Jadikan Menulis Sebagai Terapi di Tengah Pandemi

10 Juli 2020

Gemetar di tengah pandemi - Pandemi Covid-19 benar-benar membuat aktivitas manusia semakin dibatasi. Demikian pula dalam hal pendidikan. Diliburkannya sekolah-sekolah menyebabkan berbagai metode pembelajaran mengalami penyesuaian drastis. Dari yang sebelumnya sebagian besar digelar secara luring, kini harus digelar secara daring atau online. Tujuannya sudah jelas, untuk menjauhkan anak-anak dan warga sekolah lainnya dari ancaman tertular Virus Corona.

Namun dari sekian banyak metode pembelajaran yang berubah, kegiatan menulis adalah salah satu yang seharusnya tidak berubah. Apalagi, menulis bukanlah aktivitas yang dibatasi oleh tempat dan waktu. Kapanpun dan dimanapun, menulis bisa dilakukan. Tentu saja, syarat mutlaknya mesti tersedia peralatan. Minimal pulpen dan buku tulis. Atau kalau sudah terbiasa, menulis juga bisa dilakukan menggunakan gawai.

Baca juga: Manfaat Ajak Anak Tulis Diary untuk Masa Depan & Menerbitkan Tulisan Anak di Media Kala Pandemi

Di tengah pandemi yang membuat kita semua harus ekstra waspada, aktivitas menulis juga dapat menjadi terapi psikologi. Bila tidak percaya, coba cari di mesin Google. Niscaya, akan anda temukan berbagai literatur dan karya ilmiah yang memberi penjelasan secara lengkap, khususnya dari kacamata ilmu kejiwaan.

Natalie Proulx, seorang pendidik yang melompat menjadi staff editor di The Learning Network, menyebut bahwa menulis dapat menjadi jalan yang positif bagi siapapun untuk mengekspresikan perasaan yang sulit disampaikan secara lisan. Baik itu perasaan takut, bahagia, maupun harapan-harapan lainnya.

Dalam artikelnya di New York Times, Proulx juga menyebut bahwa menulis dapat membuat kita semakin memahami dunia di sekitar kita dan posisi kita di dalamnya. Dalam konteks pandemi Covid-19, menulis dapat membantu kita untuk merefleksikan apa yang terjadi di kehidupan kita, lalu menciptakan gagasan-gagasan baru darinya.

Dari pernyataan-pernyataan Proulx tersebut, tepat rasanya kalau kita sebagai para pendidik mulai mencoba mengajak para siswa kita yang sedang belajar dari rumah, untuk mulai menulis. Tak perlu menetapkan tema yang rumit. Setidaknya, anak-anak sudah mulai bisa diajak untuk menuliskan apa yang dia ketahui tentang Covid-19 dan bagaimana perasaannya selama pandemi ini berlangsung.

Dari proyek sederhana itu saja, setidaknya ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh. Pertama, anak-anak berani terbuka mengekspresikan perasaannya lewat tulisan. Kedua, dengan mengajak anak menulis, kita mulai menumbuhkan semangat literasi di benak mereka. Pasalnya, untuk bisa menulis, umumnya seseorang harus membekali diri dengan membaca. Ketiga, dengan mengajak anak menulis mengenai apa yang mereka rasakan, dapat melatih mereka untuk berani berkarya. Tentu akan menjadi stimulus yang baik apabila kita kemudian memfasilitasi agar tulisan-tulisan tersebut dapat dipublikasikan di berbagai kanal dan dibaca banyak orang. Bayangkan, anak-anak tentu senang ketika tulisan mereka dibaca banyak orang dan diapresiasi.

Keempat, yang tak kalah penting, dengan mengajak anak menulis tentang apa yang mereka rasakan di tengah pandemi, kita bisa mendapat gambaran bagaimana kondisi kejiwaaan anak-anak. Dengan demikian, kita sebagai guru, tahu harus mengambil tindakan yang seperti apa untuk mengatasi kesulitan-kesulitan siswa selama belajar dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah.

Mungkin pada awalnya, kita akan kesulitan untuk memberanikan anak untuk menulis. Karena itulah, bagian terbesar yang bisa kita berikan kepada mereka adalah motivasi. Pastikan mereka tahu bahwa mereka memiliki kebebasan untuk menyatakan gagasan. Artinya, mereka tak perlu takut salah karena pada dasarnya tidak ada yang salah dari apapun yang mereka ungkapkan lewat tulisan. Pada akhirnya, ketika motivasi dan keberanian itu mulai tumbuh, kita bisa optimistis mereka tak akan kesulitan untuk diajak menulis lebih sering dan lebih banyak lagi. Intinya, mari jadikan menulis sebagai salah satu kebiasaan berliterasi yang dicintai anak-anak. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari https://www.nytimes.com)

*Gemetar: "Gerakkan Menulis untuk Belajar"

Tags: