Guru Boleh Membuat Buku Tematik Sendiri

Redaksi 01 Juli 2020

Surabaya - Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem A Makarim telah mendorong munculnya guru-guru penggerak yang inovatif dan kreatif. Di tengah pandemi Covid-19 yang menuntut terobosan-terobosan baru dalam pembelajaran, sosok-sosok seperti itu semakin diperlukan. Para guru pun diberi keleluasaan untuk tidak lagi menggunakan metode-metode atau praktik-praktik yang lazim, selama praktik pembelajaran itu dapat efektif dan efisien. Termasuk di antaranya adalah dengan tidak menggunakan buku-buku guru tematik.

Hal itu seperti ditegaskan Dr. Dwi Ilham Raharjo M.Pd, Widyaiswara di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur. Pernyataan itu dia buat saat menjawab pertanyaan guru yang menjadi peserta kegiatan Bimtek Perencanaan Pembelajaran Berbasis HOTS yang digelar oleh LPMP Jatim secara daring beberapa waktu lalu, Selasa (16/6/2020)

*Info & berita terkait: Ikhtiar Membuat Guru SD Makin HOTSBimtek Perencanaan Pembelajaran yang HOTS5 Kompetensi Wajib Guru di Pembelajaran New NormalGuru Tidak Mengajar Sendiri di Kala PandemiMengembangkan Karakter Anak lewat Penilaian SikapMengenal HOTS dan Rencana Pembelajarannya Guru Belajar Susun Soal HOTS dan Beri Penilaian

*Silahkan unduh (download) materi 1materi 2 & materi 3

“Selama masa pandemi, dan sebenarnya ketika tidak ada pandemi sekalipun, guru tidak harus memakai buku-buku tematik. Buku-buku itu jangan dianggap sebagai kitab suci,” kata Ilham.

Ilham menyebutkan, satu model pembelajaran tidak selalu efektif diterapkan di seluruh Indonesia. Pasalnya, kondisi di setiap daerah dan setiap sekolah tentu berbeda.

“Akhirnya kalau demikian, para guru terjajah. Mereka melakukan pemetaan berdasarkan buku guru, penilain pun demikian,” tambahnya.

Sebaliknya, Ilham mendorong agar para guru berani membuat buku tematik versi pemetaan sendiri. Kata dia, praktik serupa sudah pernah dijalankan oleh beberapa guru.

“Ada guru di Kalimantan yang membuat versi tematik pemetaan sendiri. Contohnya, kelas 5 yang  dalam buku tematik ada 9 tema, oleh yang bersangkutan diringkas menjadi 5 tema,” tuturnya.  

Demikian juga dalam hal menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), para guru sebaiknya membuat RPP yang beragam karena siswa memiliki bakat yang berbeda-beda.

Dia lantas mencontohkan, dalam sebuah kelas tentu ada anak yang memiliki kemampuan linguistik bagus tetapi kemampuan matematikanya lemah.

“Maka RPP dan Kompetensi Dasar (KD) tidak masalah berbeda-beda untuk tiap siswa. Sehingga, ada banyak ragam aktivitas siswa. Nanti tentu saja jadi macam-macam materinya,” pungkasnya.  (Bagus Priambodo/Judul asli berita: Sesuaikan Kebutuhan Siswa, Guru Boleh Membuat Buku Tematik Sendiri/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Foto Dokumentasi Kegiatan LPMP Jawa Timur)

Tags: