Ini Dia, Tujuh Proses Menulis Kreatif

Redaksi 04 Januari 2020

Menulis kreatif - Fokus dan disiplinkan diri kita untuk menjadikan menulis sebagai bagian jadwal keseharian kita. Mungkin akan terasa sulit untuk membagi waktu dengan tugas-tugas harian lainnya. Apalagi bagi kita yang belum pernah membuat tulisan panjang sama sekali.

Lalu, apa saja proses untuk membuat karya tulisan kreatif itu? Berikut ini ada tujuh tahap yang mungkin bisa dipraktikkan

Persiapan

Proses kreatif diawali dengan persiapan. Ini tahap di mana kita menentukan untuk membuat sebuah proyek menulis. Putuskan apa yang akan dilakukan dan carilah jalan agar kita bisa mencapainya. Misalnya, tentang sejarah atau data faktual lainnya untuk tulisan fiksi dan non fiksi kreatif.

Movitasi sangat dibutuhkan di tahap ini. Adanya motivasi membuat kebiasaan menulis yang disiplin akan muncul dalam diri kita setiap hari.

Kemudian, tanyakan pada diri kita sendiri dua hal: Apa yang akan saya persiapkan? Dan, bagaimana saya semestinya melakukan ini?

Kita tidak perlu segera menjawabnya. Lihat ke belakang, dan ingat hal apa saja yang sudah kita selesaikan dalam hidup. Dan berpikirlah ini waktunya kita mendorong diri sendiri meraih sesuatu lebih dari yang sudah pernah dicapai.

Selain menentukan tujuan dan metode tulisan, tahap persiapan juga berarti mengubah karakter kita sendiri selama beberapa bulan ke depan. Kita akan menjadi proyek ini sendiri dan hidup di dalamnya selama beberapa waktu.

Lalu, genre apa yang sekiranya kita ingin terapkan di proyek ini? Mungkin kita sudah menyukai genre tulisan tertentu. Nah, kita bisa menerapkannya dalam proyek menulis kita sendiri ini. Atau bisa juga memilih genre berbeda yang menantang kita untuk mengubah kebiasaan, pendapat, atau kerangka berpikir kita selama ini.

Perencanaan

Tahap ini meliputi penelitian dan pra-meditasi. Penulis buku non-fiksi kreatif biasanya mulai dengan pilihan topik dan bukan struktur tulisan. Mereka kemudian meneliti topik yang akan ditulisnya dengan melakukan wawancara, pencarian arsip dan data di perpustakaan atau internet. Mereka juga mengelompokkan ide dan gambaran cerita melalui brainstorming.

Sementara bagi penulis buku fiksi, ada yang sama persis antara rencana dan hasil tulisan. Ada pula yang membuat sedikit perencanaan, tetapi terus maju hingga selesai tulisannya. Bagi mereka ini, menulis adalah sebuah eksplorasi, perjalanan tanpa peta yang setiap halamannya akan ditemukan karakter-karakter baru.

Penulis terkadang posisinya sama seperti pembaca. Persepsinya tentang karakter cerita muncul seiring berkembangnya tulisan yang disusun.

Inkubasi

Tahap di mana penulis akan selalu sibuk bekerja. Namun, ada masa di mana penulis biasanya mengalami stagnasi. Ide tidak berkembang, kalimat yang muncul jelek. Ini terjadi di tahap inkubasi.

Ketika hal itu terjadi, kita tidak perlu khawatir. Biarkan saja itu muncul. Sebab, ada kalanya di saat impian, lamunan, ketidaksadaran seseorang itu berubah menjadi hal positif.

Kebiasaan menulis akan terhenti sesaat. Dan sebaiknya tidak digunakan untuk membaca. Di tahap ini, kita tidak lagi membicarakan proyek tulisan, tetapi mendengar kalimat-kalimat itu agar berkembang dengan sendirinya.

Mulai bekerja

Jangan mulai dengan sebuah kalimat pertama sebuah prosa atau buku lainnya. Biarkan lembar halaman kita tetap putih. Proses mulai menulis memang tahap yang paling sulit. Penulis yang sudah piawai pun mengakuinya.

Meski begitu, tetap buat coretan tentang garis besar plot cerita, sketsa karakter, atau deskripsi. Mulai dengan menulis bebas dengan mengaitkan antar kalimat yang muncul di kepala kita. Lakukan itu hingga terbentuk pola yang mulai menggoda kita untuk terus melanjutkan menulis.

Kemudian, mulai menulis ulang (re-writing) beberapa kalimat tersebut menjadi baris kalimat yang bermakna. Selanjutnya, maju ke tahap penulisan berikutnya.

Yang perlu diingat, kita akan menemui masa untuk membentuk ulang komposisi tulisan, dan memulainya dari awal lagi. Itulah proses menulis kreatif. Tidak ada kata ‘memulai’ dan ‘mengakhiri’ yang sebenarnya, akan selalu ada perubahan dalam proses penyelesaian naskah tulisan.

Lancar menulis

Jika kita sudah menjadikan menulis sebagai kebiasaan harian, maka selanjutnya tidak akan ada banyak kesulitan. Setidaknya kita akan menikmati aktivitas mengeksplorasi cerita dan ingin tahu seperti apa bagian akhirnya nanti.

Untuk itu, jaga alur kerja. Itu termasuk hitungan jumlah kata, jam kerja, serta menulis secara cepat dan bebas. Jangan menulis ulang (re-writing) terlebih dulu hingga semua selesai.

Jika mengalami kesulitan, ambil bolpen dan berjalan-jalanlah.

Para psikologis mengatakan alur berpikir kreatif adalah proses penyerapan materi secara menyeluruh. Fokus yang berkualitas yang membuat penulis dapat berpikir jelas apa sebenarnya tujuannya untuk menulis, bahkan sampai batas kemampuan otaknya. Tindakan menulis merupakan hasil akhirnya.

Pikiran yang melenceng bisa terjadi di tahap ini. Ada gangguan dan kekhawatiran yang menyebabkan mental seseorang berubah. Mungkin itulah mengapa menulis bisa menimbulkan rasa ketagihan, dan dianggap sebagai terapi. Namun, untuk sampai di fase itu, dibutuhkan praktik menulis yang terus menerus.

Jangan khawatir jika kita mengalami tiga langkah kemajuan dan dua langkah kemunduran. Itu ritme dan masa yang dialami seorang penulis. Ingatlah, pada akhirnya nanti kita akan menulis ulang (re-writing) semua kalimat-kalimat tersebut.

Diam mencari ide

Proses menulis bukanlah hal yang tidak terstruktur sama sekali. Prosesnya alami, setiap tahap berhubungan satu sama lain. Ada kala prosesnya menyenangkan, tapi ada juga yang sulit.

Kita akan sering menjumpai tiba-tiba kelancaran menulis menjadi lambat. Seolah, otak berhenti menyuplai kosakata karena kehabisan ide. Berhentilah menulis saat itu terjadi.

Akhiri dulu aktivitas menulis untuk hari itu dan pergi jalan-jalan. Beri waktu bagi diri dan otak kita untuk ‘terisi kembali’ dengan kesunyian.

Diam membuat proses berpikir semakin jernih dan lancar. Tanpa disadari, otak kita akan terisi lagi dengan berbagai jenis ide, kata, dan frase kalimat.

Kemajuan dan kalimat akhir

Satu hal yang akan kita raih di sini bukanlah kemajuan menulis atau semacamnya. Tetapi perasaan ingin membuat tulisan menjadi lengkap. Yaitu ketika bentuk dan struktur cerita sudah sesuai dengan konsep yang ada di pikiran kita.

Kita juga mulai bisa mengukur sejauh mana hasil kerja ini tercapai, sesuai dengan target yang dibuat di awal proyek menulis. Sekali penulis itu sudah membuat kemajuan, jarang sekali mereka kembali ke kualitas awal mereka.

Kualitasnya sudah naik secara keseluruhan. Kita akan ingin membuat target lebih jauh dari tingkatan baru kita sekarang.

Bagi sebagian besar penulis, tidak ada hal yang berakhir. Banyak dari mereka yang merevisi hasil kerjanya sendiri setelah diterbitkan. Kadang itu terkait dengan penulisan judul.

Judul

Apa fungsi judul? Judul menawarkan kesan pertama kepada pembaca. Kita harus berusaha lebih giat untuk membuat judul ini. Sebab, itu pintu bagi seorang pembaca.

Untuk membuat judul, kita mungkin meminjam frase kalimat dari karya sastra terkenal. Namun, pastikan itu bisa menyuarakan frase kalimat dan kerja kita sendiri. Atau buat frase kalimat sendiri yang menyimpulkan isi cerita keseluruhan. Mungkin itu bisa berupa nama karakter, lokasi atau waktu yang digunakan dalam cerita tersebut.

Judul menarik mata pembaca. Dan banyak judul muncul di pikiran pengarang jauh setelah menata tulisan. Saat penulis bisa menjadi pembaca sendiri. Pilih dengan bijaksana dan tepat. (Bagus Priambodo/Sumber narasi: Buku “Creative Writing” oleh David Morley/foto ilustrasi dipenuhi melalui Google image)

 

Tags: