Hasil UN untuk Pemetaan Kualitas Pendidikan

Redaksi 31 Maret 2019

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, hasil ujian nasional (UN) digunakan untuk pemetaan kualitas pendidikan secara nasional. Salah satunya untuk menggali motivasi intrinsik siswa. Selain itu juga untuk mengetahui kemampuan sebenarnya seorang siswa tanpa adanya paksaan.

“Kemampuan anak yang tidak dirangsang dengan berbagai macam iming-iming itu bisa dilihat,” kata Mendikbud saat menghadiri pembukaan Jambore Pandu Sekolah Model di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (LPMP Jatim), Rabu (20/3/2019).

Melalui Metode UN, Kemendikbud dapat mengetahui pemetaan kemampuan yang sesungguhnya di lapangan. Apakah standarnya tercapai atau tidak?

Hasil pemetaan ini dapat menjadi dasar perlakuan seperti apa untuk memperbaiki kualitas siswa dan sekolah yang masih ada kekurangan. Dengan adanya perbaikan, kualitas pendidikan dapat ditingkatkan secara merata.

“Misalnya sekarang kan sudah ditetapkan hasil matematika itu. Nah, pemetaan kualitas sekolah-sekolah di daerah terkait matematika jadi bisa diketahui,” terangnya.

Setelah pelaksanaan UN, Kemendikbud akan memberikan rapor UN kepada guru, kepala sekolah dan dinas. Melalui rapor tersebut, sekolah bisa mengetahui kondisi sebenarnya di institusinya, termasuk kompetensi guru.

Selain itu, mulai 2019 ini peserta UN harus mengisi angket kesejahteraan yang disisipkan di soal UN. Angket kesejahteraan ini mengikuti contoh yang dilakukan oleh tes PISA (Program Asesmen Siswa Internasional).

Dengan angket itu, diharapkan pemerintah bisa mengetahui informasi nonkognitif siswa yang sebenarnya. Selanjutnya, data akan menjadi dasar kajian tingkat kesejahteraan siswa untuk memahami faktor-faktor yang membantu mendukung siswa dalam memahami pembelajaran.

Terdapat lima jenis angket siswa dimana setiap siswa hanya mengerjakan satu jenis angket dan dikerjakan setelah selesai melaksanakan UN. Hasil angket tidak akan memengaruhi nilai ujian. Namun, data akan diberikan kepada sekolah sebagai masukan untuk memastikan segala dukungan ilmiah dan moral bagi siswa terpenuhi. (Bagus Priambodo)

Tags: