Guru Penggerak Diciptakan, Bukan Dilahirkan

Redaksi 04 Maret 2020

Dalam kerangka kebijakan merdeka belajar yang dicanangkan Mendikbud RI Nadiem Makarim, salah satu elemen penting yang harus ada di sekolah adalah guru-guru hebat yang dijuluki sebagai guru-guru penggerak. Menurut Mendikbud, salah satu ciri guru penggerak adalah berani membuat terobosan-terobosan dalam budaya mengajar di sekolah. Seringkali mereka sengaja keluar dari tradisi di sekolah dan mencoba strategi-strategi baru dalam memberikan pengajaran. Ciri-ciri lainnya, guru penggerak adalah guru yang berjiwa Indonesia,  bernalar, pembelajar, profesional, dan berhamba pada anak.

Guru-guru penggerak seperti itu sejatinya bisa diciptakan. Selain lewat kebebasan yang luas yang diberikan oleh kepala sekolah, penciptaan guru-guru penggerak bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelum sosok tersebut menginjakkan kaki di sekolah. Ya, sosok-sosok seperti ini bisa diciptakan lewat pendidikan guru yang inovatif dan berkualitas. 

Pertanyaannya, pendidikan guru seperti apa yang dapat melahirkan guru-guru penggerak?

Dikutip dari artikel berjudul Leading Teacher Education Program 2020 yang dimuat di Newsweek, program studi yang baik di sekolah-sekolah pendidikan akan memberikan keluaran yang luar biasa dalam karir guru. Dari sejumlah contoh sekolah pendidikan yang ditunjukkan di artikel tersebut, dapat dirangkum beberapa output yang dapat dihasilkan dari sekolah pendidikan yang mendorong munculnya karakter guru penggerak. 

Di antaranya, lulusan sekolah pendidikan tersebut harus mampu membuat rencana pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan tahap perkembangan para siswa serta mampu mengelola kelas yang dapat menguntungkan siswa secara individual. Untuk mewujudkan keterampilan-keterampilan itu, sekolah untuk guru pertama-tama harus memampukan para calon guru untuk percaya diri dan cepat connect dengan kelas yang dipimpin.

Bagaimana di Indonesia? Sudahkah kita menciptakan profil guru-guru yang demikian? 

Faktanya, berdasarkan skor Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) sekolah 2018, terungkap bahwa guru, kepala sekolah, serta tenaga kependidikan masih merupakan salah satu titik lemah dalam pendidikan di Indonesia. Rapor Pemetaan Mutu Pendidik (PMP) 2018 yang dipublikasikan pada 2019 memperlihatkan, skor indikator Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang terendah adalah di SD, SMP, dan SMA, serta terendah kedua di SMK. 

Fakta lainnya, berdasarkan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 yang diselenggarakan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan, rata-rata hasil UKG secara nasional adalah 56,69. Angka ini, masih jauh dari ideal. Padahal, tiap tahun Kemdikbud juga rajin menggelar pelatihan bagi guru, meski jumlah pesertanya tiap tahun selalu dalam tren yang naik turun. 

Meski menyedihkan, namun angka-angka itu adalah gambaran masa lalu. Setidaknya, kita masih punya banyak harapan dan mimpi yang bisa dijangkau untuk mewujudkan gambaran masa depan yang lebih cerah. 

Sebab itu, Kemdikbud berinisiatif untuk membangun jejaring dengan berbagai pihak di luar pemerintahan untuk membantu menciptakan profil-profil guru dan sekolah berkualitas. Salah satunya, Kemdikbud mengajak organisasi masyarakat yang punya concern di bidang pendidikan untuk berkontribusi mewujudkan sekolah penggerak lewat program Organisasi Penggerak. 

Menurut Supriano, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Plt.Dirjen GTK) di Jakarta, Senin (02/03/2020), organisasi masyarakat yang terlibat dalam program organisasi penggerak diharapkan dapat membantu memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah yang ujungnya dapat berdampak terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Nantinya, organisasi masyarakat yang terpilih akan menyelenggarakan program rintisan peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah di bidang literasi serta numerasi mulai 2020 hingga 2022 pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), SD, dan SMP. Target di tahap awal tersebut, kompetensi 50 ribu kepala sekolah dan 5 ribu guru PAUD, SD, serta SMP dapat ditingkatkan. 

Selain pelibatan organisasi masyarakat, strategi yang sudah dicanangkan oleh Kemdikbud adalah menghadirkan pusat transformasi pendidikan guru yang menjadi Center of Excellence (CoE) dan mengusung misi untuk membangun ekosistem belajar yang berdaya, aktif, inklusif, dan inovatif untuk pendidikan guru dari hulu ke hilir. 

Selain melibatkan pemerintah dan organisasi masyarakat, pusat transformasi pendidikan guru ini juga melibatkan lembaga penelitian dan pelatihan, industri, perusahaan, serta profesional-profesional lain yang relevan.  Untuk mendorong fungsinya secara maksimal hingga ke daerah-daerah, Pusat transformasi pendidikan guru ini idealnya ada di setiap provinsi dan dipimpin oleh profesional pendidikan yang berkualitas.

Semua ini tentu saja adalah ikhtiar. Ikthiar ini tidak mungkin dapat terwujud apabila tidak ada kemauan untuk bergerak bersama demi menciptakan sosok-sosok guru penggerak berkualitas yang akan menjadi kunci untuk melahirkan generasi emas di masa mendatang.  Sekali lagi, guru penggerak bukan lahir begitu saja. Mereka diciptakan dan diadakan. Maka mari jadi bagian dalam menciptakan sosok-sosok tersebut.  (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: