Guru-guru di Jatim Didorong Makin Masif Memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar

Redaksi 15 Agustus 2022

Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur mendorong para guru di Jawa Timur semakin aktif memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar atau PMM.
 
Platform Merdeka Mengajar adalah salah satu bentuk dukungan Kemendikbudristek untuk mewujudkan kurikulum merdeka. 
 
Dengan platform ini, Kemendikbudristek sejatinya ingin setiap guru dan kepala sekolah yang telah siap menjalankan kurikulum merdeka, dapat menikmati kesempatan pelatihan yang sama dengan kualitas yang sama.

Sayangnya, di Jawa Timur, pemanfaatan PMM oleh para guru masih belum cukup masif.

Hal ini dikatakan Dra.Tatik Dwi Suswati MPd  yang mewakili Plt. Kepala BBPMP Provinsi Jawa Timur saat membuka webinar series bertajuk Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Sukseskan Implementasi Kurikulum Merdeka beberapa waktu lalu (Jumat, 12/8/2022).

Tatik mengatakan, Kemendikbud Ristek secara periodik memantau pemanfaatan PMM untuk pembentukan komunitas belajar. 
 
Namun menurut laporan terakhir, Jawa Timur terbilang belum maksimal dalam pemanfaatan PMM dan pembentukan komunitas belajar.

"Dari sekitar 25 ribu sekolah, baru 533 yang memanfaatkan komunitas belajar atau mendaftarkan diri dalam komunitas belajar," katanya.

Seharusnya, tidak sulit bagi para guru untuk memanfaatkan PMM karena bisa diakses dari mana saja dengan mengunduh aplikasi Merdeka Mengajar yang telah tersedia di Google Play Store atau melalui laman guru.kemdikbud.go.id.
 
Ingin tahu lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi? Baca Leading and Managing A Differentiated Classroom by Carol Ann Tomlinson and Marcia B. Imbeau dan terjemahannya di sini
 
Simak juga webinar berikut:
 
 

Di Platform Merdeka Belajar, para guru dan kepala sekolah dapat menikmati beberapa fitur. Salah satunya komunitas belajar.

Para guru dapat mendiskusikan serta menyelesaikan berbagai masalah pembelajaran yang dihadapi saat implementasi Kurikulum Merdeka, berbagi praktik baik, sekaligus mengkonfirmasi pemahaman mereka.
 
Komunitas belajar ini diharapkan bersifat inklusif. Maksudnya, guru atau kepala sekolah dari manapun bisa bergabung. Misalnya, dari berbagai kategori Implementasi Kurikulum Merdeka, sekolah penggerak, atau satuan pendidikan yang menerapkan kurikulum 13.

Komunitas-komunitas ini pun tak harus komunitas yang baru. Sebaliknya, sangat disarankan untuk menghidupkan kembali komunitas-komunitas yang sudah ada sebelumnya. Komunitas ini bisa dalam satuan pendidikan yang sama maupun antar satuan pendidikan, serta bisa berwujud komunitas belajar daring.

Di sana para guru juga bisa menggelar lokakarya. Misalnya membuat atau memodifikasi modul ajar, modul project, strategi pembelajaran terdiferensiasi, asesmen, dan lain sebagainya. 
 
Untuk kegiatan lokakarya ini, bisa menggunakan tutorial yang ada di Platform Merdeka Mengajar, maupun contoh praktik baik atau inspirasi yang diberikan oleh pusat atau narasumber.

Selain itu para guru juga bisa berbagi praktik baik dan mencari solusi pembelajaran, termasuk dengan mendatangkan narasumber yang bisa berasal dari sekolah penggerak, SMK PK, atau sekolah IKM mandiri yang telah memiliki praktik baik.

Tatik berharap, para guru mengakses PMM tidak hanya untuk melihat-lihat, tetapi juga memanfaatkan semua fitur di dalamnya.

"Nanti bisa menggunakan platform merdeka mengajar untuk segala aktivitas, mulai dari bagaimana menyusun perangkat ajar, bisa ambil perangkat ajar untuk contoh dan inspirasi, termasuk bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran, ada video-video inspiratif, dan bagaimana berbagi karya kepada guru-guru lain," tuturnya.

"Tapi yang terpenting menindaklanjuti. Kalau sudah masuk PMM, tidak hanya sekedar masuk dan melihat, tapi memanfaatkan sampai tuntas. Sehingga bisa menambah pemahaman dan pengetahuan, juga untuk rapor sekolah, supaya rapor sekolah di PMM itu bisa menjadi biru," pungkasnya. (Bagus Priambodo/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Tags: