Guru Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0

Redaksi 10 September 2019

Peningkatan mutu pendidikan tidak berpatokan pada bagaimana kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilaksanakan di lapangan semata. Pelaku pendidikan seperti guru juga berperan besar sebagai penentu kualitas pendidikan yang bagus.

Profil guru profesional semestinya dimiliki setiap pengajar di negara ini. Namun, tentu saja itu perlu upaya besar untuk mewujudkannya.

“Guru bukan sekadar pengajar saja melainkan juga menjadi pihak yang mampu menghubungkan sekolah dengan pihak luar,” ujar Dr Bambang Agus Susetyo MM MPd, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (yang saat ini menjabat sebagai Plt. Kepala LPMP Jatim), pada seminar nasional di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) beberapa waktu lalu, tepatnya Kamis (29/8/2019).

Kecakapan guru dalam mengajar setidaknya berpegang pada keterampilan 4C yaitu communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi), critical thinking (berpikir kritis), dan creativity (kreativitas). Berbicara tentang kreativitas, tanpa ada hasil akhir, usaha keras akan sia-sia.

“Kreativitas ini berkenaan dengan siapa melakukan apa dan hasilnya apa. Tanpa hasil, kreativitas tidak ada makna,” jelas Bambang.

Hasil akhir merupakan parameter kreativitas. Otak manusia dapat distimulasi untuk melakukan berbagai macam aktivitas yang mendorong diri kita menjadi orang berkemampuan maksimal.

Bambang kemudian memberikan contoh pengalamannya ketika berbincang dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Saat ditanya apa konsep keberhasilannya? Jawabannya, karena berpedoman pada pengalaman, pengalaman, dan pengalaman,” tuturnya.

Sepatutnya manusia belajar dari pengalaman orang lain untuk membuat suatu ide baru dengan memperbaiki kesalahan di masa lalu. Belajar pengalaman dari orang lain membuat seseorang lebih mawas diri, membuat suatu terobosan baru, dan menjadi orang hebat. Jika tidak belajar dari hal itu, usaha akan menjadi tidak bermakna.

Di sisi lain, rasa percaya diri juga sangat penting dimiliki seorang guru. Mereka yang tidak percaya diri, maka tidak akan ada keberhasilan.

“Bahkan, dari 4C itu bisa ditambahkan satu C lagi yaitu Courage atau keberanian. Mereka yang berani dan percaya diri, pasti bakal menjadi orang berhasil,” saran Bambang pada Seminar Nasional Pendidikan dan Pembelajaran 2019 bertema Reorientasi Profesionalisme Pendidik dalam Menyikapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

Guru yang mempunyai kemampuan menulis, maka belajarlah menulis yang baik. Tuangkan semua ide yang ada di kepala ke dalam bentuk kalimat sehingga orang lain dapat belajar hal baru dari sana.

Bambang kemudian memaparkan buku berjudul “Sutradara Pendidikan” yang telah disusunnya. Isi buku terbitan PT Elex Media Komputindo (Gramedia Group) ini adalah mengenai penjaminan mutu pendidikan.

Empat kompetensi guru

Bukan hal mudah memang untuk menata diri sehingga menjadi guru profesional yang memenuhi kualifikasi akademik dan mempunyai sertifikat sebagai pendidik. Guru semestinya memenuhi empat standar kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Terutama di masa revolusi industri 4.0 yaitu tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber.

Siswa yang termasuk dalam kaum milineal yang hidup di ekosistem digital sudah terbiasa dengan teknologi informasi dan komunikasi. Budaya digital sudah menjadi bagian utama kehidupan mereka.

Semua sumber informasi terbuka dan mudah diakses. Siswa terbiasa mencari informasi di internet, serta bekerja tim menjadi model belajar utama mereka.

Maka, guru pun dituntut menjadi kreatif dengan penggunaan internet di kelas. Classroom learning yang dulu biasa dilakukan seorang guru sekarang diubah blended learning yang menggabungkan pengajaran langsung (face-to-face) dan e-learning.

Pada konsep e-learning, siswa dapat belajar sendiri memakai laptop, komputer, atau ponselnya. Namun, tentu saja penggunaan ponsel di luar kelas perlu terus dipantau.

“Ponsel memang perlu, kemajuan teknologi perlu diterapkan, tetapi tetap harus dikontrol,” tegas Bambang.

Di samping itu, cara penyampaian guru ketika di kelas juga menjadi hal penting untuk diperhatikan. Siswa tidak akan mencerna materi pelajaran dengan baik jika diajar guru yang kurang menyenangkan.

Gaya bicara ramah dan mampu berdialog dengan nuansa humor saja kurang cukup untuk menjadi pengajar yang baik. Gesture atau gerak tubuh juga penting. Guru tidak boleh merengut wajahnya, tampil ramah dan mudah diajak berkomunikasi akan membuat siswa menjadi senang. Kelas yang sehat kelak menghasilkan siswa yang sehat dan berbakat pula. (Bagus Priambodo)

Tags: