri. “Peran siswa berkembang dari individu yang mempelajari informasi menjadi produsen informasi,” kata Komulainen.

Guru bertugas mendukung siswa dan menyediakan kerangka bekerja yang solid. Semua ditujukan agar siswa siap menjelajahi dunia dengan keterampilan self-directed learning. (finfo/Bagus Priambodo/Marta Nurfaidah)

 

 

 

Tags: