Jatim Jangan Sampai Kendor & Harus Punya Pamor

Redaksi 27 Juni 2019

Persiapan panjang tentu telah dilakukan oleh para siswa, guru pendamping dan orang tua peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Nasional 2019. Pelatihan berlangsung tidak dalam hitungan hari saja, melainkan minggu bahkan bulan.

Bakat sains yang dimiliki siswa tidak dapat begitu saja terasah dengan baik. Mereka membutuhkan latihan yang rutin dan pembinaan yang maksimal untuk hasil optimal.

Setelah proses seleksi di tingkat kabupaten/kota, siswa peserta OSN menjalani seleksi tingkat provinsi. Saat ini, telah terpilih 24 siswa mewakili Provinsi Jatim untuk maju ke ajang nasional yang digelar di Yogyakarta pada 30 Juni hingga 6 Juli 2019.

Tentu saja, kemampuan siswa OSN mengerjakan soal tidak terlepas dari guru pendampingnya. Guru yang melatih mereka di sekolah juga termasuk guru pilihan yang berprestasi.

“OSN ditujukan untuk mengembangkan bakat dan minat peserta didik dalam bidang sains. Training di LPMP ini untuk mengetahui dan menguji kemampuan siswa sebelum berangkat ke Yogyakarta,” ungkap Dr. Bambang Agus Susetyo, M.M., M.Pd Kepala LPMP Jatim pada pembukaan Training OSN Jatim 2019 di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim Surabaya, Senin (17/6/2019).

Ia juga mengatakan training di LPMP Jatim bertujuan membekali siswa dengan ilmu yang cukup untuk berhadapan dengan peserta dari provinsi lain. “Walaupun saya yakin siswa ini sudah mendapat bimbingan dari sekolah dan tempat bimbingan belajar,” imbuhnya.

Selanjutnya, Bambang menekankan agar kesempatan bagus ini dimanfaatkan dengan baik.

“Jatim jangan sampai kendor dan harus memiliki pamor. Siswa pembinaan OSN SMP ini bisa menjadi langkah awal untuk menemukan program unggul bagi pembinaan siswa berprestasi dan peserta OSN,” jelas Bambang.

Durasi lima hari pelatihan sebagai masa pembekalan dianggap tidak terlalu lama dan membuat siswa lelah. Meski demikian, metodologi training yang tepat masih perlu digodok lebih baik lagi. Model soal diantisipasi mendekati dengan soal OSN yang diujikan.

“Tahun depan semestinya training dimulai lebih awal. Tidak satu kali seperti saat ini, tetapi bisa dua atau tiga kali selama setahun,” usulnya.

Bambang juga menyarankan siswa peserta training OSN SMP untuk mengimbangi pelatihan ini dengan olahraga. “Pada tubuh yang sehat, ada pikiran yang kuat pula. Manfaatkan semua akses fasilitas di gedung LPMP ini di waktu senggang,” imbuhnya.

Fasilitas yang bisa diakses siswa itu adalah peralatan fitness dan bulutangkis di lantai 6 Gedung LPMP Jatim. Namun, disarankan siswa tidak berpergian jauh dari lokasi gedung.

Siswa peserta OSN SMP wakil Jatim diharapkan tidak boleh terlalu percaya diri atau pesimis. Lawan di Yogyakarta belum diketahui kekuatannya. Hal penting yang harus diingat peserta adalah pentingnya pengelolaan kondisi mental agar tenang sehingga tidak mudah goyah atau hilang fokus.

“Pandanglah semua peserta itu sama,” sarannya.

Selain pendampingan oleh guru sekolah, orang tua juga berperan penting bagi siswa peserta OSN. Selama ini, sudah terbentuk kerja sama antara guru dan orang tua siswa peserta OSN. Yang dulu urusan transportasi dan akomodasi peserta OSN menjadi masalah karena terkait biaya, sekarang tidak lagi. Semua berkat koordinasi yang baik antara guru sekolah dan orang tua siswa.

Bambang menuturkan, agar orang tua menjaga asupan makanan anaknya, waktu penggunaan telepon pintar, dan mampu membuat kondisi rumah nyaman bagi si siswa sehingga mereka dapat belajar dengan baik dan tenang.

Training OSN SMP Jatim Tahun 2019 ini berlangsung selama 17 - 21 Juni 2019 dan baru pertama kali diadakan di LPMP Jatim. Peserta kegiatan training OSN SMP di LPMP Jatim terdiri dari delapan siswa mapel Matematika, delapan siswa mapel IPA dan delapan siswa mapel IPS. (Bagus Priambodo)

Tags: