IKM Hargai Diferensiasi Siswa, Memerdekakan Guru & Belajar jadi Menyenangkan

Redaksi 05 Agustus 2022

Pada apel pagi Senin lalu (1/8/2022), Plt. Kepala BBPMP Provinsi Jawa Timur, Dr. Rizqi berpesan, kunjungan-kunjungan kerja atau pengawalan terkait IKM sudah bukan lagi melulu mengenai adoption rate PMM. Namun juga harus bisa memastikan, salah satunya terjadinya pembelajaran yang menyenangkan berdiferensiasi di sekolah
 
Mari kita fokus sejenak ke kata 'berdiferensiasi'  di atas tadi.
 
Tiap anak faktanya memang tidak sama alias berdeda. Ada yang hebat dalam kuliner, tertarik pada sains. Ada juga yang sejak dini suka dengan angka-angka (matematika).
 
Anak yang lain mudah belajar bahasa asing hanya melalui you tube, film dan podcast.
 
Kita pasti juga pernah melihat anak-anak yang tanpa les tiba-tiba mampu bernyanyi bak penyanyi profesional, vibrasinya muncul dengan alami, dan berbagai kemampuan lain sesuai bidang mereka masing-masing
 
Hal tadi sesungguhnya sinyal yang sangat jelas bagi kita semua termasuk pendidik, diferensiasi telah ada sejak mereka berusia dini.
 
Tidak jarang saat ditanya, orang tuanya bingung, jawaban mereka biasanya, tidak ikut les, tidak pernah mengajari anak-anaknya, tapi bisa dengan sendirinya
 
Contoh lain saat belajar tentang makhluk hdup di sekitar kita. Seorang anak mungkin mudah hanya belajar melalui membaca teks di buku atau media elektronik
 
Namun anak yang lain, bisa jadi dapat menyerap secara maksimal pengetahuan tersebut dengan bermain bersama hewan peliharaannya di rumah, seperti kucing, hamster, kelinci dan lain-lain sembari merawatnya
 
Mungkin sambil memberinya makan, minum, memandikannya dan aktivitas lain yang membuat si anak dan hewan peliharaannya tidak stress
 
Di sinilah Kurikulum Merdeka hadir memperkuat pelaksanaan Merdeka Belajar saat ini. Masa dimana diferensiasi justru dikuatkan dan diutamakan daripada memaksakan penyamarataan ke cara belajar dan penguasaan anak didik ke materi pembelajaran
 
Ingin tahu lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi? Baca Leading and Managing A Differentiated Classroom by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau dan terjemahannya di sini
 
Unduh SE Mendikbudristek No 7 Th 2022 ttg Diskresi SKB 4 Menteri ttg Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 di sini
 
 
Kurikulum ini membuka cakralawa kita semua bahwa anak-anak tidak harus sama. Mereka mempunyai kelebihan, keunikan dan kekurangannya masing-masing
 
Mereka belajar sesuai kebutuhan tanpa meninggalkan enam dimensi dalam profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif
 
Maka harus ada solusi untuk itu, salah satunya kurikulum yang mampu memfasilitasi berbagai perbedaan tadi, diantaranya dengan mempersembahkan ke mereka sebuah kurikulum yang tidak membuat praktik pembelajaran makin rumit. Tetapi justru membuat pembelajaran yang jadi makin menyenangkan, terkait erat dengan kemampuan esensial yang harus mereka kuasai di keseharian dan masa depan mereka, berparadigma baru dengan mengakui adanya perbedaan atau diferensiasi di dalam diri mereka.
 
Sehingga pendekatan-pendekatannya pun memiliki perbedaan atau berdiferensiasi
 
Jika dalam kurikulum 2013 lebih fokus pada kognitif yaitu capaian nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang menjadi angka kualitatif sehingga membelenggu guru, tetapi di Kurikulum Merdeka para guru diarahkan kepada pembentukan karakter yang lebih riil.
 
Dengan Kurikulum ini guru dapat memilih format, cara, materi esensial, dan pengalaman apa yang ingin diajarkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
 
Bagi siswa, Kurikulum Merdeka dapat mengeksplorasi potensi unik setiap individu yang selama ini terkungkung dengan materi.
 
Siswa bisa mengeksplor seluruh potensi dirinya melalui pengalaman berbagai cara, misalnya bagaimana merespons lingkungan di sekitarnya dan lain sebagainya
 
Kurikulum ini juga menghargai pencapaian setiap siswa.
 
Sekali lagi, setiap anak itu berbeda, sekalipun anak kembar pasti mempunyai karakter yang berbeda.
 
Di Jawa Timur, tiga UPT Kemendikbudristek yaitu BBGP (Balai Besar Guru Penggerak) Provinsi Jawa Timur dan BBPMPVBOE (Balai Besar Pengembangan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika) saling berkolaborasi mengupayakan pemda (pemerintah daerah) mendorong lebih keras lagi sekolah penggerak, guru maupun kepala sekolah di Jawa Timur (di wilayah tugasnya masing-masing) menggunakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) untuk mempermudah mereka memahami dan mengimplementsikan Kurikulum Merdeka di satuan pendidikannya masing-masing
 
Mengapa PMM?
 
Singkatnya, PMM menyediakan referensi bagi guru untuk mengembangkan praktik mengajar sesuai dengan Kurikulum Merdeka.
 
Dengan menggunakan platform tersebut, guru memiliki kesempatan yang setara untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya kapan pun dan di mana pun, sekaligus berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama rekan guru.
 
Untuk mendukung hal tadi, BBPMP Provinsi Jawa Timur, BBGP Provinsi Jawa Timur dan BBPMPVBOE mendorong juga terbentuknya komunitas belajar di sekolah-sekolah yang secara mandiri telah mendaftar IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) apa pun kategorinya, baik mandiri belajar, mandiri berubah maupun mandiri berbagi.
 
Selain bersinergi dengan pemda (pemerintah daerah), ketiga UPT tersebut juga menjalin kemitraan dengan mitra-mitra pembangunan di Jawa Timur dalam membangun inovasi dan transformasi pendidikan di Jawa Timur melalui pemanfaatan PMM dan pengimplementasian Kurikulum Merdeka di satuan-satuan pendidikan
 
Maka, tidak tepat jika Kurikulum Merdeka dimaknai sebagai ganti judul atau ganti dokumen.
 
Implementasian Kurikulum Merdeka harus dimaknai sebagai transformasi pembelajaran yang bertujuan mengubah cara pembelajaran supaya lebih efektif dan memerdekakan guru.
 
Ingat! Cara mengajar adalah area kreatif guru yang tidak boleh dijajah, dibelenggu, dan diikat oleh aturan-aturan yang mempersulit.
 
"Hai Pendidikan di Indonesia, time to wake up, and give it a try!" (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: