Komunitas Belajar Tandai Upaya Implementasi Kurikulum Merdeka Telah Dimulai

03 Agustus 2022

Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di tahun ajaran 2022/2023 menjadi perhatian serius Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur.
 
Sejak diluncurkan secara resmi oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim pada Februari 2022, Kurikulum Merdeka Belajar kini sudah mulai diterapkan di sekolah. 
 
Plt Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur Dr Rizqi mengatakan, sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar ditandai dengan terbentuknya komunitas belajar di satuan pendidikan tersebut.
 
Rizqi menjabarkan data hingga Senin (1/8/2022), dari sekitar 24.600 sekolah di Jatim yang terdaftar melaksanakan Kurikulum Merdeka Belajar secara mandiri, telah ada sekitar 300 lebih sekolah tercatat aktivitasnya dalam komunitas belajar.
 
“Ini berarti perlu untuk terus ditingkatkan agar mencapai minimal 99 persen,”ujar  Rizqi saat apel pagi di kantor BBPMP Jatim pada Senin lalu (1/8/2022).
 
Ingin tahu lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi? Baca Leading and Managing A Differentiated Classroom by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau dan terjemahannya di sini
 
Unduh SE Mendikbudristek No 7 Th 2022 ttg Diskresi SKB 4 Menteri ttg Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 di sini
 
 
Rizqi pun berpesan kepada seluruh Widyaprada dan pegawai BBPMP Provinsi Jawa Timur untuk terus berkolaborasi melakukan langkah taktis dan inovasi meningkatkan capaian sekolah yang sudah melakukan aktivitas dalam komunitas belajar.
 
“Karena itu perlu disusun strategi khusus, cara dan tindakan serta treatment yang lebih baik lagi sehingga bisa diketahui dan dipastikan setiap sekolah melaksanakan Kurikulum Merdeka melalui komunitas belajar di sekolahnya,”  pesan Rizqi.
 
Untuk itu, Rizqi meminta semua tim untuk secara rutin mendiskusikan langkah-langkah untuk bisa melaksanakan minimal 99 persen bersama konsultan ahli di bidang penjaminan mutu pendidikan yang ada di BBPMP Provinsi Jawa Timur.
 
“Jika baru 50 persen sekolah yang baru mengaktivasi, segera diskusikan dengan konsultan. Agar dalam minggu ini hasilnya sudah terlihat dan sudah terukur,” tegas Rizqi.
 
Rizqi juga berpesan untuk hal ini tidak perlu teori yang terlalu muluk-muluk.
 
“Kalau hanya berdebat di teori, nanti  hanya teori laporan yang menumpuk saja, tetapi tidak berdampak pada peningkatan indikator-indikator yang menjadi tanggungjawab kita di BBPMP,” pesannya.
 
Sebelumnya, saat memberikan sambutan  di Sosialisasi Pemanfaatkan Platform Merdeka Mengajar dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Secara Mandiri di Provinsi Jawa Timur Gelombang 1 yang digelar daring pada Selasa (5/7/2022), Rizqi memaparkan tentang apa dan bagaimana Kurikulum Merdeka Belajar.
 
Dikatakan Rizqi, Kemendikbudristek tidak memaksa satuan pendidikan atau sekolah harus menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar.
 
Sekolah justru diberi kesempatan memilih satu dari tiga alternatif. Pertama, sekolah menerapkan Kurikulum 2013 penuh. Kedua, menerapkan Kurikulum 2013 yang disederhanakan di masa pandemi Covid-19, dan ketiga memilih Kurikulum Merdeka Belajar.
 
Diuraikan Rizqi, dari pilihan ketiga ini pun, satuan pendidikan masih diberi tiga pilihan lagi, yakni menerapkan mandiri berbagi, mandiri berubah atau mandiri belajar.
 
Bagi sekolah yang belum siap sumber daya manusia (SDM) maupun infrastruktur bisa memilih mandiri belajar. “Artinya, satuan pendidikan masih diberi kesempatan menggunakan kurikulum 2013 tapi dalam pembelajaran sudah menggunakan prinsip-prinsip yang ada di Kurikulum Merdeka,” terang Rizqi.
 
Sementara pilihan mandiri berubah diperuntukkan bagi sekolah yang siap menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar, tapi belum mampu mengembangkan perangkat ajar atau alat evaluasi.
 
Sedangkan bagi sekolah yang siap dan sudah mampu mengembangkan sendiri perangkat ajar dan modul ajar bisa memilih mandiri berbagi.
 
“Kurikulum merdeka ini dilaksanakan secara bertahap berdasarkan kesiapan satuan pendidikan atau daerahnya. Sehingga tidak dipaksa harus menggunakan kurikulum merdeka, tapi mendaftar secara mandiri bagi yang  siap,” tegas Rizqi.
 
Ketika dalam pelaksanaannya masih ada keraguan antara memilih mandiri belajar, mandiri berubah  atau mandiri berbagi, masih bisa berubah. “Itu bukan hal paten. Bisa berubah dari mandiri berbagi jadi mandiri belajar atau mandiri berubah. Begitu sebaliknya, tergantung kesiapan,” tukas Rizqi. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Terbentuknya  Komunitas Belajar Jadi Tandai Upaya Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Telah Dimulai/Foto ata ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: