Kebutuhan Fundamental di Masa Pandemi

Redaksi 07 Oktober 2020

Liputan Khusus - Literasi adalah kecakapan fundamental yang membekali peserta didik dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis, serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan.
 
Menurut Susanti Sufyadi dari Pusat Assesment dan Pembelajaran Balitbangbuk (Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan) Kemendikbud, kemampuan literasi ini memiliki manfaat yang besar dalam meningkatkan ketahanan peserta didik dalam melalui masa pandemi.
 
Hal tersebut dikatakan Susanti saat menjadi salah satu pembicara dalam webinar bertajuk Sarasehan Literasi Sekolah #8 beberapa waktu lalu.
 
Katanya pula, di masa darurat pandemi Covid-19 yang menuntut adanya adapatasi pembelajaran, keterbatasan sumber daya dan kendala teknis berdampak pada adanya kemungkinan pembelajaran tidak tersampaikan secara utuh.
 
“Alternatif terbaik adalah pelaksanaan pembelajaran difokuskan pada literasi. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang fundamental,” ujar Susanti.
 
Di masa pandemi Covid-19, lanjut Susanti, Kemendikbud telah menetapkan kemampuan literasi sebagai salah satu orientasi dalam pembelajaran.
 
Selain literasi, kemampuan lain yang ingin dikembangkan selama pandemi tersebut adalah kecakapan numerasi.
 
“Numerasi adalah kecakapan fundamental yang membekali peserta didik dengan kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari dan kemampuan untuk menginterpretasi informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kenyamanan terhadap bilangan dan cakap menggunakan keterampilan matematika secara praktis untuk memenuhi tuntutan kehidupan,” tuturnya.
 
Dalam upaya mewujudkan pengembangan kemampuan literasi dan numerasi pada anak didik selama mereka belajar di rumah karena pandemi, Susanti menyebut bahwa peran guru sangatlah besar meski mereka tak bertatap muka secara fisik satu sama lain.
 
Bersama orangtua, guru bisa mengomunikasikan adanya kebutuhan bahan bacaan untuk anak serta meyakinkan mereka bahwa minat membaca anak akan memberikan dampak yang baik bagi masa depan mereka. Setidaknya, argumentasi itu didasarkan pada riset PISA tahun 2018.
 
“Belajar dari PISA, tahun 2018, kita perlu memperkaya jenis bacaan karena siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu membaca sebagai hiburan dalam seminggu, capaian skor PISA-nya lebih tinggi 50 poin. Siswa yang mengaku sering dilibatkan guru dalam pembelajaran membaca, memiliki skor membaca 30 poin lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak pernah atau jarang terlibat,” sambungnya.
 
Selain mengomunikasikan dengan orangtua, guru juga perlu memastikan bahwa siswa memiliki engagement dengan bahan bacaan yang mereka konsumsi. Hal ini bisa dilakukan dengan pertanyaan pemantik serta diskusi terkait isi suatu bacaan.
 
“Pertanyaan pemantik serta diskusi terkait isi suatu bacaan secara positif menunjukkan dampak tingkat literasi membaca yang baik, ada engagement antara siswa dengan bacaan,” pungkasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Keterampilan Literasi dan Numerasi, Kebutuhan Fundamental di Masa Pandemi/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: