Guru Sebagai Pemain Utama di Implementasi Kurikulum Merdeka

Redaksi 11 Agustus 2022

Ada perbedaan mendasar antara Kurikulum 2013 (K13) dengan Kurikulum Merdeka yang kini mulai diaplikasikan di sekolah-sekolah.
 
Kurikulum 2013 disiapkan dari atas ke bawah, artinya dari nasional turun ke tingkat sekolah-sekolah dengan ditandai adanya narasumber nasional, instruktur provinsi, instruktur kabupaten, baru sampai ke guru-guru. Sementara, Kurikulum Merdeka, kekuatan terbesar ada di tingkat guru. Dalam artian pemain utamanya adalah guru.   
 
Hal ini diungkapkan Purwanto, SKom, MPd, Fasilitator Implementasi Kurikulum Merdeka dan praktisi pendidikan saat menjadi narasumber webinar Asesmen di Awal Pembelajaran (Diagnostik) yang digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur, pada Rabu lalu (10/8/2022).
 
Menurut Purwanto, dengan konteks ini lah, bukan saatnya kini guru harus menunggu aba-aba dari atas (pemerintah pusat) untuk mengikuti kegiatan belajar atau workshop tentang pendidikan.
 
Hal ini bisa dimungkinkan karena di Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang dibuat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), semua itu bisa dilakukan.
 
“Kalau kita belajar Kurikulum Merdeka ini harusnya lebih baik, daripada belajar diperintah, dipaksa mengikuti atasan,” katanya.
 
Purwanto lalu menganalogikan telur saat mau menetas, “Bila memecah kulitnya dengan dipukul orang dari luar telur, makhluk hidup yang ada di dalamnya akan mati. Tapi, jika pecah secara natural dari dalam akan ada harapan kehidupan baru yang muncul,” ujar Purwanto.
 
Ingin tahu lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi? Baca Leading and Managing A Differentiated Classroom by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau dan terjemahannya di sini
 
Simak juga webinar berikut:
 
 
 
Materi webinar dan contoh format asesmen di awal pembelajaran menggunakan google form (tidak perlu diisi) :
-  Unduh materi di sini
- Gaya belajar dengan link: https://forms.gle/CZgP5eT4mGburXpw9
- Asesmen diagnostik non kognitif : https://forms.gle/evUSDp5ZwXX3GrhY8
- Asesmen diagnostik kognitif: https://forms.gle/cEFyRi3AVEt2xQHf6
 
Dikatakan Purwanto, di Platform Merdeka Mengajar semuanya sudah lengkap dan relatif mudah dioperasikan baik melalui telepon genggam (HP) atau laptop.
 
“Intinya bisa mengajar, belajar, berbagi karya di Platform Merdeka Mengajar ini atau all in one,” sebut Purwanto.
 
Dijelaskan Purwanto, Platform Merdeka Mengajar ini bisa diakses melalui dua cara, yakni dari browser dengan menuliskan alamat ke link guru.kemdikbud.go.id. Bisa juga diakses dengan menginstal Platform Merdeka Mengajar di playstore android.
 
Ada dua kelompok fitur di PMM yang bisa dibuka tanpa login dan harus login lebih dahulu menggunakan akun belajar.id.
 
“Dipastikan dahulu kepala sekolah, guru, tenaga pendidikan sudah punya akun belajar.id. Setelah itu diaktivasi dan jangan lupa passwordnya,” sebut Purwanto.
 
Bagaimana jika belum punya akun seperti guru baru?
 
Purwanto mempersilahkan untuk menghubungi operator masing-masing sekolah karena. nantinya akan ada waktu gradual untuk penerbitan akun belajar.id yang baru.
 
Lalu, bagaimana jika ada perpindahan guru dari satu sekolah ke sekolah lain?
 
Dijelaskan Purwanto, jika kendala menggunakan akun belajar.id itu hanya di level sekolah, maka penanganan cukup di operator sekolah. Namun, jika permasalahannya antar sekolah seperti adanya mutasi guru, maka bisa menghubungi admin dinas pendidikan kabupaten/kota yang mempunyai akses untuk melakukan alih akun.
 
Di webinar ini Purwanto menjabarkan masing-masinng fitur yang ada di Platform Merdeka Mengajar, seperti fitur Perangkat Ajar yang menyediakan lebih dari 2.000 referensi perangkat ajat berupa RPP, bahan ajar, modul proyek, buku siswa dan asesmen.
 
Sementara untuk fitur Pelatihan Mandiri akan merekam aktivitas dari masing-masing satuan pendidikan yang terdaftar.
 
Purwanto mengingatkan masing-masing sekolah untuk aktif mengikuti pelatihan mandiri karena nantinya akan ada raport grafik berwarna merah, kuning, orange, hijau hingga biru untuk masing-masing satuan pendidikan.
 
Warna-warna  itu menggambarkan tingkat kedalaman memanfaatkan platform dan progresnya. Bagi yang masih merah menandakan bahwa  belum ada satupun di satuan pendidikan atau lembaga tersebut yang login di Platform Merdeka Mengajar.
 
Sementara untuk warna biru adalah level atas yang berarti minimal ada satu guru yang login,  sudah mengikuti pelatihan, menyelesaian modul, mengikuti latihan pemahaman, mengirim cerita refleksi dan melakukan aksi nyata menguplod tugas.
 
“Dipastikan akhir cerita pemanfaatan Platform Merdeka  Mengajar mayoritas sudah mengikuti pelatihan-pelatihan mandiri,” seru Purwanto.
 
“Kurikulum merdeka akan menjadi judul yang sia-sia ketika bapak ibu hanya menjalankan saja.
 
Kurikulum ini akan berhasil jika bapak ibu punya inner kuat untuk belajar, untuk berubah menjadi lebih baik,” tegas Purwanto. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: