Interpretasi Inovasi Berkonsep ‘MITRA’

Redaksi 30 Desember 2019

Globalisasi & Strategi - Anak-anak Indonesia diarahkan untuk belajar, bebas untuk berkreasi dan harus mampu beradaptasi secara fleksibel. Dalam praktiknya, isu mendasar adalah soal konsep hubungan antara guru dan murid, dosen dan mahasiswanya, tenaga pendidik dan penerima ilmu.

Di kesempatan yang sama, pada kuliah umum di acara Musyawarah Nasional ke-5 Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (16/12/2019), Mendikbud Nadiem Makarim menilai harus ada perubahan yang terjadi dalam cara berpikir para guru, dosen dan pembimbing murid di sekolah atau universitas.

Disampaikan oleh sang Menteri bahwa konsep yang harus dibawa adalah soal tuntutan kepada tenaga pengajar agar melihat murid dan mahasiswa tersebut sebagai mitra. Bukan lagi sebagai bawahan, atau orang yang posisinya lebih rendah. Adanya kesetaraan status itu akan memantik kebebasan dan kemerdekaan dalam belajar. Singkatnya, sama-sama belajar.

Untuk pertamakalinya di Indonesia, tuntutan masa depan, memaksa guru dan dosen, untuk melihat murid dan mahasiswa itu sebagai MITRA agar setara

Paradigma tersebut akan menghasilkan sesuatu yang baru. Tidak lagi soal konsep atasan dan bawahan, satunya mengajar lainnya belajar, tetapi lebih kepada memulai untuk berubah menjadi setara,sehingga akan terjadi relasi timbal balik yang menguntungkan. Jika tidak dilakukan maka perubahan tidak akan bisa dimulai, padahal itu yang dibutuhkan untuk masa depan bangsa.

Kemudian, juga muncul sebuah gagasan kepada para tenaga pengajar/pendidik. Gagasan ini harus ada di benak para guru, dosen, dan pengajar. Apa tujuan mereka menularkan ilmu kepada orang-orang di sekitarnya?

Itulah pentingnya menyadari tujuan mereka saat sedang mendidik, melontarkan pertanyaan kepada diri sendiri yakni “Apa dampak positif dari hal-hal yang saya ajarkan bagi murid/mahasiswa ini, terutama untuk masa depan dia?”

Pengertian inovasi oleh sebagian besar orang di Indonesia juga masih kerap kali salah persepsi. Gagasan yang selama ini muncul adalah soal perubahan inovasi yang berasal dari hal-hal yang terlihat secara kasat mata. Misalnya adanya keberadaan sekolah-sekolah khusus tenaga kerja (vokasi) hingga pengadaan pusat inovasi. Pusat inovasi itupun masih diinterpretasikan sebagai gedung, hingga adanya tempat-tempat khusus lain yang terlihat.

Padahal perubahan inovasi bukan soal hal-hal kasat mata, karena pengertian  inovasi sendiri adalah hasil dari suatu budaya yang tercipta. Menurut Mendikbud, inovasi bisa dikerjakan tanpa adanya pembangunan pusat inovasi, gedung tinggi untuk mewadahi gerakan inovasi, atau pun sistem khusus untuk mewujudkan inovasi.

Inovasi adalah soal budaya dan perkembangannya. Budaya apa yang dimaksud?

Budaya lahir dari pemikiran yang sudah mendarah daging soal suatu pemahaman. Budaya bisa berupa pemahaman yang terus dikembangkan, budaya berinovasi, budaya kolaborasi, budaya ingin tahu, budaya growth mindset hingga budaya agar tidak malas berpikir demi kemajuan bangsa.

Tak usah pakai gedung khusus untuk jadi pusat inovasi, jika ada segerombolan manusia punya pemahaman yang sama dengan mindset sama yang terus dikembangkan, maka pengertian inovasi sudah sangat dekat. (Bagus Priambodo/Sumber narasi “You Tube Channel” Kemendikbud RI: https://www.youtube.com/watch?v=oN9D22yd0Y4/foto ilustrasi dipenuhi dari file dokumentasi sekolah-sekolah yang keunggulan/keunikannya pernah dimuat di rubrik inside school LPMP Jatim)

Tags: