Jadilah Guru Melek Internet di Era Revolusi Industri 4.0

Redaksi 10 September 2019

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sepatutnya diadopsi para pelaku pendidikan di lingkungan sekolah. Kepala sekolah, guru, dan semua murid diharapkan piawai mengoperasikan internet serta perangkat yang terhubung dengannya seperti komputer atau gadget.

Imbas positif dan negatif tentu dirasakan dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat tersebut. Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (yang saat ini menjabat sebagai Plt. Kepala LPMP Jatim) menegaskan itu semua tergantung bagaimana pengguna menyikapinya.

“Guru yang mempunyai gadget atau smartphone ya sebaiknya jangan hanya memanfaatkannya untuk chatting dan berkirim foto melalui aplikasi WhatsApp saja,” sarannya pada Seminar Nasional Pendidikan dan Pembelajaran 2019 di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) beberapa waktu lalu, tepatnya Kamis (29/8/2019).

Gadget akan banyak manfaatnya bila digunakan untuk mencari informasi melalui mesin pencari di Google Chrome. “Saya pernah menanyakan hal ini kepada para guru di sebuah acara. Sebagian besar tidak pernah membuka Google Chrome,” tuturnya.

Bambang lebih lanjut memberi contoh bila gadget dapat juga digunakan untuk membuka e-book. Apalagi belakangan, pembelajaran juga lebih banyak memakai e-book dibanding buku.

“Memang kita harus beradaptasi dengan kondisi revolusi industri 4.0 sekarang yang lebih banyak memakai saluran internet dan komputerisasi,” kata Bambang.

Maka, seorang guru harus paham benar mengenai empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi tidak sebatas slogan saja, melainkan diterapkan kepada dirinya sendiri.

“Jangan sampai kita kembali ke era 2.0 atau 3.0. Kalau dulu listrik, sekarang era siber,” imbuhnya.

Tidak lagi masanya di mana murid disuruh menulis jawabannya di papan tulis. Semua bisa dilakukan melalui gadget, entah berbagi atau berdiskusi tentang materi pelajaran.

Untuk mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bambang menganjurkan agar jangan berpuas diri hanya dengan menjadi orang berkualitas standar. Apalagi mereka tergolong kaum milineal yang tidak asing lagi dengan budaya menggunakan teknologi.

“Meski demikian, jangan sampai teknologi hanya dilihat saja, tetapi perlu dicoba dan dipraktikkan,” tegasnya.

Bahasan itu terkait dengan paparan Bambang mengenai peningkatan mutu pendidikan menghadapi era revolusi industri 4.0. Sesuai dengan tema seminar yang diusung yaitu Reorientasi Profesionalisme Pendidik dalam Menyikapi Tantangan Revolusi Industri 4.0.

Seminar ini juga dihadiri dua pembicara lainnya. Mereka adalah Prof Herman Dwi Surjono Drs MSc MT PhD, pakar pembelajaran e-learning dari Universitas Negeri Yogyakarta, serta Dr Julan Hernadi MSi, pakar pengembangan pembelajaran dari UMPO. (Bagus Priambodo)

Tags: