Jujur dan Disiplin, Dua Karakter Kunci Kesuksesan

Redaksi 28 Februari 2019

Siswa pandai dalam akademik saja dianggap masih ada kekurangan jika mereka tidak mempunyai karakter yang baik untuk masyarakat sekitarnya. Sekolah yang bagus pun tidak menjamin kesuksesan seseorang di masa depan.

“Jujur dan disiplin adalah dua karakter penting yang patut dimiliki setiap siswa Indonesia,” tegas Bupati Magetan Suprawoto ketika menghadiri diklat pedagogik guru profesional di Gedung PGRI Kabupaten Magetan, Jumat (22/2/2019). 

Kedua karakter itu dinilainya menjadi penentu kesuksesan seseorang. Layaknya apa yang dikatakan penulis asal Amerika Serikat, Thomas J Stanley, dalam bukunya The Millionaire Mind

Berikutnya adalah networking atau dalam bahasa Jawa disebut blater (ramah) dan poin keempat adalah keluarga yang mendukung. Poin sekolah yang baik dan pintar masing-masing justru berada di urutan ke-23 dan 26. 

Pendidikan Karakter dalam Inovasi Pembelajaran menjadi tema besar pada diklat tersebut. Acara yang dihadiri kepala sekolah dan guru SD-SMP se-Kabupaten Magetan ini bertujuan untuk mengonsep bagaimana karakter akan masuk dalam sistem pembelajaran para guru di sekolah. 

Menurut Suprawoto, Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis pendidikan karakter. “Saya yakin persoalan-persoalan bangsa sekarang muncul itu karena adanya krisis karakter masyarakatnya,” ucapnya. 

Dia kemudian mencontohkan, terdapat 300-an jabatan kosong di Kabupaten Magetan. Mulai dari guru dan kepala sekolah SD, kepala sekolah SMP, pejabat eselon II, III dan IV. 

“Ini tidak main-main. Banyak kebutuhan SDM yang harus mengisi posisi-posisi itu. Tapi, saya tidak sekadar menerima orang untuk bertugas di jabatan tersebut,” terangnya. 

Ketika ada nama calon pengisi jabatan diserahkan kepadanya, Suprawoto menanyakan kepada stafnya apakah orang tersebut berkarakter baik atau tidak. “Bukan pintar atau tidaknya. Pertanyaan saya itu tidak segera terjawab sebab tidak ada yang berani menjawab,” ungkapnya. 

Mengapa dia menekankan hal itu? Sebab, Suprawoto ingin memastikan bahwa orang-orang yang diangkatnya adalah orang-orang berkarakter baik. Lebih pastinya, dia ingin bekerja dikelilingi orang-orang baik. 

Program Penguatan Pendidikan Karakter sendiri menjadi prioritas Kemendikbud RI. Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd mengatakan, guru adalah pejuang garda terdepan bangsa. 

“Saya setuju dengan apa yang dituturkan Pak Bupati. Jujur dan disiplin menjadi modal utama manusia sukses dalam hidupnya,” ungkap Bambang. 

Materi pelajaran tidak harus terlalu banyak dipelajari. Belajar sedikit tetapi akan dilakukan adalah luar biasa daripada belajar banyak tetapi tidak dilakukan. 

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter adalah satu dari beberapa program untuk memajukan pendidikan di Indonesia oleh pemerintahan Presiden Jokowi. “Bapak dan ibu adalah tokoh yang bersentuhan langsung dengan siswa. Apapun hasil pada diri siswa adalah tergantung dari apa yang sudah dilakukan para guru,” kata Bambang. 

Selanjutnya, dijelaskan Perpres No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Permendikbud No 63 Tahun 2014 tentang Kepramukaan dapat disinergikan. 

“Bagaimana gaung Pramuka di sekolah Anda? Biasa, bukan? Saya harap Magetan pramukanya tidak biasa saja,” tegasnya. 

Kepramukaan dapat diimplementasikan dalam lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK. Lima nilai karakter itu adalah religius, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan kegotongroyongan. 

“Jika perlu, buat program per bulan,” usul Bambang. 

Misalnya, bulan pertama adalah bulan religius. Anak-anak diminta untuk menjaga kebersihan musala dan mengaji. Bulan berikutnya bulan nasionalis dapat diwujudkan dengan gerak jalan atau kegiatan yang menguatkan jiwa nasionalisme siswa. Untuk bulan kemandirian, siswa diajari membuat suatu project serta bulan kegotongroyongan dengan mengajak mereka saling bekerja sama. 

Jika ini dikembangkan, siswa Indonesia akan semakin luar biasa di kancah internasional. Bukan lagi dikenal sebagai pemenang olimpiade sains, tetapi juga murid yang berkarakter baik di dunia pendidikan internasional. (Bagus Priambodo)

Tags: