Komunitas Belajar Jadi Sarana Berbagi Praktik Baik antar Sekolah

Redaksi 08 Juli 2022

Komunitas belajar menjadi strategi penting dalam implementasi kurikulum merdeka.
 
Plt Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur Dr Rizqy mengatakan, komunitas belajar ini menjadi kegiatan andalan yang harus dilaksanakan mulai dari tingkat satuan pendidikan atau sekolah.
 
Sekolah yang diharuskan membuat komunitas belajar adalah yang sudah melaksanakan kurikulum merdeka.
 
Setelah terbentuk, komunitas belajar kemudian diperluas antar satuan pendidikan. Komunitas ini lah yang nantinya harus diberi nama dan didaftarkan. 
 
“Silahkan diberi nama apapun sesuai kearifan lokal masing-masing tidak harus MGMP atau KKG. Berilah nama yang mudah diingat, menjual dan mudah dibranding,” saran Rizqy saat memberikan pengarahan di pelatihan Pemanfaatkan Platform Merdeka Mengajar dalam Implementasi Kurikulum Merdeka secara Mandiri di Provinsi Jawa Timur Gelombang 1 yang digelar BBPMP Provinsi Jawa Timur secara daring pada Selasa (5/7/2022).
 
 
Dikatakan Rizqy, setelah beberapa sekolah bergabung membentuk komunitas belajar antar sekolah, diharapkan mereka akan saling berbagi praktik baik. “Misalnya 10 sekolah bergabung di komunitas belajar, masing-masing ada praktik baik. Minimal ada 10 praktik baik yang dimiliki setiap sekolah,” terangnya.
 
Dengan manfaat itu, menurut Rizqy, nantinya pelaksanaan kurikulum bisa berkembang, menghasilkan karya yang inovatif dan kreatif, dan dapat berbagi bersama.
 
Rizky menyebut, selain komunitas belajar antar sekolah, ada juga komunitas daring yang menjadi pilihan ketika komunikasi antar sekolah dibatasi oleh jarak yang jauh, memerlukan mobilitas yang cukup tinggi dan menyita banyak waktu. “Disarankan membentuk komunitas daring agar bisa berbagi praktik baik di antara komunitas yang ada. Sehingga ketika komunitas daring dilakukan, maka akan diikuti ribuan guru di Indonesia,” ujarnya.
 
Rizqy pun membeberkan cara membentuk komunitas belajar yang dimulai dengan mendaftar di platform merdeka mengajar (PMM). Dan, mulai tanggal 22 Juni 2022 lalu Kemendikbudristek sudah merilis komunitas belajar per kabupaten/kota.
 
“Komunitas belajar yang sudah mendaftar melalui PMM (platform merdeka mengajar) nanti akan dikurasi oleh tim Kemendikbudristek. Bagi yang memenuhi persyaratan akan jadi komunitas belajar dalam rangka implementasi kurikulum merdeka,” jelasnya.
 
Rizqy menyebut komunitas belajar di Jawa Timur ada 267 yang tersebar di 38 kabupaten/kota, namun yang sudah melakukan aksi nyata baru 142.
 
“Oleh karena itu perwakilan komunitas yang bergabung di zoom meeting ini mohon segera lakukan aksi nyata lengkap. Download, berbagi, belajar bersama sehingga diakui sebagai pelaku aksi nyata dari kurikulum merdeka,” terang Rizqy.
 
Rizqy berharap komunitas di satuan pendidikan dan di kabupaten kota dapat mendorong tingginya persentase aksi nyata.
 
“Kami harapkan nantinya jumlah persentase aksi nyata secara bertahap akan tinggi. Mudah-mudahan bisa mengalahkan Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat maupun dari Sulawesi barat,” tukas Rizqy.
 
Di kesempatan ini, Fadibah Setiawan, SPd, MPd, Widyaprada BBPMP Provinsi Jawa Timur memberikan panduan bagaimana cara mengakses Komunitas Belajar di platform merdeka mengajar.
 
Dijelaskan, untuk bisa mengaksesnya, guru dan kepala sekolah harus login dahulu menggunakan akun belajar yakni belajar.id atau madrasah.kemenag.go.id.
 
Fitur ini akan memuat macam-macam komunitas sesuai provinsi dan jenjang pendidikan. Fitur komunitas juga memuat daftar narasumber praktik baik untuk implementasi kurikulum merdeka berdasarkan provinsi. 
 
Menurut Iwan, Komunitas Belajar ini bukan sebuah kewajiban bagi setiap guru atau kepala sekolah, namun dengan bergabung akan bisa mengembangkan diri lebih luas.
 
“Kalau di SMA ada musyawarah guru mata pelajaran sekolah (MGMPS), koordinatornya di tingkat sekolah itu bisa membuka komunitas belajar di tingkat sekolah. Anggota minimal 2. Setelah itu dikembangkan ke MGMP (antar sekolah). Yang jadi koordinator adalah yang pertama membuka kelasnya,” terang Iwan, panggilan Fadibah Setiawan.
 
Iwan mengingatkan pendaftaran komunitas belajar ada batas waktu, karena dari Kemdikbudristek akan mengeluarkan SK untuk komunitas. “Di surat edaran kemendikbud sudah disebutkan tanggal terakhirnya. Jadi silahkan membuka komunitas masing-masing mulai dari tingkat sekolah,” tukas Iwan. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: