K13 Ala Scotland

Redaksi 03 Juni 2018

“Don’t be afraid of change!

You might lose something good, but you’ll gain something better”

Sebuah pepatah kuno menyebutkan bahwa sebaiknya kita tidak perlu takut berlebihan dengan perubahan. Bisa jadi kita kehilangan sistem yang stabil, tapi akan mendapat pengganti yang lebih baik. Apabila saya kaitkan dengan pendidikan, refleksi ini mengingatkan saya ketika mengikuti pelatihan intensif Calon Pengajar Muda di Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar tahun 2014, khususnya dalam diskusi kurikulum pendidikan dasar di Indonesia. Apakah Indonesia siap menerapkan kurikulum 2013 (K13) dengan segala konsekuensinya? Tentu, titik temu tak kunjung beradu. Sebagai pembelajar, saya tertantang! Saya melihat banyak keunggulan, diantaranya kompetensi siswa digambarkan secara holistik dalam domain sikap, pengetahuan dan keterampilan, istilah kerennya tematik. Pembelajaran kontekstual mampu menstimulus siswa supaya tetap aktif dan berfikir kreatif. Studi banding saya ke beberapa sekolah alternatif bertaraf internasional di kota metropolitan sukses menyuguhkan konsep tematik lokal dengan cita rasa Indonesia. Kompetensi dan kreativitas pendidik pun dipertaruhkan dalam kurikulum ini.

Sepulang mengabdi di pedalaman pada tahun 2015 dan melanjutkan studi di luar negeri tahun 2016, pertanyaan itu pun masih ada, Apakah belajar dengan sistem tematik kontekstual itu metode yang efektif? Kalaupun benar, bagaimana cara yang paling tepat untuk mengaplikasikannya? Sungguh, tidak terbayangkan sebelumnya saya akan menyaksikan jawaban pertanyaan tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Pembelajaran berbasis proyek yang terintegrasi dengan tema pembelajaran sudah diterapkan di UK (United Kingdom) dan terbukti sukses mencetak kebiasaan positif siswa. Beberapa pengalamanpun menginspirasi saya merajut mozaik yang mendidik.

Membudayakan literasi dengan proyek perluasan perpustakaan

Suatu hari saya mendapat undangan dari sahabat yang sedang menyelenggarakan syukuran rumah kontrakan. Beliau mahasiswa PhD di universitas ternama di kota musik dunia versi UNESCO ini. Ketika menikmati hidangan, tiba-tiba dua bocah SD menghampiri saya, Umar (11 tahun) dan Azzam (7 tahun). Mereka adalah buah hati pasangan mahasiswa Indonesia program doktoral yang sudah tinggal di Glasgow selama 4 tahun.

Umar   :  Kak, saya ingin presentasi proyek sekolah terbaru

Saya    :  Proyek apa Umar? Kak Hanif jadi penasaran nih

Umar   :  Jadi, sekolah sedang mengadakan reading challenge bagi siswanya. Kami harus membaca 10 buku bacaan sampai 7 minggu ke depan, genre bebas, sesuai selera

Saya    : Keren! Bukannya sudah ada target membaca satu buku setiap minggu ya?

Umar   : Iya, kalau itu memang tugas mingguan. ini proyek baru Kak.

Saya    :  Terus bedanya apa?

Umar   : Setelah membaca 10 buku dalam 7 minggu, kami harus mempresentasikan kepada orang lain pesannya supaya lebih memahami isinya. Kemudian, kami berharap kakak mau berpartisipasi proyek kami dengan donasi uang £ 0.10 untuk setiap buku yang kami baca.

Saya    :  Proyeknya seperti apa Umar?

Umar   : Dalam proyek sekolah ini, kami ingin menambah koleksi buku bacaan perpustakaan. Sekolah menargetkan £ 1,000 untuk reading challenge. Bagi siswa yang berhasil mencapai target, ia akan mendapat hadiah buku bacaan keren dari sekolah.

Saya    :  Umar sudah membaca berapa buku sejak proyek ini berjalan?

Umar   : Sebuah fiksi detektif 400 halaman. Azzam juga baru tamat fiksi horrornya.

Kemudian mereka bercerita, penuh antusias! Saking terpesonanya dengan bedah buku mereka, saya langsung mendonasikan £ 5 tanpa berpikir panjang.

Umar   : Kak, nggak kebanyakan? Kalau donasi £ 5, berapa buku yang harus saya baca?

Saya    :  Ya nggak papa. Saya deposit supaya Umar tetap bersemangat memenuhi target!

Umar   : Siap! Nanti saya informasikan lagi perkembangannya. Seandainya tidak memenuhi target, saya akan kembalikan donasinya.

Obrolan singkat dengan duo bersaudara ini sukses membuat saya berkontemplasi tentang pengalaman pendidikan yang saya dapatkan. Banyak metode kreatif menumbuhkan minat baca, reading challenge ini diantaranya. Selain menumbuhkan budaya literasi sejak dini, setidaknya mereka belajar 7 budaya positif secara tidak langsung dari proyek tersebut.

Komunikasi.

Siswa dituntut mempresentasikan buku bacaannya. Mereka belajar berkomunikasi dan menyampaikan pesan.

 -  Berfikir kritis.

Selain presentasi, mereka belajar berfikir kritis untuk beropini tentang isi buku bacaan. Mereka membuat argumen pribadi tentang konten bukunya. Menarik!

Persuasi.

Mereka mencoba mempengaruhi responden untuk berdonasi dalam proyek sekolah.Tentu ini bukan hal yang mudah bagi anak sebelas tahun. Mereka harus punya argumen kuat kenapa kita harus membantu proyeknya. Mereka juga belajar bernegosiasi. Keren!

Percaya diri.

Melakukan komunikasi dan negosiasi dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa. Bedah buku dan mencari donasi merupakan pilihan belajar yang menarik.

Amanah.

Mereka menyampaikan tujuan program dengan jelas. Mereka juga akan memberi informasi perkembangan, termasuk mengembalikan donasi apabila tidak memenuhi target.

Peka isu sosial.

Donasi yang dikumpulkan merupakan sebuah tanggapan dari isu sosial di lingkungan. Kali ini isu literasi, pernah juga isu penghijauan, kebersihan dan lain-lain

Manajemen waktu.

10 buku dalam 7 minggu, 400-500 halaman setiap buku. Mereka tetap sekolah, masih main bola, selalu mengikuti pengajian agama dan lain sebagainya

Kembangkan imajinasi anak dengan proyek buku keroyokan

Presentasi Umar yang menawan membuat saya semakin tertarik menggali lebih dalam tentang proyek sekolah lainnya. Sayangnya, mereka berdua harus mencari korban baru untuk mendengarkan bedah bukunya. Tanpa aba-aba, mereka lari bak singa mencari mangsa. Penuh bersemangat! Sayapun berdiskusi dengan Ibunda Umar, sebut saja Ibu Suherman.

Saya    : Bu, bagaimana awalnya mereka suka banget membaca?

Ibu       : Kami biasakan mereka membaca dari kecil. Kami sisihkan sebagian uang untuk biaya buku setiap bulan. Kurikulum sekolah juga mendukung. Mereka membiasakan siswanya untuk membaca buku di luar bacaan wajib sekolah, one book one week. Mereka juga menstimulus siswa dengan berbagai proyek sekolah kreatif, baik proyek personal dan komunal.

Saya    : Proyek apa saja yang pernah mereka kerjakan?

Ibu       : Macam-macam! mulai dari proyek sosial, lingkungan, sampai literasi.

Saya    : Bagaimana intensitas proyek yang efektif? Bagaimana strategi jika mereka bosan?

Ibu       :  Mereka mendapat proyek dua kali setiap semester ditambah proyek libur panjang pergantian semester. Setahun bisa mencapai lima aktivitas yang berbeda. Sampai saat ini belum melihat tanda-tanda kebosanan karena setiap proyek itu kreatif, tematik integratif.

Saya    : Menarik ya! Proyek apa yang paling mengesankan Bu?

Ibu       : Proyek buku kroyokan! Jadi, ceritanya lagi belajar sejarah Scotland. Semua Siswa harus membaca dan memahami sejarah Scotland. Uniknya, selain harus mengerti isinya, siswa diminta berimajinasi tentang latar belakang, karakter tokoh, sampai kekuatan superhero. Mereka diminta menuliskan imajinasinya semenarik mungkin, baik secara tulisan maupun pesan visual tentang sebuah kisah dari berbagai sudut pandang. Mereka boleh menggambar bebas sejarah Scotland versi mereka. Karya mereka dibukukan, menambah koleksi sekolah.

Saya    : Luar biasa! Lalu bagaimana nasib bukunya?

Ibu       : Sebagai koleksi, buku itu digunakan untuk pameran, alat kampanye kretivitas, dan souvenir para donator. Sekolah rutin membuat exhibition karya siswa setiap semester. Membiasakan berkarya sejak dini dan memberi apresiasi, itu kata kuncinya!

 

Paparan Ibu Suherman membuat saya termenung dan merefleksikan pengalaman pola pembelajaran yang saya dapatkan. Pelajaran sejarah bak lullaby ketika masih duduk di bangku SD, membosankan! Sekarang, siswa dapat memahami sejarah secara kreatif. Memahami sejarah dengan menulis ulang dan ditambah sedikit imajinasi. Boom! Jadi sebuah hasil karya membanggakan! Pantas saja Britania Raya menjadi negara penghasil buku terbanyak di dunia.

 

Menurut International Publisher Association (IPA), pada tahun 2014 penerbit-penerbit di Inggris merilis lebih dari 184.000 buku fisik dan 60.000 versi digital atau setara dengan 2.875 judul buku baru persejuta penduduk. IPA menyatakan bahwa penerbit di UK mencetak buku lebih dari 20 judul baru setiap jamnya. Industri kreatif di bidang percetakan sangat subur. Hal ini tidak dapat terlepas dari sistem pendidikan yang mampu membiasakan siswanya menulis buku sejak SD.

Menyatu dengan alam lewat kampanye peduli lingkungan

Suatu pagi di musim semi, saya berangkat ke kampus cukup pagi. Waktu sudah menunjukkan jam 08.00 GMT, begitupun suhunya, pas 8 derajat Celcius. Kupakai jaket tebal, syal, serta tak lupa kacamata hitam. Udara pagi Glasgow yang segar dan bunga sakura yang mulai bersemi menambah semangat pagi. Tiba-tiba seorang anak bule usia TK menyapa.

“Hi Kak, saya Virginia. Kami sedang menanam pohon,” sapa gadis mungil bermata biru. Tampak sekelompok anak TK menanam tumbuhan di pekarangan tak jauh dari tempat tinggal saya. Memang, sekitar 100 meter dari flat saya terdapat taman hijau yang biasa digunakan tempat berkumpul para aktivis peduli lingkungan. Anehnya, pagi itu yang menyapa bocah TK lalu ia membagi selebaran pamphlet aksi peduli lingkungan bertemakan green world. Kemudian ia lari kembali ke dalam kelompok. Spontan, gurunya memuji dan mencium pipinya. Saya penasaran dengan aktivitas apa yang mereka lakukan. Saya memberanikan diri bertanya kepada gurunya.

 Saya    : Hallo, saya Hanif. Mahasiswa University of Glasgow yang tinggal di flat sebelah.

Guru    : Hi Hanif, saya Aileen. Saya guru TK anak-anak ini.

Saya    : Aktivitas apa yang sedang mereka lakukan Aileen?

Guru    : Ini adalah kegiatan tahunan kami setiap memasuki musim semi. Seperti kita ketahui, suhu udara di Glasgow sangat dingin dengan empat musim. Setiap spring, kami mengajarkan anak-anak TK ini untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dengan berkunjung ke komunitas aktivis lingkungan. Anak-anak dapat belajar langsung dan bertanya apapun! Mereka juga diajak menanam pohon seperti yang kamu lihat sekarang.

Saya    : Terus, selebaran ini untuk apa?

Guru    : Oh, itu kegiatan kolaborasi mereka dengan aktivis lingkungan. Jadi, anak-anak akan menanam pohon di taman dan biji-bijian di halaman kompleks perumahan ini. Tidak semua tanaman bakal bertahan dengan keadaan suhu Scotland. Makanya, ada gerakan penanaman setiap musim semi, sekalian mengenalkan mereka kepada alam. Mereka akan berkampanye verbal seperti jadwal yang tertulis di pamphlet. Kamu boleh datang, untuk umum kok!

Saya    : Wah, menarik sekali!

Guru    : Kamu juga bisa ikutan menanam pohon dan ikut berdonasi untuk membeli bibit pohon baru. Tapi ini sukarela kok. Kamu peduli lingkungan aja kami sudah senang.

Baiklah, sekali lagi saya terdiam. Menyaksikan proyek sekolah tematik yang terintegrasi di luar kelas sehingga anak didik tidak terasa sudah belajar sains dan sosial. Mereka merealisasikannya di sekitar rumah, depan sekolah, tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Fasilitas umum cukup mendukung, banyak ruang terbuka hijau di Glasgow yang dapat dijadikan ruang berbagi ilmu.

Selain proyek menanam pohon dan kampanye bersama aktivis lingkungan, mereka juga belajar bersosialisasi dengan orang lain. Sungguh, banyak jalan menuju Roma. Banyak media untuk membuat aktivitas belajar menyenangkan!

Tumbuhkan kepedulian sosial bareng refugee

Menurut surat kabar The Guardian (2016), Skotlandia merupakan salah satu daerah paling ramah refugee dunia. Skotlandia mengklaim mereka sudah menampung lebih dari sepertiga dari total refugee di Britania Raya. Skotlandia menerima 600 dari total 1.602 refugee. 105 diantaranya berasal dari Syiria. Suasana meresahkan negara-negara timur tengah memaksa rakyatnya menjadi pengungsi, ribuan diantaranya pindah Eropa setiap tahunnya.

Masyarakat lokal yang terkenal ramah merasa iba. Mereka ingin membantu dengan membuat proyek sosial, termasuk beberapa sekolah dasar. Siswa mengumpulkan baju bekas layak pakai dan peralatan rumah tangga yang sudah tidak digunakan. Sebagian barang dititipkan ke yayasan sosial seperti The British Heart Foundation untuk dijual dan semua keuntungan diberikan untuk meringankan beban refugee. Siswa secara berkala juga memberikan bantuan berupa pakaian, selimut, makanan sampai mainan.

Secara tak langsung, siswa belajar berempati dengan penderitaan orang lain. Teori psikologi anak menyebutkan hal-hal abstrak seperti empati lebih mudah dipahami dengan praktik di lapangan, dibandingkan sekedar teori di dalam kelas. Siswa belajar langsung dari refugee, mencari tahu kisah-kisah perjuangan di balik perjalanan mereka yang mengharukan, sehingga memahami tujuan memberikan bantuan.

Kesimpulannya

Pembelajaran kreatif anak merupakan tantangan terbesar dalam parenting. Nyatanya, tidak ada buku baku untuk merumusannya. Berkaca dari pengalaman tinggal di Glasgow, UK, pembelajaran berbasis proyek kreatif dan terigentrasi dengan mata pelajaran di sekolah sukses membuat siswa semangat belajar dengan cara menyenangkan serta membentuk kebiasaan positif. Empat contoh proyek di atas hanya contoh kecil aplikasi proyek sekolah yang saya temukan.

Banyak hal positif yang dapat juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di tanah air. Khususnya membudayakan literasi sejak dini dengan rangkaian aktivitas rencana tindak lanjutnya. Proyek buku keroyokan siswa SD juga sukses membiasakan mereka berkarya sejak dini. Budaya membaca, menulis dan berdiskusi itu adalah hal yang standar bagi setiap anak di sini. Literasi tidak hanya di sekolah dan perpustakaan. Kendaraan umum, taman, pusat kota, museum dan lain-lain, semua bisa jadi ruang belajar. Buku menjadi teman setia mereka kemana-mana.

Membiasakan proyek pengembangan diri sejak dini memang tidak mudah, namun bukan mustahil pula. Buktinya, Umar-Azzam menikmati reading challenge dan proyek menulis buku. Begitu pula dengan Virginia, ia suka berkebun dan menanam bunga di pekarangan kompleks perumahan serta mengajak temannya peduli lingkungan. Para siswa tersebut juga terlibat aktif di proyek sosial sekolah untuk refugee negara timur tengah. Bisa jadi, awalnya mereka terpaksa. Namun pada akhirnya jadi terbiasa. We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit, kata Aristoteles. Karena kebiasaan ini pula yang membuat anak-anak di atas tumbuh menjadi generasi cerdas, berempati dan siap beraksi untuk lingkungan. (Hanif Azhar, Center for Cultural Policy Research dan Alumnus University Of Glasgow - Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar)

Tags: