Kolaborasi Meningkatkan Kompetensi Literasi & Numerasi dI Jawa Timur

11 Januari 2023

Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur menjadi tuan rumah pelaksanaan rapat persiapan kegiatan peningkatan kompetensi literasi dan numerasi di Provinsi Jawa Timur pada Selasa (10/1/2023).
 
Sujarno M.Pd, Kepala BBPMP Provinsi Jawa Timur mengatakan, peningkatan kompetensi literasi dan numerasi merupakan salah satu project yang diamanahkan Kemendikbud Ristek RI kepada BBPMP dan BBGP (Balai Besar Guru Penggerak) Provinsi Jawa Timur, serta melibatkan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
 
Karenanya, rapat itu juga dihadiri oleh Kepala BBGP Provinsi Jatim, Drs. Abu Khaer, M.Pd, serta Kepala Balai Bahasa Provinsi Jatim, Dr. Umi Kulsum, M. Hum.
 
Kata Sujarno, Jawa Timur bersama 4 provinsi lain mendapatkan amanah dari Kemendikbud Ristek RI untuk meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi di masing-masing wilayahnya.
 
“Hasilnya, dari masing-masing provinsi akan dikumpulkan menjadi laporan, sebagai best practice untuk nasional,” kata Sujarno.
 
Dijelaskannya,, perwakilan dari masing-masing provinsi itu pun telah menggelar rapat bersama yang diikuti oleh coach dan sponsor.
 
“Sponsornya adalah pak Rahmadi, direktur GTK Dikdas. Kemudian coach-nya pak Ismail, Direktur PPG,” imbuhnya.
 
Dalam pertemuan itu, BBPMP dan BBGP diminta untuk juga melibatkan Balai Bahasa. Sebab, Balai Bahasa telah memiliki program yang diberi nama Gerakan Literasi Nasional.
 
 
Dia melanjutkan, Jawa Timur dan 4 provinsi lainnya diberi waktu 9 bulan untuk melaksanakan misi peningkatan kompetensi literasi dan numerasi hingga diperoleh hasilnya.
 
Misi itu dijalankan dengan menerapkan metode design thinking yang terdiri dari 5 tahap, yakni Empathize, Define and Design, Ideate, Prototype, dan Testing. 
 
“Di bulan Januari 2023 ini kita harapkan untuk Empathize sudah bisa diselesaikan,” lanjutnya.
 
Dua daerah sasaran
 
Dijelaskannya lagi, untuk tahapan testing nantinya, ada 2 kabupaten yang akan menjadi lokasi uji coba.
 
Ada beberapa pertimbangan sehingga keduanya ditunjuk jadi lokasi uji coba.
 
Pertama, tingkat literasi numerasi di salah kabupaten masih masuk kategori merah atau rendah.
 
“Kabupaten tersebut masih di posisi merah ketiga dari bawah. Sedangkan satu kabupaten lainnya berada di zona tengah atau zona kuning,” tuturnya.
 
Pertimbangan kedua, kedua daerah (kabupaten) tadi masuk dalam Program Sekolah Penggerak Angkatan 1. Dengan demikian, bisa dilihat bagaimana praktik pelaksanaan literasi dan numerasinya di masing-masing tempat tersebut.
 
Pertimbangan ketiga, salah satu kabupaten dianggap sebagai daerah yang mewakili daerah tapal kuda dengan banyak pulau. Sedangkan satu kabupaten lainnya mewakili daerah Mataraman dan daratan.
 
“Salah satu kabupaten mewakili daerah tapal kuda dan di sana terdiri dari banyak pulau. Informasinya ada lebih dari 130 pulau di sana. Ini tantangan tersendiri. Kalau satu kabupaten lainnya, ini mewakili daerah Mataraman dan daratan, Jadi bisa dibandingkan,” urai Sujarno.  
 
Pertimbangan keempat, baik di kedua kabupaten tadi, misi ini sama-sama mendapat dukungan dari pemerintah daerah masing-masing. Dengan dukungan ini diharapkan koordinasi akan berlangsung lebih mudah.
 
“Sehingga nanti kita tinggal fokus bagaimana meningkatkan kompetensi literasinya,” kata dia.
 
Misi Kemendikbud Ristek
 
Sujarno mengingatkan, Kemendikbud Ristek RI mendorong agar kolaborasi antar lembaga dapat dijalankan dengan baik dalam misi ini.
 
Selain itu, meskipun melibatkan 3 lembaga, namun misi itu dikerjakan atas nama Kemendikbud Ristek.
 
“Jadi kita bekerja bertindak melaksanakan project ini atas nama kemendikbud ristek. Jadi nanti kita mungkin akan bisa saling berbagi informasi,” pungkasnya. (Judul asli berita: BBPMP Jatim Bersama BBGP dan Balai Bahasa Jatim Berkolaborasi Tingkatkan Kompetensi Literasi di Jawa Timur/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Tags: