Jelang Asesmen Nasional AKM, Guru Didorong Tingkatkan Keterampilan Literasi

Redaksi 21 Januari 2022

Salah satu tugas pokok Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Timur tahun ini adalah melakukan asesmen nasional kembali.
 
Kepala LPMP Provinsi Jawa Timur, Dr.Rizqi M.Pd, menegaskan bahwa asesmen nasional pada hakikatnya merupakan bagian dari evaluasi pendidikan.
 
 
 
“Seperti kita tahu, evaluasi pendidikan itu ada 2, yakni evaluasi hasil belajar peserta didik yang biasanya dilakukan guru dalam rangka mengetahui perkembangan pencapaian kompetensi siswa, lalu evaluasi sistem pendidikan untuk mengetahui apakah setiap satuan pendidikan telah melakukan layanan pembelajaran yang sesuai standar nasional pendidikan,” urainya.
 
Dalam asesmen nasional, terdapat 3 parameter yang dinilai. Salah satunya adalah asesmen kompetensi minimum yang mencakup 2 hal yaitu kompetensi literasi membaca dan kompetensi literasi numerasi.
 
Terkait kompetensi literasi membaca, menurut Dr. Marzuki, Widyaiswara LPMP Provinsi Jawa Timur, merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dikuasai anak-anak, khususnya di abad ke-21 ini.
 
“Ini yang perlu kita pahami bersama bahwa daya kritis dalam literasi menjadi penting karena ini akan berguna dalam kehidupan mendatang,” kata Marzuki dalam Sharing Knowledge yang digelar LPMP Provinsi Jawa Timut beberapa waktu lalu (Senin, 10/1/2022).
 
Tak salah bila Marzuki mengatakan demikian. Sebab, di era informasi seperti saat ini, sumber-sumber informasi dapat diakses dengan mudah oleh siapapun.
 
Nah, melimpahnya informasi ini harus dimanfaatkan untuk menguasai berbagai informasi dan materi pengetahuan. Namun karena informasi yang beredar melimpah ruah, anak didik mesti pula menguasai berbagai kemampuan. Tak hanya pandai mengakses, namun juga terampil mengelola serta memanfaatkan informasi-informasi tersebut.
 
“Jadi setidaknya ada 4 kemampuan dalam literasi yang harus dimiliki. Pertama, mengumpulkan informasi, kedua mengolah informasi, lalu ketiga menyajikan informasi, dan keempat mengkomunikasikan informasi,” sambungnya.
 
Ironisnya, berdasarkan pengalaman Marzuki ketika memimpin pelatihan terhadap para guru, banyak guru yang justru tidak sadar betapa pentingnya keterampilan literasi ini pada anak didik.
 
Hal ini terlihat dari survei yang digelar di berbagai sekolah dengan guru peserta pelatihan sebagai respondennya.
 
Menurut Marzuki, banyak guru yang ternyata tidak mengisi hari-harinya dengan kegiatan literasi. Baik saat jam kosong di sekolah, jam istirahat sekolah, maupun ketika berada di rumah.
 
“Kami punya asumsi, kalau sekolah itu sudah terliterasi dengan baik, murid-muridnya sudah keranjingan membaca. Guru-gurunya sudah harus keranjingan membaca. Demikian juga kepala sekolahnya. Kalau itu belum ada, maka sekolah itu masih jauh dari literasi,” tuturnya.
 
“Jawaban para guru itu menggambarkan bahwa guru-guru kita masih banyak yang sangat minim kegiatan literasinya. Ini jadi tantangan sekaligus harapan bagi LPMP Jatim. Apalagi ketika kami menyodorkan hasil skor PISA Indonesia yang selalu di urutan rendah, guru-guru malah banyak yang tertawa. Ini jauh lebih miris,” imbuhnya. (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Jelang Asesmen Nasional AKM, Guru Didorong Tingkatkan Keterampilan Literasi Untuk Mewujudkan Anak Didik yang Terliterasi/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: