Jangan Sepelekan Gambar Ilustrasi

Redaksi 28 Oktober 2020

Liputan Khusus - Gambar ilustrasi menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dalam buku cerita untuk anak-anak. Dengan adanya gambar ilustrasi, buku cerita anak anak menjadi lebih hidup sehingga membuat anak tertarik untuk mengonsuminya.
 
Menurut Evi Shelvia, ilustrator berpengalaman yang karya-karyanya telah menghiasi banyak buku cerita anak, gambar ilustrasi dalam buku cerita anak akan membantu anak memahami dan mempersepsikan kisah meski mereka belum bisa membaca dan menulis.
 
Ilustrator yang akrab dipanggil Epit ini mengatakan, pada dasarnya sebelum anak bisa menulis, kemampuan seni yang mereka miliki pertama-tama adalah menggambar.
 
“Termasuk coret-coretan tak beraturan di tembok rumah, itu adalah cara anak bercerita melalui gambar,” ujarnya dalam webinar bertajuk Sarasehan Literasi #8.
 
Perempuan yang karya-karyanya sudah diakui di berbagai negara ini menambahkan, dalam mengonsumsi buku cerita bergambar, anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis abjad serta huruf, akan berusaha memahami cerita tersebut lewat gambar meski dengan versinya masing-msaing.
 
Inilah yang menjadi tanggung jawab utama setiap ilustrator buku cerita anak. Lewat gambar yang dibuat, para ilustrator akan membantu merangsang anak untuk berimajinasi, berempati, sekaligus memahami perasaan.
 
“Karena itu yang paling penting dalam membuat gambar ilustrasi untuk buku cerita anak, bukan ilustrasinya harus menarik, tetapi harus bisa bercerita,” tambah perempuan kelahiran 1971 tersebut.
 
Dikatakannya pula, bagi anak-anak yang memiliki bakat menggambar, maka gambar-gambar ilustrasi tersebut juga dapat memancing bakat mereka agar muncul ke permukaan. Saat itulah, orangtua harus sadar dan membantu mengarahkan anak menggambar.
 
“Dengan membaca buku sebanyak-banyaknya, akan terlihat anak lebih menyukai menulis atau menggambar. Kalau memang anak ternyata lebih suka menggambar, di situlah saatnya orangtua untuk membantu mereka dan memfasilitasi,” tutur Epit.
 
Bagi Epit, tantangan terbesar dalam menekuni aktivitas sebagai ilustrator buku cerita anak adalah bekerja dengan visual. Karenanya, transfer ide antara penulis dengan ilustrator harus berlangsung dengan sempurna agar apa yang ada di dalam kepala penulis, dapat ditangkap secara presisi dan divisualisasikan oleh ilutrastor.
 
“Jadi tantangan utamanya adalah manajemen waktu dan manajemen diri, karena proses mengilustrasi itu bukan menghias buku, bukan menjual keindahan, tapi bercerita melalui gambar. Setiap halaman yang dibuat harus berkesinambungan, ada emosi dan konsentrasi yang harus dijaga dari awal sampai akhir buku agar berkesinambungan,” tandasnya. (Bagus Priambodo/Judul asli liputan: Jangan Sepelekan Gambar Ilustrasi Untuk Buku Cerita Anak/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: